Sabtu, 09 April 2016

Laporan Praktikum Media Mikrobiologi

LAPORAN PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI PANGAN

Kelompok 2
            Parlindungan Teguh Steven                                        240210150074
Hayu Lesya Putri                                                        240210150075
Violita Widyaningtyas                                                240210150076
Bayu Airlangga                                                           240210150077
Indah Medani K.A.P                                                  240210150078
Adira Dwi Rahmi                                                       240210150079



UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN
JATINANGOR
2016


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Teori Dasar
                Media kultur bakteri adalah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi atau zat-zat hara (nutrisi) yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di atas atau di dalamnya. Selain itu, media kultur mikroba dapat dipergunakan pula untuk isolasi, perbanyakan, pengujuan sifat-sifat fisiologis, dan perhitungan jumlah mikroorganisme (Sumarsih, 2003).
            Media kultur yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme ada dalam bentuk padat, semi padat, dan cair. Media kultur padat diperoleh dengan menambahkan  agar-agar. Agar-agar berasal dari ekstrak ganggang merah. Kandungan galaktan pada agar-agar sebagai zat pemadat adalah 1,5%-2,0% dan membeku pada suhu 45C. Agar-agar sulit diurai oleh bakteri (Utami, 2004).
            Untuk media kultur semi-padat dan cair ada perbedaan dalam penggunaan pemadat dalam unsur medianya. Di media kultur semi padat zat pemadat seperti agar hanya dalam komposisi yang kecil sehingga pemadatan hanya akan terjadi sedikit atau sebagian. Adanya bagian yang tidak memadat atau tetap dalam keadaan cair juga bertujuan untuk ditujukan kepada beberapa jenis mikroba.
            Untuk media kultur cair, penggunaan zat pemadat tidak ada sama sekali. sehingga media memiliki kandungan air yang sangat banyak. Media ini juga ada karena ditujukan untuk mikroba yang hidup di air dan juga ditujukan pada kultur mikroalga.
                Media pertumbuhan bakteri atau media kultur bakteri adalah cairan atau gel yang di desain untuk mendukung pertumbuhan mikroorganisme dan sel. Terdapat dua  jenis utama media pertumbuhan yaitu media yang digunakan untuk kultur  pertumbuhan sel tumbuhan atau binatang dan jenis yang kedua yaitu kultur mikrobiologi yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme seperti bakteri dan  jamur (Madigan, 2005).
            Media kultur harus dalam keadaan steril yang mana nantinya berfungsi untuk memberikan hasil kultur yang murni. Kontaminasi dalam mikrobiologi  adalah proses tercemarnya suatu kultur murni dengan mikroba lain karena ketidak aseptisan langakah yang diambil oleh praktikan.
            Sterilisasi dalam mikrobiologi berarti membebaskan tiap benda atau substansi dari semua kehidupan dalam bentuk apapun. Untuk tujuan mikrobiologi dalam usaha mendapatkan keadaan steril, mikroorganisme dapat dimatikan setempat oleh panas (kalor), gas-gas seperti formaldehid, etiloksida, atau betapriolakton oleh bermacam-macam larutan kimia oleh sinar lembayung ultra atau sinar gama. Mikroorganisme juga dapat disingkirkan secara mekanik oleh sentrifugasi kecepatan tinggi atau oleh filtrasi (Curtis, 1999).
            Sterilisasi dengan udara kering menggunakan alat yang umum dikenal sebgai oven. Alat ini dipakai untuk menstrilkan alat-alat gelas seperti Erlenmeyer, cawan petri, tabung reaksi dan alat gelas lainnya, bahan-bahan seperti kapas, kain, dan kertas dapat disterilkan dengan alat ini. Pada umumnya suhu yang digunakan pada sterilisasi secara kering adalah 110-180C selama paling sedikit 2 jam. Lama sterilisasi tergantung pada alat dan jumlahnya (Machmud, 2008).
Sterilisasi dengan uap panas, bahan yang mengandung cairan tidak dapat disterilkan dengan oven sehingga digunakan alat ini. Alat ini disebut Arnold steam sterilizer dengan suhu 100 derajat C dalam keadaan lembab. Secara sederhana dpat pula digunakan dandang. Mula-mula bahan disterilkan pada suhu 100 derajat C selama 30 menit untuk membunuh sel-sel vegetative mikroba. Kemudian disimpan pada suhu kamar selama 24 jam untuk memberi kesempatan spora tumbuh  menjadi sel vegetative, lalu dipanaskan lagi 100 derajat C 30 menit, dan diinkubasi lagi 24 jam dan disterilkan lagi, jadi ada 3 kali sterilisasi. Banyak bakteri berspora belum mati dengan cara ini sehingga dikembangkan cara berikutnya yaitu uap air bertekanan (Machmud, 2008).
Sterilisasi dengan uap panas bertekanan, alat ini disebuT autoklaf untuk sterilisasi ini alat dilengkapi dengan katup pengaman. Alat diisi dengan air kemudian bahan dimasukkan. Panaskan sampai mendidih dan dari katup pengaman keluar uap air dengan lancer lalu ditutup. Suhu akan naik sampai 121 derajat C dan biarkan sampai 15 menit, lalu biarkan dingin sampai tekanan normal dan klep pengaman dibuka, cara ini akan mematikan spora dengan cara penetrasi panas ke dalam sel atau spora sehingga lebih cepat. Untuk bahan yang tidak tahan panas maka cara diatas tidak dapat dipakai (Machmud, 2008).
Sinar UV juga bisa digunakan untuk mensterilkan alat laboratorium, tapi penggunaannya lebih kepada alat besar seperti lemari dan ruangan karena kita tidak mungkin mencuci semua alat ini dan dengan sinar UV bisa lebih cepat menyelesaikan sterilisasinya. Sinar UV banyak digunakan sebagai media sterilisasi,karena kemampuan radiasi sinarnya mampu membunuh bakteri dan kuman terutama sinar UV dengan panjang gelombang 2540 Å mempunyai daya bunuh yang sangat efektif dibanding dengan sinar ultraviolet dengan panjang gelombang yang lebih panjang atau lebih pendek.sinar UV membunuh bakteri berdasarkan luas ruangan yang disteril dan jenis bakteri/kuman.
1.2 Tujuan Praktikum
                Mahasiswa dapat membuat berbagai macam media dan mengerjakan sterilisasi alat.


BAB II
ALAT DAN BAHAN
2.1 Alat
  • Autoclave
  • Botol
  • Cawan Petri
  • Detergen
  • Erlenmeyer
  • Gelas Ukur
  • Kain saring
  • Kapas
  • Kertas Alumunium Foil
  • Kompor
  • Lap
  • Neraca Analitik
  • Oven
  • Panic
  • Spatula
  • Tabung Reaksi
2.2 Bahan
  • Aquades
  • Larutan Buffer Fosfat (NaCl)
  • Medium  Eosin Methylene Blue (EMB)
  • Medium Nutrient Agar (NA)
  • Meduim Plate Count Agar (PCA)
  • Medium Potato Dextrose Agar (PDA)






BAB III
PROSEDUR
            Praktikum Mikrobiologi pada pertemuan sebelumnya bernama Pembuatan Medium dan Sterilisasi. Pada praktikum tersebut, ada beberapa prosedur percobaan yang harus diperhatikan. Berikut penjelasannya.
A.            Pembuatan Medium
1.      Medium instan yang diperlukan (NaCl, NA, NB, PDA, PCA, SSA, LB) disiapkan.
  1. Massa medium yang diperlukan dihitung, berdasarkan yang terterapada label medium instan dan dihitung menggunakan rumus yang diberikan oleh asisten.
  2. Medium instan ditimbang menggunakan neraca analitik.
  3. Medium dilarutkan dengan aquades dengan volume sesuai perhitungan, dalam labu Erlenmeyer.
  4. Labu Erlenmeyer disumbat dengan kapas dan kain kasa, lalu tutup dengan almunium foil.
  5. Medium dipanaskan diatas panci yang berisi air mendidih yang dasarnya telah dialasi dengan lap. (Semua medium dipanaskan kecuali NaCl dan LB).
B.        Pembuatan Larutan Pengenceran
1.      Serbuk NaCl Fis ditimbang sampai mencapai berat 0,85 gram.
2.      Setelah itu, dilarutkan dalam 100 mL aquades.
3.      Terakhir, hitung pencampuran NaCl Fis dengan aquades sampai mendapat hasil 0,85 %
C.        Sterilisasi Basah
            Sterilisasi ini dilakukan dengan dua cara, yaitu secara direbus dan penggunaan autoklaf. Pertama – tama akan dijelaskan sterilisasi pada autoklaf.
1.    Autoklaf diisi dengan akuades, jangan sampai melebihi penyangga tempat penyimpanan alat/media.
2.    Tempat penyimpanan alat/media disimpan.
3.    Alat/bahan/medium yang akan disterilkan dimasukkan kedalam
autoklaf.
4.    Autoklaf ditutup dengan rapat dan kunci pada tutup dikencangkan.
5.    Tombol ON yang menempel di dinding tembok dinyalakan (sampai lampu menyala). Kemudian tombol ON pada autoklaf dinyalakan (posisi tombol keatas), atur suhu pemanasan dengan cara memutarkan tombol (sebelah tombol power) ke 1,2,3,…,7. Semakin tinggi angka yang dipilih, semakin tinggi suhu yang akan diberikan.
6.    Klep pengaman, yaitu tempat uap air keluar berfungsi menjaga stabilitas tekanan tetap terbuka.
7.    Setelah air dari klep menetes, klep tersebut ditutup.
8.    Setelah klep tertutup, jarum penunjuk suhu dan tekanan akan bergerak menunjuk angka yang lebih besar karena suhu dan tekanan autoklaf naik.
9.    Bila jarum sudah menunjukkan angka 121oC/15 lbs, kedudukan selama waktu sterilisasi yang diperlukan harus dijaga dengan cara mengukur besar kecilnya pemanasan.
  1. Setelah sterilisasi selesai dilakukan, listrik/api dimatikan tapi jarum penunjuk dibiarkan kembali ke nol dengan sendirinya (jangan dipaksakan ).
  2. Setelah jarum penunjuk kembali ke nol, klep dibuka dan tutup digeser lalu isi autoklaf dapat dikeluarkan.
  3. Setelah selesai, tombol POWER dimatikan.
Cara kedua dengan perebusan akan dijelaskan sebagai berikut
1.    Didihkan air pada panci
2.    Masukkan alat – alat yang telah dipersiapkan dan tunggu beberapa saat
3.    Setelah selesai alat – alat diagkat dan dimasukkan ke dalam lemari penyimpnan.
D.        Sterilisasi Kering
1. Alat-alat (botol, cawan Petri, labu Erlenmeyer, dll) dicuci dengan deterjen
lalu dibilas sampai bersih, dikeringkan, dan dibungkus.
        2. Alat-alat tersebut dimasukan kedalam oven, suhu oven diatur 170-180oC.
        3. Oven dipanaskan selama 2 jam. Kemudian alat-alat yang sudah steril dimasukan kedalam lemari steril, sedangkan botol steril siap digunakan untuk kemasan produk.
4. Tutup botol yang terbuat dari plastic cukup dicuci bersih kemudian  dibilas air panas.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil Pengamatan Medium (Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016)
Jenis Media
Bubuk

Larutan

Fungsi
Komposisi

Warna
Aroma
Warna
Aroma
Setelah Sterilisasi


NA
Kuning
Biasa
Kuning Bening
Menyengat
Kuning sedikit pekat
Pertumbuhan mayoritas mikroorganisme heterotfof
5 g/L pepton daging; 3 g/L ekstrak daging; 12 g/L agar
PDA
Putih Tulang
Biasa
Kuning Lemon
Menyengat
Kuning sedikit pekat
Menumbuhkan dan mengidentifikasi kapang dan khamir
4g/L ekstrak kentang;20g/L Dekstrosa;15g/L Agar
PCA
Krem
Menyengat
Kuning
Sangat Menyengat
Putih

5g/L tripton;2,8g/L ekstrak yeast;1g/L glukosa;9g/L agar
EMB
Ungu
Biasa
Merah Keunguan
Menyengat
Merah Keunguan
Mendeteksi adanya bakteri E. coli
Pepton;Laktosa;Hidrogen;Dipotasium Phospat;Eosiny;Methilen Blue; Agar
NaCl Fisiologis
Putih
Garam
Bening
-
Bening
Sebagai pengencer serta antibiotik
Sodium Klorida





4.2. Pembahasan
4.2.1. Media
            Semua makhluk hidup di dunia sudah pasti memerlukan tempat untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan habitat serta keberadaan makanan. Hal ini berlaku juga untuk mikroorganisme. Saat seseorang akan menumbuhkan mikroorganisme, hal yang harus dilakukan adalah menyiapkan tempat tumbuh serta nutrisi yang dibutuhkan mikroorganisme yang akan dibiakkan yaitu substrat yang kemudian disebut media/medium. Media berguna untuk membantu menumbuhkan mikroba, mengisolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi, serta melakukan perhitungan jumlah mikroba (Adityawarman, 2011). Media kultur dapat berbentuk cair, semi padat, dan padat (Afrianto, 2008).
            Agar merupakan ekstrak rumput laut dengan kandungan karbohidrat yang didominasi oleh galaktosa dan tidak mengandung nutrisi. Media padat setidaknya membutuhkan 1.5% hingga 1.8% agar. Sedangkan media semi padat hanya membutuhkan kurang dari 1% agar. Media yang berwujud cair tidak mengandung agar sebagai pengental dan biasa disebut dengan medium kaldu (broth medium). Penambahan agar akan membuat medium berbentuk semi padat atau padat. Agar adalah agen pengental yang baik. Agar dapat mencair pada suhu 100°C dan mengental pada suhu 40°C. Apabila akan dilakukan kultur, lebih baik dilakukan dalam suhu 37.5°C atau sedikit lebih tinggi sehingga medium tidak mencair (Afrianto, 2008).
            Media juga dibagi menjadi media umum dan media khusus. Media umum adalah media yang ditambahkan bahan-bahan stimulan pertumbuhan mikroba secara umum seperti karbohidrat, glukosa dan sejenisnya, serta nutrien lainnya. Media khusus dapat membantu mengisolasi dan mengidentifikasi mikroba spesifik. Untuk tujuan khusus, media dibagi menjadi 4, yaitu media selektif, media diferensia, media enrichment, dan media kombinasi selektif dan diferensial (Afrianto, 2008). Media selektif dibuat dengan penambahan senyawa kimia yang dapat menghambat satu kelompok mikroba yang lain namun memacu pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Sedangkan media diferensia mengandung bahan tambahan yang dapat menyebabkan perubahan warna media apabila terjadi reaksi kimia tertentu. Media tersebut digunakan untuk membedakan bakteri berdasarkan karakteristik biokimianya. Media enrichment atau diperkaya adalah media yang mengandung aditif yang menghambat pertumbuhan dan membantu meningkatkan pertumbuhan mikrooganisme tertentu yang jumlahnya sedikit dalam suatu campuran. Media ini hampir mirip dengan media selektif, perbedaannya terletak pada jenis zat kimia yang ditambahkan pada media. Kombinasi media selektif dan diferensia memungkinkan menghambat pertumbuhan mikroba satu dengan pertumbuhan lainnya (Afrianto, 2008).
            Dalam praktikum ini, dilakukan pembuatan beberapa medium yaitu Nutrient Agar (NA), Potato Dextrose Agar (PDA), Plate Count Agar (PCA), Eosin Methylene Blue (EMB), dan pengencer NaCl Fisiologis.
4.2.1.1. Nutrient Agar (NA)
S__33447968.jpg
             Nutrient Agar (NA) adalah medium umum untuk uji air dan produk diary. NA banyak digunakan untuk pertumbuhan mayoritas mikroorganisme yang tidak selektif atau disebut juga mikroorganisme heterotrof. NA matriks mengandung pepton 15.0 g/L, ekstrak ragi 3.0 g/L, sodium klorida 6.0 g/L, dekstrosa 1.0 g/L, dan agar 12.0 g/L.Ekstrak ragi berguna untuk sumber karbohidrat bagi mikroorganisme. Agar berfungsi sebagai pemadat medium serta aquades sebagai pelarutnya. Adanya pepton pada NA sangat baik untuk mikroba untuk cepat tumbuh karena mengandung banyak unsur Nitrogen (Dwidjooseputro, 1994). NA juga dapat digunakan untuk mengulturasi Enterobacteriacease, Pseudomonas spp, Staphylococcus spp, dan  Streptococcus spp (Niedersterbruch, 2013). Selain itu, media umum ini digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, produk pangan, untuk membawa stok kultur, pertumbuhan sampe pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni.
            Pada botol NA, tertera bahwa penggunaan sebanyak 20 gram untuk satu liter. Sehingga, dalam penggunaan volume tertentu (praktikum ini memerlukan 20 ml NA) dengan rumus pengenceran m1V1 =m2V2 diperlukan 0.4 gram bubuk agar NA.
            Rumus yang digunakan adalah rumus umum pengenceran dan digunakan dalam pengenceran media manapun. Dengan perhitungan tersebut, disiapkan 0,4 gram bubuk NA yang diukur dengan neraca analitik menggunakan beaker glass. Kemudian diencerkan dengan aquades pada erlenmeyer hingga volume menjadi 20 ml. Setelah itu, erlenmeyer ditutup sumbat cotton lalu ditutup kembali dengan alumunium voil untuk menjaga uap air tidak masuk karena autoclave termasuk sterilisasi basah.
4.2.1.2. Potato Dextrose Agar (PDA)
             Potato Dextrose Agar adalah media komplek dan media diferensial untuk pertumbuhan jamur dan ragi sehingga sering digunakan sebagai uji untuk menentukan jumlah jamur dan ragi dengan menumbuhkan mikroba pada permukaan media yang kemudian terbentuk koloni yang dapat diikat dan dihitung (Fardiaz, 1992). PDA mengandung 1.5% agar, 2% dekstrosa, serta nitrogen, fosfor, citamin, dan mikronutrien dari ekstrak kentang yang kemudian dapat disimpulakan 0,4% ekstrak kentang (Griffith, 2007). Dekstrosa pada PDA berguna sebagai sumber karbon, sedangkan ekstrak kentang tersebut memenuhi sebagian besar makro dan mikronutrien yang dibutuhkan mikroorganisme. (Rizaki, 2015). Dengan adanya sumber karbohidrat dan glukosa serta makro dan mikronutrien yang umum terdapat pada tanah, PDA dijadikan medium isolasi dan identifikasi pada mikrofungi berupa kapang dan khamir dan tidak baik untuk bakteri sehingga dapat digolongkan sebagai media khusus diferensial. Seperti yang tertera pada botol (39 gram untuk 1 liter), menurut perhitungan dasar pengenceran, diperlukan 0.78 gram bubuk PDA untuk 20 ml aquades.
            Resep pembuatan PDA adalah dari 100 gram kentang segar yang dikupas, lalu diiris dan dihomogenkan dengan 300 ml air kran, diblender, kemudian didiamkan semalam dengan suhu 41°C, sebelum difiltrasi dengan muslin. Dengan total 230 ml ekstrak kentang, 20 gram glukosa, 15 gram agar dicampurkan sebelum mencapai 1 liter. Kemudian disterilisasi dengan autoclave dalam 121°C selama 15 menit sebelum diaplikasikan ke cawan petri. Dalam beberapa kasus, air destilasi digunakan untuk mencegah kontaminasi dari berbagai macam logam yang ada pada air kran. (Griffith, 2007).
4.2.1.3. Plate Count Agar (PCA)
           PCA digunakan sebagai medium bagi mikroba dengan inokulasi diatas permukaan. PCA merupakan media padat yang baik bagi pertumbuhan hampir semua jenis mikroba karena mengandung komposisi casein enzymichydrolisate yang menyediakan amino dan substansi nitrogen kompleks lainnya serta ekstrak yeast demi suplai vitamin B kompleks. Seperti yang tertera pada botol PCA, PCA mengandung tripton 5.0 g/L, ekstrak yeast 2.8g/L, glukosa 1.0g/L, serta agar 9.0g/L. Selain itu, perhitungan pengenceran PCA dengan petunjuk pada botol (1,75 gram untuk 1 liter) sehingga dibutuhkan 0.35 gram untuk 20 ml aquades.
4.2.1.4. Eosin Methylene Blue (EMB)
   Media Eosin Methylene Blue mempunyai keistimewaan karena mengandung laktosa dan berfungsi untuk memilah mikroba yang memfermentasi laktosa seperto E. Coli dengan mikroba yang tidak memfermentasikan laktosa seperti S. aureus, P. aeruginosa, dan Salmonella. Mikroba yang memfermentasi laktosa menghasilkan koloni dengan inti berwarna gelap dengan kilap logam, sedangkan mikroba lain yang dapat tumbuh koloninya tidak berwarna. Adanya eosin dan methylene blue membantu mempertajam perbedaan tersebut. Namun, jika media ini digunakan pada tahap awal, karena mikroba lain juga tumbuh terutama P. aeruginosa dan Salmonella sp, dapat menimbulkan keraguan. Bagaimanapun media Eosin Methylene Blue sangat baik untuk mengonfirmasi bahwa kontaminan tersebut adalah E. Coli (Afrianto, 2008).
            Seperti yang tertera pada botol, Eosin Methylene Blue mengandung pepton, laktosa, hidrogen, dipotasium fosfat, eosiny, methylene blue, serta agar sehingga EMB termasuk media padat. Dalam petunjuk penggunaannya, tertera 500 gram untuk 13.300 liter, sehingga dibutuhkan 0.7 gram bubuk EMB untuk dilarutkan dengan 20ml aquades.
4.2.1.5. Physiological Natrium Chloride (NaCl Fisiologis)

NaCl digunakan sebagai larutan pengencer agar suspensi sampe tetap steril dan menghindari adanya kontaminan pada sampel. Selain itu, NaCl Fisiologis yang memiliki kandungan sodium klorida juga dapat mempertahankan kondisi pH.Prinsip pengenceran adalah menurunkan jumlah mikroba sehingga semakin banyak jumlah pengencer, semakin sedikit jumlah mikroba yang didapat. Dalam beberapa kasus, dapat terjadi hanya ada satu mikroba dalam satu tabung (Waluyo, 2004). NaCl Fisiologis (umumnya 0.9% - 1.2%) merupakan larutan elektolit garam yang umumnya memiliki mol sangat kecil (± 0.2%) dan kandungan klorida yang justru membantu mikroba untuk menyeimbangkan elektrolit sel dengan lingkungan sehingga mencegah sel mikroba mengalami lisis.
            Pada botol NaCl-Fis, tertera petunjuk penggunaan yaitu 0.85 gram untuk 100 ml. Sehingga, diperoleh perhitungan membutuhkan 0.17 gram bubuk NaCl fisiologis untuk 20 ml aquades.
4.2.2. Sterilisasi
 Sterilisasi adalah proses menghilangkan mikroba, spora, dan kontaminan lainnya dengan cara pemanasan. Semua material sebagai subjek proses ini disebut bahan steril. Terdapat dua pengertian mengenai steril, yaitu steril mutlak dan steril komersial. Steril mutlak adalah kondisi steril saat benar-benar tidak ada kehidupan dalam benda tersebut. Steril mutlak umumnya diaplikasikan pada alat laboratorium, kemasan bahan pangan, dan lainnya. Bila steril mutlak dilakukan terhadap bahan pangan, kerusakan komponen bahan pangan dapat terjadi dan hal tersebut tentunya tidak diinginkan. Steril komersial yang umumnya dilakukan terhadap bahan pangan ini bermaksud untuk mematikan mikroorganisme pathogen beserta sporanya tanpa merusak komponen bahan pangan.
            Terdapat macam-macam teknik sterilisasi yang dapat dilakukan dalam laboratorium mikrobiologi yaitu:
4.2.2.1. Pemanasan dengan Api
            Pemijaran dapat langsung membunuh mikroorganisme. Umumnya, pemijaran termasuk sterilisasi mutlak karena berlaku untuk alat-alat laboatorium saja seperti ose, jarum inokulum atau spreader, dan lain sebagainya. Dalam laboratorium, sumber api yang digunakan adalah bunsen burner, pembakar spirtus, atau  loop incinerator berupa tabung keramik panas hingga 815°C dan hanya membutuhkan 6 detik untuk sterilisasi.
4.2.2.2. Pemanasan Kering
            Mikroorganisme dapat mengalami kekeringan bila dipanaskan pada suhu tinggi sehingga sel akan lisis. Jika sterilisasi ini tidak maksimal (kurang panas), kemungkinan masih adanya endospora lebih besar. Pemanasan kering menggunakan oven. Oven mampu menjaga suhu pada 160°C hingga 170°C. Umumnya, alat yang disterilkan menggunakan oven adalah alat gelas seperti cawan atau pipet ikur dan bukan alat berbahan plastik atau karet. Sterilisasi dilakukan pada suhu tersebut hingga 1-2 jam atau 180°C selama 30 menit dengan 1 jam waktu pendinginan. Oven yang baik memiliki termometer atau alat perekam temperatur dan dilengkapi indikator waktu dan pemrograman waktu. Setelah sterilisasi, usahakan untuk tidak segera mendinginkannya diluar untuk mencegah keretakan gelas, atau harus didiamkan dahulu di dalam oven beberapa waktu.
4.2.2.3. Uap Air Panas
            Cara ini menggunakan prinsip yang berbeda dengan pemanasan lainnya. Uap air panas mampu membunuh mikroorganisme dengan menonaktifkan enzim-enzimnya sehingga metabolisme berhenti bekerja. Alat yang digunakan dalam sterilisasi ini adalah steamers  dan water bath. Keduanya memiliki prinsip teknik sama yaitu sebuah wadah yang menampung air dengan elemen pemanas dan bertutup. Uap air yang dihasilkan berada pada tekanan atmosfer. Water bath mampu memanaskan air hingga atau hampir mendekati titik didih dengan atau tanpa menghasilkan uap air. Hal yang perlu diperhatikan adalah penjagaan batas air minimal sesuai manual sehingga menutupi elemen pemanas. Pencairan kembali media agar steril dapat dilakukan pada water bath dengan suhu 47°C hingga 50°C. Media harus diangkat segera setelah semua mencair dan digunakan tidak melebihi waktu simpan 4 jam. Steaming yang dikembangkan John Tyndall juga merupakan cara sterilisasi uap air panas yang dapat mencapai suhu 100°C pada wadah tanpa tekanan. Sterilisasi ini dapat dilakukan sekali atau tiga kali (tahap) dengan hari yang berbeda dengan memanaskannya pada suhu 80°C selama satu jam (Barrow dan Feltham, 1993). Sedangkan, tindalisasi dilakukan pada suhu 90-100°C selama  30 menit secara bertahap tiga kali. Selama jeda, tahapan media diinkubasi pada 37°C semalam. Pemanasan tiga tahap dimaksudkan untuk memberi kesempatan endospora untuk berkembang sehingga akan mati pada tahap pemanasan selanjutnya (Hogg, 2005).
4.2.2.4. Uap Air Panas Bertekanan
            Uap air panas bertekanan lebih efisien dan penetratif dalam membunuh mikroorganisme. Tekanan yang paling efisien yaitu 103 kPa (15 Psi) selama 15 menit yang dapat dilakukan dengan autoklaf. Menurut Morello (2003), tekanan yang digunakan untuk sterilisasi pada umumnya 15 Psi atau 1 atm dengan suhu 121°C . Sehingga, tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda mencapai 15 pon tiap inchi². Autoklaf menggunakan uap air murni yang lebih ringan dan panas daripada udara untuk sterilisasi sehingga udara yang terdapat dalam wadah harus dikeluarkan. Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf akan mendidih dan uap air terbentuk lalu mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga sama dengan atmosfer. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan turun hingga nol. Hal yang sering terjadi adalah dengan menutup semua katup rapat-rapat sebelum udara dalam wadah tergantikan oleh uap air, ini adalah perbuatan yang salah. Adanya udara dalam wadah saat sterilisasi dapat mengakibatkan kurang efisiennya sterilisasi sehingga autoklaf hanya mencapai suhu maksimal pada kondisi uap air murni saja.
            Autoklaf juga digunakan untuk dekontaminasi. Dekontaminasi adalah sterilisasi terhadap semua biakkan hasil analisis atau yang telah tumbuh pada media. Dalam proses sterilisasi diperpanjang waktunya menjadi minimal 30 menit pada 121°C  atau 10 menit pada 126°C .
4.2.2.5. Penyinaran/Radiasi
            Salah satunya adalah radiasi non-ionisasi seperti sinar UV. Sinar UV dapat digunakan secara fisik yaitu dengan memaparkan alat atau bahan kepada sinar UV dengan waktu tertentu. Panjang gelombang yang umum dipakai adalah 260 nm karena panjang gelombang ini mampu merusak komponen asam nukleat berupa purin dan pirimidin dan asam amino aromatik pada protein. Energi yang diabsorbasi merusak ikatan kimia komponen tersebut sehingga tidak berfungsi secara normal. Penetrasi sinar UV sangat lemah, selembar kertas atau lapisan tipis kaca dapat menghalanginya sehingga aplikasi praktisnya adalah mensterilisasi permukaan meja kerja atau untuk air pada pengolahan air. Radiasi menggunakan sinar gamma yaitu radiasi ionisasi. Sinar gamma memiliki panjang gelombang yang lebih pendek dengan energi yang lebih besar sehingga memberi kekuatan penetrasi yang baik. Efek dari radiasi ionisasi adalah terbentuknya radikal bebas yang sangat reaktif sehingga merusak struktur makromolekul seperti DNA dan protein.
4.2.2.6. Sterilisasi Kimia
            Sterilisasi juga dapat dilakukan dengan menambahkan zat kimia antibakteri pada bahan atau alat. Umumnya jenis zat kimia yang digunakan adalah alkohol atau ethanol sebagai disinfektan dengan konsentrasi dibawah 100%. Konsentrasi yang sering digunakan untuk disinfektan adalah 70%. Selain mendenaturasi protein, alkohol dapat melarutkan lemak sehingga berpengaruh terhadap membran sel dan kapsul beberapa jenis virus. Sel vegetatif dan hifa dapat dimatikan dengan alkohol, namun spora kadang resisten. Alkohol digunakan sebagai pelarut disinfektan lain seperti iodin yang dapat meningkatkan efektivitas disinfeksinya.
            Selain alkohol, halogen atau klorin juga efektif sebagai disinfeksi dalam bentuk gas bebas dan sebagai senyawa pelepas klorin seperti klotir dan kloramin. Senyawa yang lebih stabil lainnya yaitu kloramin yang memiliki keunggulan lebih tahan terhadap bahan organik sehingga lebih tidak beracun dan mampu melepas klorin secara perlahan sehingga memperpanjang efek bakterisidal disinfektan ini. Jenis halogen lainnnya adalah iodin dengan daya kerja bereaksi dengan residu tirosin pada protein. Selain itu, ada juga senyawa fenol dengan gugus asam karboksilat yang memiliki daya kerja merusak protein dan membran sehingga fenol dapat tetap aktif walaupun terdapat senyawa organik dan detergen.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
1.      Media berguna untuk membantu menumbuhkan mikroba, mengisolasi, memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologi, serta melakukan perhitungan jumlah mikroba.
2.      Media kultur dapat berbentuk cair, semi padat, dan padat berdasarkan komposisi agarnya.
3.      Media umum adalah media yang ditambahkan bahan-bahan stimulan pertumbuhan mikroba secara umum.
4.      Media khusus dapat membantu mengisolasi dan mengidentifikasi mikroba spesifik.
5.      Media NA padat banyak digunakan untuk pertumbuhan mayoritas mikroorganisme yang tidak selektif atau disebut juga mikroorganisme heterotrof.
6.      Potato Dextrose Agar adalah media kompleks dan media diferensial untuk pertumbuhan jamur dan ragi sehingga sering digunakan sebagai uji untuk menentukan jumlah jamur dan ragi.
7.      PCA merupakan media umum padat yang baik bagi pertumbuhan hampir semua jenis mikroba.
8.      Media Eosin Methylene Blue mengandung laktosa dan berfungsi untuk memilah mikroba yang memfermentasi laktosa seperti E. Coli.
9.      NaCl Fisiologis merupakan larutan elektrolit garam dengan kandungan klorida yang membantu mikroba menyeimbangkan elektrolit sel dengan lingkungan sehingga mencegah lisis sel.
10.  Sterilisasi adalah proses menghilangkan mikroba, spora, dan kontaminan lainnya dengan cara pemanasan.
11.   Steril mutlak adalah kondisi steril saat benar-benar tidak ada kehidupan dalam benda tersebut. Steril komersial bertujuan mematikan mikroorganisme pathogen beserta sporanya tanpa merusak komponen bahan pangan.
12.  Sterilisasi dapat dilakukan dengan pemanasan pijar api, pemanasan kering, pemanasan uap air panas, pemanasan uap air panas bertekanan, penyinaran/radiasi,  dan sterilisasi kimia
5.2. Saran
1.      Praktikan terlebih dahulu sudah memahami cara sterilisasi dan berbagai macam medium yang akan digunakan.
2.      Alat dan daerah kerja harus dalam keadaan bersih (meskipun tidak steril) sehingga pengerjaan lebih efisien.
3.      Alat pengukuran yang digunakan harus dipersiapkan agar tidak menimbulkan keraguan dalam perhitungan dan pengenceran.
4.      Praktikan terlebih dahulu memahami teknik penggunaan autoklaf sehingga sterilisasi menjadi optimal.

DAFTAR PUSTAKA
Adityawarman, A. C. 2011. Teknik Pengolahan Daging. Terdapat pada: http://www.academia.edu   (diakses pada tanggal 26 Maret 2016 pukul 16.39 WIB)

Afrianto, Eddy. 2008. Pengawasan Mutu Bahan/Produk Pangan Jilid 2 untuk       SMK. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Jakarta.

Barrow, GI dan RKA Feltham. 1993. Cowan and Steel’s, Manual for The Identification of Medical Bacteria. Cambridge University Press, New York

Dwidjoseputro, D.  1994.  Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.

Fardiaz, S. 1989. Mikrobiologi Pangan 1. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi.       Fateta IPB, Bogor.

Griffith, Garth W. 2007. Copper deficiency in potato dextrose agar causes reduced           pigmentation in cultures of various fungi.  FEMS Microbiology Letters :             276 : 165-171.

Hogg, Stuart. 2005. Essential Microbiology. John Wiley and Sons, Chicester.

J. Pelczar, Micheal. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI Press: Jakarta.

Morello, JA, PA Granato, HE Mizer.  2003. Laboratory Manual and Workbook in             Microbiology, Application to Patient Care. 7: Mc Graw Hill Companies.            (tempat tidak diketahui)

Niederstebruch, N. dan Sixt, D. 2013. Standard Nutrient Agar 1 as a substitute for            blood-supplemented Müller–Hinton agar for antibiograms in developing   countries.  European Journal Of Clinical Microbiology & Infectious        Disease : 21 : 237-241.

Pratiwi T., Sylvia. 2008. Mikrobiologi Farmasi.  Penerbit Erlangga, Jakarta

Pradhika, Indra.  2014.  Sterilisasi. Terdapat pada :   http://mikrobiologipraktik.com/sterilisasi/  (diakses pada tanggal 26 Maret          2016 pukul 23:36 WIB)

Rizaki, Nara. 2015. Nutrien Agar. Terdapat pada :    http://documents.tips/documents/nutrien-agar.html (diakses pada tanggal    26 Maret 2016 pukul 13.47 WIB).

 Rovná, Katarína; Bakay, Ladislav; Petrová, Jana; Terentjeva, Margarita; Cerná,      JanaView Profile; et al. 2015. Characterization of endophytic microflora     of Rosa canina fruits.  The Journal of Microbiology, Biotechnology and             Food Sciences : 4: 65-68.

Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. UMM Press, Malang.


LAMPIRAN
JAWABAN DAN PERTANYAAN
1. Setelah saudara pelajari dan dipraktekkan, jelaskan fungsi penambahan beef extract pada pembuatan media NA dan fungsi penambahan kentang pada pembuatan media PDA! Mengapa berbeda?
Fungsi penambahan beef extract pada pembuatan media NA adalah untuk menambahkan nutrisi untuk pertumbuhan bakteri seperti protein dan beberapa vitamin kompleks lainnya.  Penambahan kentang berfungsi sebagai sumber karbohidrat dalam jumlah cukup sehingga baik untuk pertumbuhan kapang dan khamir tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri karena terdapat senyawa yang bersifat asam pada kentang yang sangat sensitif untuk kentang. NA lebih dominan untuk pertumbuhan bakteri sedangkan PDA  untuk pertumbuhan kapang dan khamir.
2. Jelaskan fungsi dari larutan pengencer? Mengapa harus menggunakan KH2PO4?  Dapatkah digantikan senyawa kimia lain?
Fungsi dari larutan pengenceran adalah menurunkan jumlah mikroba sehingga semakin banyak jumlah pengenceran yang dilakukan,  makin sedikit jumlah mikroba. Jumlah mikroba terbaik untuk dapat dihitung yaitu antara 30 sampai 300 sel mikroba per ml. Larutan pengencer harus menggunakan KH2PO4 karena kalium dan fosfatnya berguna untuk member nutrisi sel mikroorganisme. Larutan pengencer dapat diganti air sadah yang umumnya mengandung ion kalsium dan magnesium yang tinggi.

Senin, 08 Februari 2016

Awam

Bak de javu, saya tiba-tiba diminta Ayah menanggapi artikel hebat terbitan Kompas dari tuangan Prof. Rhenald, Guru Besar Ilmu Manajemen FE UI, berikut.

Saya, sebagai seorang awam yang hanya memerhatikan berita di berbagai media cetak dan elektronik, dapat merasakan betapa dahsyatnya gejala "Sudden Shift" tersebut.

Mari kita luangkan waktu sejenak ke masa lampau. Kursi RI 1 masih diperebutkan dan menjadi persaingan terpanas sepanjang sejarah demokrasi Indonesia. Keduanya sama-sama memiliki potensi yang kuat untuk memimpin Indonesia. Namun, saya lebih tertarik membahas "Sang Pemenang". 

Tentu seluruh masyarakat Indonesia tidak asing dengan slogannya, Revolusi Mental. Hal ini yang selalu membuat saya penasaran. Apa sebenarnya maksud "Sang Pemenang" memilih slogan ini dibanding slogan lain yang lebih spesifik dan efektif? Setelah ditelaah, sebenarnya slogan Revolusi Mental tidak sesederhana yang dibayangkan. Banyak hal yang "diserempet". Dulu, sebagai siswi SMA yang masih lugu, saya menganggap slogan ini hanya membahas mengenai pendidikan dan sedikit politik serta ekonomi. Pendidikan. Mencetak generasi muda yang jujur dengan kemampuan baik serta akhlak mulia dengan harapan Indonesia mampu memenangi perang terhadap KKN. Politik dan ekonomi juga tidak lagi jauh dengan isu ekonomi. Ternyata, pandangan itu masih terlalu sempit dan pendek.

Setelah beliau menang, saya makin bisa merasakan apa itu revolusi. Bukan revolusi berbentuk fisik dengan berbagai aksi anarkisme dan lain sebagainya, tetapi bentuk revolusi yang cerdas, revolusi sudut pandang, memengaruhi siapa saja dengan hati nurani yang masih tersisa. 

Awalnya, saya sempat kesal dengan kenyataan Rupiah melemah. Tapi, saya belum cukup apatis hanya dengan kenaikan sekian. Tetapi, justru makin lemah, setiap pagi Rupiah semakin lemah hingga titik terlemahnya. Hampir semua media cetak memuat headline dengan isu yang sama. Sempat penyesalan terbersit, alasan apa yang pantas untuk menjelaskan fenomena ini? Tak hanya itu, sebelumnya subsidi BBM dipangkas. Para kaum menengah kebawah semakin terhimpit dan pekik protes tidak puas. Belum lagi isu kereta penuh pro kontra. 

Si "Revolusi Mental" semakin tidak terasa saat mulai gemparnya pelemahan fungsi KPK, ketegangan internal DPR, dan banyak hal lain yang datang bertubi-tubi dan tanpa henti. Kriminalitas tinggi disusul dengan semakin apatisnya masyarakat terhadap pemerintah.

Tapi kemudian, seperti kata pepatah klasik, every cloud has a silver lining, yap. Rupiah sedikit demi sedikit mulai menguat, IHSG yang memperlihatkan pemandangan hijau dengan panah keatas yang begitu indah, disusul dengan turunnya harga minyak dunia yang lambat namun pasti juga terus menurun membuat pemangkasan subsidi BBM semakin tidak terasa. Masyarakat juga sedikit demi sedikit mulai "percaya" dengan pemerintah. 

Mari kita lompat dari topik sejenak. 

"Revolusi Mental" mendadak mulai jelas tercium. Terlepas dari komplikasi masalah diatas, kita mulai dari aparat penegak hukum. Image Polisi dimata masyarakat sudah mulai berubah. Seakan sosok Polisi, sarapan, makan siang dari jalanan, atau penuhnya saku-saku di pakaian seragam mereka dengan uang mulia, sudah lenyap, sirna seketika, hanya tersisa Polisi humanis, peduli, cepat, dan hati-hati. Prestasi ini juga tidak terlepas dari peran pers sebagai "pencuci otak" atau semacam "pengaruh terbesar" logika masyarakat. 

Semakin bebas pers memberikan informasi, akan juga semakin cerdas masyarakatnya.

Mari kita bahas kekacauan sebelumnya. 

BBM dipangkas subsidinya. Ini masih bisa masuk dinalar. Kalau pemerintah harus terus menerus membayar biaya subsidi yang sejak awal tidak tepat sasaran ini, kapan kita bisa menabung untuk pembangunan jangka panjang lainnya? Belum lagi sebenarnya BBM yang disubsidi tidak lebih dari sampah karena pada akhirnya merusak polusi dan menurunkan purna jual kendaraan bermotor yang menggunakan. Isu ini memang isu kuno, tapi sebentar lagi akan terasa seperti isu kemarin sore. 

Kemudian masalah internal DPR. Kedua kubu sudah mulai melebur. Sifat adhesi keduanya dulu sangat tinggi, sedangkan saat ini sudah mulai bermunculan sikap jumawa dan saling gotong royong karena sepertinya mulai lelah terus menerus dalam situasi tegang sementara negara dalam keadaan terhimpit. Entah negara yang terhimpit, atau rumah sendiri. dunno

Kenapa Rupiah bisa melemah? Karena saya memang benar-benar awam tentang ekonomi, saya tidak akan banyak komentar. Tetapi, sejak awal Rupiah melemah, saya berpendapat ini terlihat seperti imbas dari kekuasaan kemarin. Saya yakin sejak awal, situasi seperti ini hanya akan terjadi sementara. Kenapa Rupiah melemah, tetapi muncul juga wajah lain Indonesia yang lantang menyatakan "Indonesia menghadapi MEA 2015"? Banyak perusahaan asing besar yang hengkang dan banyak perusahaan minyak dan batubara di luaran sana memilih untuk melakukan PHK demi meng-handle kerugian akibat minyak turun, imbas dari tereksplornya sumber gas yang lebih murah. Apa sebenarnya maksud dari kedua keadaan yang sangat kontras ini? Dari sini, saya yakin sebenarnya Indonesia baik-baik saja. 

Singkat kata. Revolusi Mental sebenarnya bersifat menyeluruh, tetapi lebih menjurus ke generasi muda. 

Jika sebuah negara berkembang akan "naik kelas", salah satu aturan main yang harus terpenuhi adalah presentase enterpreneur di negara tersebut dengan angka minimal 2%. Bahasan angka minimal itu ada disini! Pertanyaan yang sebenarnya sangat logic untuk generasi muda, apakah kalian siap menjadi seorang wirausaha? Siapkah menjadi seorang MEA? Pada akhirnya, menjadi karyawan akan terus dihantui dengan PHK, sekalipun dibawah naungan perusahaan sebesar Chevro*. Belum lagi lapangan kerja yang tidak menyerap banyak, ditambah kehidupanmu yang akan terus menerus diatur orang lain. Bukankah lebih menarik menjadi seorang wirausaha? Kalaupun dihantui dengan rasa takut gagal, hey, kalau orang lain saja sudah mencoba dan berhasil, kenapa kita harus berpikir "mungkin gagal"? Bagi saya, Revolusi Mental itu kini lebih mengena. "Sang Pemenang" rupanya sudah memiliki visi sejauh ini. Rasa penasaran saya sudah mulai terjawab tentang slogan unik ini. 

Bukan tentang bagaimana membuat suasana keruh ini harus kembali bening seperti semula, tetapi bagaimana suasana keruh menjadi warna baru dan tidak kalah menarik dibanding "bening seperti semula". 

Rabu, 03 Februari 2016

Hukum

" Hukum itu menarik, kan? Semua hal didalami. Berpikir logika, fakta, pendapat dan spekulasi. Kamu sih, gamau belajar hukum."

Hal paling menyakitkan yang mengalir dari mulut ayahku semalam. Hahaha ga semenyakitkan itu sih tapi cukup untuk bikin galau sedetik.

Hukum itu selalu menarik. Dunia tidak akan bisa bertahan tanpa hal ini. Ajaibnya, hukum ampuh membuat siapa saja yang akan membuat kekacauan berpikir keras berkali-kali untuk melakukan aksinya (bagi beberapa dengan hati nurani). 

Sejak kemajuan teknologi semakin menjadi, lingkup hukum menjadi semakin luas. Banyak kasus semakin sulit untuk diselesaikan. Semua menjadi serba rumit, padahal masalah yang sebenarnya sangat sederhana, terlalu sederhana, hingga kata orang bijak "Semut di ujung lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak" . 

Pembunuh aktivis HAM akhirnya bebas, beberapa aksi pelanggaran HAM lainnya yang ditutup tanpa titik terang maupun penyelesaian siapa yang sebenarnya bertanggung jawab, apa yang sedang dipikirkan hukum saat ini, tentu saja jika hukum adalah manusia? Mungkin hukum sedang menertawakan. Jika seekor tupai (pandai) menyimpan bangkai, pasti tercium juga (oleh sesuatu yang lebih pandai dari seekor tupai). Sekarang, apakah para tokoh penegak hukum lebih pintar dari tupai-tupai penyimpan bangkai itu?

Sebenernya aku nulis apa sih? Aku gapunya basic hukum, hanya kenal pidana dan perdata, KUHAP dan KUHP dari sampul buku di meja ruang tengah milik ayah dan beberapa headline TV akhir-akhir ini yang membahas pembunuhan melalui racun sianida, hingga aksi kekerasan oleh anggota legislatif. Tapi, entah mengapa, sebagai orang awam, aku sangat tertarik untuk menyaksikan berbagai cerita thriller ala film series western.

Hukum, hukum, hukum. Seberapa besar pengetahuan masyarakat tentang hukum? Bahkan, satu kesempatan aku menyaksikan salah satu presenter berita acara talkshow pagi dengan berbagai pakar di pelataran gedung studio salah satu televisi ternama di Indonesia salah menyebutkan salah satu ilmu dasar hukum hingga si pakar harus mengoreksi "Pengakuan itu hanya ada dalam hukum perdata, hukum pidana tidak menjadikan pengakuan sebagai barang bukti"  kalau tidak salah demikian ralat si pakar. Belum lagi banyaknya komentator di kolom komen media sosial yang deras membahas berbagai isu-isu terkini dengan ke "sok tahu" an mereka. 

Hey, tiba-tiba terlintas untuk membuat sinetron thriller menyubtitusi acara TV swasta yang tidak ada gunanya itu. Muak rasanya, thriller justru lebih menarik dan mencerdaskan dibanding kisah percintaan dengan keluarga yang sama sekali tidak mendidik. Ada sih, sedikit muatan pendidikan hukum, tapi justru malah keliru. Mungkin sudah saatnya sinetron atau drama series berbau thriller dengan ilmu hukum untuk masyarakat agar memperoleh pendidikan hukum yang sebenarnya. Membuat tidak lagi sulit para penyidik dan polisi menjelaskan berbagai biduk permasalahan kriminal di negara ini, kan? Tidak juga membuat lembaga sensor, MUI, dan berbagai lembaga maupun badan lain ribut mengeluarkan statement melarang ataupun mencekal, bukan?

Rabu, 20 Januari 2016

Bijak Sedetik

Kenapa harus dibersihkan kalau akan tetap menjadi kotor? 

Bukankan tujuan membersihkan adalah untuk dikotori kembali?

Kenapa harus dinyalakan kalau nanti juga akan dimatikan?

Jadi tujuan dinyalakan itu untuk dimatikan?

Kenapa harus dipakai kalau nanti kamu juga akan melepaskannya?

Kenapa dibangun bila nanti juga akan runtuh semua?

Kenapa juga sih harus bertemu bila nanti akan berpisah?

Lalu
.
.
.
.
.
.
.
.
Kenapa harus hidup bila nantinya akan mati?

Karena, kita hidup untuk suatu kehidupan setelah kematian

Kamis, 17 Desember 2015

Plastic Soup

Thesis Statement  :    Plastic wastes in the sea will cause negative effects for fish because their habitat get damaged, the fish get poisoned, and will be in extinction
Introduction
Body Paragraph
A.  Their Habitat Get Damaged
     - Ruining Coral Reefs
     - Damaging sea water
B.  The Fish Get Poisoned
     - Chemical Substances
     - Damaged Digestive System
C.  The Fish Will Be In Extinction
     - Number of fish get killed

Conclusion






Hayu Lesya Putri
HI – 4

PLASTICS SOUP
Introduction
            “We’ve become a plastic society”, a quote from Bill Janklow, a member of The U.S House of Representatives from South Dakota. It means everybody uses plastic in his/her daily lifes with low insight of it. Our meals, drinks, and another daily stuffs are wrapped by plastics. Unfortunately, the plastics will end up as trashes after we don’t use them anymore. The jargon says, “Don’t be a litterbug!” is not a nice suggestion anymore  since it still poses another problem. Most of the plastic wastes are end up in the ocean with some ways, such as wind and water. It is the best media because plastic is light and able to float. Meanwhile, Earth consists of 80% of water, there are huge oceans where the plastics will end up in and have a big possibilities on ruining the marine ecosistem including coral reefs, sea water, and some organisms like fish. Moreover, plastic wastes in the sea  cause negative effects for fish because their habitat get damaged, the fish get poisoned, and the fish will be in extinction.
Body Paragraph
     There are a lot of various kinds of fish that live behind the coral reefs. Coral reef is made up with plant, fish, and many other creatures. It is a home for about 25% of all marine life. We can say if it is a “rainforest of the ocean”. However, lots of small fishes that live behind the coral reefs die because of plastic wastes which damaged the coral reefs, it can block plants from getting light and interupt the growth of it. Based on the data, only 5.2% of coral reefs in Indonesia are in a good condition. In other words, coral reefs are a very fragile ecosystem that really sensitive with marine pollution. Besides that, the damages of coral reefs are also influenced by the water sea pollution since water are the best media which send the litters enter into the ocean. Water quality gets worse as litter releases poisons and chemical substances. Actually, plastics are made by some non bio-degradable substances and contain chemical polymer that cannot be broken by microorganisms in a biodegradation process so that plastics are persistent objects. They need hundred years to be decomposed after being separated into tiny pieces, and spread across the ocean but they are not brokendown. Marine ecosystem can get sick from living with the dirty water. In the end, sea water becomes the major of  habitat damaging.
      Not only up there, the old plastic wastes which are not destroyed yet will decompose into tiny pieces. It may possible for getting eaten by fish which eat plankton or another microorganisms because of the similar form. If they accidentally eat those, it will stay inside forever since fish’s digestive system are unable to permeate the plastics and damage its digestive until the fish dies, getting putrefied, and the tiny parts of plastics get back to the sea and spread away. Furthermore, plastics are unsafe since they are made by Benzene and Zinc which cannot be digested by the fish. Moreover, they are also made by Bisphenol A (BPA) and Phthalates (DOP) where if both matters enter into the body of organism, they will ruin the endocrine system and being a pollutan inside while it causes the damaging of endocrine functions such as hormone metabolism disorders, hormone transport disorders, etc. According to research in Minamata and Nigata, Japan, it has known that there was mercury pollution in 1953 through 1968 came from industrial plastic wastes which were using mercury chloride catalyst. It influenced the levels of mercury in fish’s bodies. In the same case, National Marine Institute (LIPI) has found that the level of mercury in Teluk Jakarta reached 0.027ppm, it is four times from the level of mercury in Japan’s cases. Thereby, those substances cannot be released with the fish’s urine. In the end, those plastics will wait for the death of that fish before it returns to sea.
      Unfortunately, the amount of plastic wastes are bigger than the total population of marine organisms. Greenpeace, a global environmental organisation in Amsterdam, has reported about at least 267 species of marine animals have suffered consuming marine plastic wastes. It was predicted if 100.000 marine mammals are threatened by the plastic wastes every year because of 90% of all marine wastes are plastics. On the other hand, every year, people using 700.000 plastics and 80% of those are sent to the ocean without recycled. These conditions get worse because some countries have no concern about the danger of using plastics for oceans except the developed countries, where developing countries have a big percentage of population growth. It may lead to the increasing of stores or industries that using plastics for their costumers to bring their buys. In fact, it has predicted that the total amount of plastic wastes in the ocean are about one hundred million metric tons. Those will lead the fish living to be in danger with extinction. 
Conclusion
            In summary, the problem of plastic wastes in the ocean are already widespread. Every country should know about all aspects of marine are important for the existence of fish. The most important thing we need to concerned about is controlling the use of plastics. It is not too late to deal with our plastics. Try to reduce and recycle what we have used. We must change your mindset about “using plastics is the only way out”. We can work with our imagination, creation, and a little science to invent something that can replace plastics, or we can change plastic wastes into some valuable things as has been taught in some schools. It might be better if we can invent a new material mixture of substances that can change the non-biodegradable substances in plastics so it can be decomposed easily. At least, we can stop using plastic, be more respect with environment, and have a new lifestyle. Remember, big thing starts from a small thing. When these actions are done by people in all over the world, can you imagine how many fish that you have saved from extinction?










REFERENCES



Rabu, 09 Desember 2015

Jatuh Cinta

Bener-bener gabisa dipercaya, saya kali ini jatuh cinta dengan musik, layaknya cinta pertama pada pandangan pertama.

Banyak gairah dan soul yang mengalir dipermainan musik mereka, mulai dari permainan tempo yang unik, can't deny untuk bilang drummer yang sangat menggairahkan, lirik yang unik tapi classy, dalam, ngga norak kayak tentang cinta-cintaan alay ala ftv, ini bener-bener lirik yang membuat kamu terbawa ke tingkat sastra yang paling tinggi, sungguh ajaib kata-kata itu bisa jadi lagu, bahasa Indonesia sangat indah saat dilagukan. Tiga vokalist yang balance banget suaranya, ditambah gitaris yang "gila" dan bassis yang stay cool banget, dan drummer yang bikin lagu-lagu band ini berjiwa lah yang membuat aku menaruh hati pada musik jenis alternative rock untuk pertama kalinya.

Selain itu, permainan band ini dengan band satunya yang ngga kalah berkelas dan legend.

Saya sih yakin, mereka bisa jadi trigger untuk musik Indonesia naik kelas. Band indie yang sekarang sebenernya lebih "musik" daripada band papan atas yang lagi gaada ide dan keliatan banget lagi buntu, malah nyambungin lagu mereka ke budaya kebaratan. Band indie sekarang justru banyak yang menjaga identitas negara kita dan kualitas musiknya lebih upgrade dan lebih enak didengar, lebih kongkrit dan jujur, ngga kebanyakan drama yang bikin bodoh, bikin eargasm banget!

Ini lirik yang paling saya suka

"Lidah kian berlari tanpa henti, tanpa disadari tak ada arti, bahasamu bahas bahasanya, lihat kau bicara dengan siapa" -Bahas Bahasa, Barasuara-

"Memori yang dulu kau hapuskan akan berlari, saranku kau berhenti menyiksa diri, waktu yang akan mengobatimu, yang kau perlu kau mendewasakan itu" -Api dan Lentera, Barasuara-

"Diabetes adalah sebuah proses yang alami" -Sebelah Mata, Efek Rumah Kaca-

Jumat, 04 Desember 2015

Apa

Entah apa yang terlintas, membuatku sangat sulit mempercayai bahwa kali ini aku bagai berdiri di atas seutas tali yang terbentang diantara dua tebing tinggi dengan jurang tepat dibawahku. Tanggung jawab dan kontribusi sangat dibutuhkan dalam lingkunganku yang baru ini. Kedua hal ini harus didukung dengan kehati-hatian, kesabaran, ketelitian, dan kejelian dalam melihat kesempatan atau keburukan dalam suatu tindakan yang nantinya akan aku ambil. 

Saat aku salah, sedikit saja, tali ini akan bergoyang, menghilangkan keseimbangan. Bayangkan jika aku melakukan tindakan yang amat sangat fatal, mungkin aku telah hilang ditelan jurang diantara dua tebing dimana tali yang aku pijak mengandalakan kekuatannya. 

Apa yang kau bayangkan jika aku sudah tertelan jurang, mungkinkah aku meraih ranting pohon untuk bertahan, atau aku harus menerima dengan pasrah jika tanganku hanya tersangkut pada udara yang terus mendorongku kebawah dan menghantam bebatuan di jurang itu?

Jika aku sudah meraih ranting pohon itu, apakah aku akan kembali berharap memiliki kekuatan untuk mencari batu pijakan, ataukah aku akan melepaskan tanganku dari ranting pohon penyelamat itu, atau aku hanya akan menjadi seonggok daging dengan darah dengan nama tanpa nyawa?

Saat aku mampu mendapat batu pijakan, apakah aku akan diam dan mati kelaparan dan kehausan karena aku terlalu takut untuk menyusuri ruang besar pada tebing besar itu, atau aku akan mati karena diserang binatang buas, atau aku akan berburu, atau bahkan meminum urinku sendiri? Saat aku melepaskan tanganku, apakah aku akan menemukan pohon penyelamatku yang lain, atau aku akan mendapat ranting pohon yang lebih baik, atau aku akan menghantam bebatuan di jurang itu?