Senin, 08 Februari 2016

Awam

Bak de javu, saya tiba-tiba diminta Ayah menanggapi artikel hebat terbitan Kompas dari tuangan Prof. Rhenald, Guru Besar Ilmu Manajemen FE UI, berikut.

Saya, sebagai seorang awam yang hanya memerhatikan berita di berbagai media cetak dan elektronik, dapat merasakan betapa dahsyatnya gejala "Sudden Shift" tersebut.

Mari kita luangkan waktu sejenak ke masa lampau. Kursi RI 1 masih diperebutkan dan menjadi persaingan terpanas sepanjang sejarah demokrasi Indonesia. Keduanya sama-sama memiliki potensi yang kuat untuk memimpin Indonesia. Namun, saya lebih tertarik membahas "Sang Pemenang". 

Tentu seluruh masyarakat Indonesia tidak asing dengan slogannya, Revolusi Mental. Hal ini yang selalu membuat saya penasaran. Apa sebenarnya maksud "Sang Pemenang" memilih slogan ini dibanding slogan lain yang lebih spesifik dan efektif? Setelah ditelaah, sebenarnya slogan Revolusi Mental tidak sesederhana yang dibayangkan. Banyak hal yang "diserempet". Dulu, sebagai siswi SMA yang masih lugu, saya menganggap slogan ini hanya membahas mengenai pendidikan dan sedikit politik serta ekonomi. Pendidikan. Mencetak generasi muda yang jujur dengan kemampuan baik serta akhlak mulia dengan harapan Indonesia mampu memenangi perang terhadap KKN. Politik dan ekonomi juga tidak lagi jauh dengan isu ekonomi. Ternyata, pandangan itu masih terlalu sempit dan pendek.

Setelah beliau menang, saya makin bisa merasakan apa itu revolusi. Bukan revolusi berbentuk fisik dengan berbagai aksi anarkisme dan lain sebagainya, tetapi bentuk revolusi yang cerdas, revolusi sudut pandang, memengaruhi siapa saja dengan hati nurani yang masih tersisa. 

Awalnya, saya sempat kesal dengan kenyataan Rupiah melemah. Tapi, saya belum cukup apatis hanya dengan kenaikan sekian. Tetapi, justru makin lemah, setiap pagi Rupiah semakin lemah hingga titik terlemahnya. Hampir semua media cetak memuat headline dengan isu yang sama. Sempat penyesalan terbersit, alasan apa yang pantas untuk menjelaskan fenomena ini? Tak hanya itu, sebelumnya subsidi BBM dipangkas. Para kaum menengah kebawah semakin terhimpit dan pekik protes tidak puas. Belum lagi isu kereta penuh pro kontra. 

Si "Revolusi Mental" semakin tidak terasa saat mulai gemparnya pelemahan fungsi KPK, ketegangan internal DPR, dan banyak hal lain yang datang bertubi-tubi dan tanpa henti. Kriminalitas tinggi disusul dengan semakin apatisnya masyarakat terhadap pemerintah.

Tapi kemudian, seperti kata pepatah klasik, every cloud has a silver lining, yap. Rupiah sedikit demi sedikit mulai menguat, IHSG yang memperlihatkan pemandangan hijau dengan panah keatas yang begitu indah, disusul dengan turunnya harga minyak dunia yang lambat namun pasti juga terus menurun membuat pemangkasan subsidi BBM semakin tidak terasa. Masyarakat juga sedikit demi sedikit mulai "percaya" dengan pemerintah. 

Mari kita lompat dari topik sejenak. 

"Revolusi Mental" mendadak mulai jelas tercium. Terlepas dari komplikasi masalah diatas, kita mulai dari aparat penegak hukum. Image Polisi dimata masyarakat sudah mulai berubah. Seakan sosok Polisi, sarapan, makan siang dari jalanan, atau penuhnya saku-saku di pakaian seragam mereka dengan uang mulia, sudah lenyap, sirna seketika, hanya tersisa Polisi humanis, peduli, cepat, dan hati-hati. Prestasi ini juga tidak terlepas dari peran pers sebagai "pencuci otak" atau semacam "pengaruh terbesar" logika masyarakat. 

Semakin bebas pers memberikan informasi, akan juga semakin cerdas masyarakatnya.

Mari kita bahas kekacauan sebelumnya. 

BBM dipangkas subsidinya. Ini masih bisa masuk dinalar. Kalau pemerintah harus terus menerus membayar biaya subsidi yang sejak awal tidak tepat sasaran ini, kapan kita bisa menabung untuk pembangunan jangka panjang lainnya? Belum lagi sebenarnya BBM yang disubsidi tidak lebih dari sampah karena pada akhirnya merusak polusi dan menurunkan purna jual kendaraan bermotor yang menggunakan. Isu ini memang isu kuno, tapi sebentar lagi akan terasa seperti isu kemarin sore. 

Kemudian masalah internal DPR. Kedua kubu sudah mulai melebur. Sifat adhesi keduanya dulu sangat tinggi, sedangkan saat ini sudah mulai bermunculan sikap jumawa dan saling gotong royong karena sepertinya mulai lelah terus menerus dalam situasi tegang sementara negara dalam keadaan terhimpit. Entah negara yang terhimpit, atau rumah sendiri. dunno

Kenapa Rupiah bisa melemah? Karena saya memang benar-benar awam tentang ekonomi, saya tidak akan banyak komentar. Tetapi, sejak awal Rupiah melemah, saya berpendapat ini terlihat seperti imbas dari kekuasaan kemarin. Saya yakin sejak awal, situasi seperti ini hanya akan terjadi sementara. Kenapa Rupiah melemah, tetapi muncul juga wajah lain Indonesia yang lantang menyatakan "Indonesia menghadapi MEA 2015"? Banyak perusahaan asing besar yang hengkang dan banyak perusahaan minyak dan batubara di luaran sana memilih untuk melakukan PHK demi meng-handle kerugian akibat minyak turun, imbas dari tereksplornya sumber gas yang lebih murah. Apa sebenarnya maksud dari kedua keadaan yang sangat kontras ini? Dari sini, saya yakin sebenarnya Indonesia baik-baik saja. 

Singkat kata. Revolusi Mental sebenarnya bersifat menyeluruh, tetapi lebih menjurus ke generasi muda. 

Jika sebuah negara berkembang akan "naik kelas", salah satu aturan main yang harus terpenuhi adalah presentase enterpreneur di negara tersebut dengan angka minimal 2%. Bahasan angka minimal itu ada disini! Pertanyaan yang sebenarnya sangat logic untuk generasi muda, apakah kalian siap menjadi seorang wirausaha? Siapkah menjadi seorang MEA? Pada akhirnya, menjadi karyawan akan terus dihantui dengan PHK, sekalipun dibawah naungan perusahaan sebesar Chevro*. Belum lagi lapangan kerja yang tidak menyerap banyak, ditambah kehidupanmu yang akan terus menerus diatur orang lain. Bukankah lebih menarik menjadi seorang wirausaha? Kalaupun dihantui dengan rasa takut gagal, hey, kalau orang lain saja sudah mencoba dan berhasil, kenapa kita harus berpikir "mungkin gagal"? Bagi saya, Revolusi Mental itu kini lebih mengena. "Sang Pemenang" rupanya sudah memiliki visi sejauh ini. Rasa penasaran saya sudah mulai terjawab tentang slogan unik ini. 

Bukan tentang bagaimana membuat suasana keruh ini harus kembali bening seperti semula, tetapi bagaimana suasana keruh menjadi warna baru dan tidak kalah menarik dibanding "bening seperti semula". 

Rabu, 03 Februari 2016

Hukum

" Hukum itu menarik, kan? Semua hal didalami. Berpikir logika, fakta, pendapat dan spekulasi. Kamu sih, gamau belajar hukum."

Hal paling menyakitkan yang mengalir dari mulut ayahku semalam. Hahaha ga semenyakitkan itu sih tapi cukup untuk bikin galau sedetik.

Hukum itu selalu menarik. Dunia tidak akan bisa bertahan tanpa hal ini. Ajaibnya, hukum ampuh membuat siapa saja yang akan membuat kekacauan berpikir keras berkali-kali untuk melakukan aksinya (bagi beberapa dengan hati nurani). 

Sejak kemajuan teknologi semakin menjadi, lingkup hukum menjadi semakin luas. Banyak kasus semakin sulit untuk diselesaikan. Semua menjadi serba rumit, padahal masalah yang sebenarnya sangat sederhana, terlalu sederhana, hingga kata orang bijak "Semut di ujung lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak" . 

Pembunuh aktivis HAM akhirnya bebas, beberapa aksi pelanggaran HAM lainnya yang ditutup tanpa titik terang maupun penyelesaian siapa yang sebenarnya bertanggung jawab, apa yang sedang dipikirkan hukum saat ini, tentu saja jika hukum adalah manusia? Mungkin hukum sedang menertawakan. Jika seekor tupai (pandai) menyimpan bangkai, pasti tercium juga (oleh sesuatu yang lebih pandai dari seekor tupai). Sekarang, apakah para tokoh penegak hukum lebih pintar dari tupai-tupai penyimpan bangkai itu?

Sebenernya aku nulis apa sih? Aku gapunya basic hukum, hanya kenal pidana dan perdata, KUHAP dan KUHP dari sampul buku di meja ruang tengah milik ayah dan beberapa headline TV akhir-akhir ini yang membahas pembunuhan melalui racun sianida, hingga aksi kekerasan oleh anggota legislatif. Tapi, entah mengapa, sebagai orang awam, aku sangat tertarik untuk menyaksikan berbagai cerita thriller ala film series western.

Hukum, hukum, hukum. Seberapa besar pengetahuan masyarakat tentang hukum? Bahkan, satu kesempatan aku menyaksikan salah satu presenter berita acara talkshow pagi dengan berbagai pakar di pelataran gedung studio salah satu televisi ternama di Indonesia salah menyebutkan salah satu ilmu dasar hukum hingga si pakar harus mengoreksi "Pengakuan itu hanya ada dalam hukum perdata, hukum pidana tidak menjadikan pengakuan sebagai barang bukti"  kalau tidak salah demikian ralat si pakar. Belum lagi banyaknya komentator di kolom komen media sosial yang deras membahas berbagai isu-isu terkini dengan ke "sok tahu" an mereka. 

Hey, tiba-tiba terlintas untuk membuat sinetron thriller menyubtitusi acara TV swasta yang tidak ada gunanya itu. Muak rasanya, thriller justru lebih menarik dan mencerdaskan dibanding kisah percintaan dengan keluarga yang sama sekali tidak mendidik. Ada sih, sedikit muatan pendidikan hukum, tapi justru malah keliru. Mungkin sudah saatnya sinetron atau drama series berbau thriller dengan ilmu hukum untuk masyarakat agar memperoleh pendidikan hukum yang sebenarnya. Membuat tidak lagi sulit para penyidik dan polisi menjelaskan berbagai biduk permasalahan kriminal di negara ini, kan? Tidak juga membuat lembaga sensor, MUI, dan berbagai lembaga maupun badan lain ribut mengeluarkan statement melarang ataupun mencekal, bukan?