Kamis, 17 Desember 2015

Plastic Soup

Thesis Statement  :    Plastic wastes in the sea will cause negative effects for fish because their habitat get damaged, the fish get poisoned, and will be in extinction
Introduction
Body Paragraph
A.  Their Habitat Get Damaged
     - Ruining Coral Reefs
     - Damaging sea water
B.  The Fish Get Poisoned
     - Chemical Substances
     - Damaged Digestive System
C.  The Fish Will Be In Extinction
     - Number of fish get killed

Conclusion






Hayu Lesya Putri
HI – 4

PLASTICS SOUP
Introduction
            “We’ve become a plastic society”, a quote from Bill Janklow, a member of The U.S House of Representatives from South Dakota. It means everybody uses plastic in his/her daily lifes with low insight of it. Our meals, drinks, and another daily stuffs are wrapped by plastics. Unfortunately, the plastics will end up as trashes after we don’t use them anymore. The jargon says, “Don’t be a litterbug!” is not a nice suggestion anymore  since it still poses another problem. Most of the plastic wastes are end up in the ocean with some ways, such as wind and water. It is the best media because plastic is light and able to float. Meanwhile, Earth consists of 80% of water, there are huge oceans where the plastics will end up in and have a big possibilities on ruining the marine ecosistem including coral reefs, sea water, and some organisms like fish. Moreover, plastic wastes in the sea  cause negative effects for fish because their habitat get damaged, the fish get poisoned, and the fish will be in extinction.
Body Paragraph
     There are a lot of various kinds of fish that live behind the coral reefs. Coral reef is made up with plant, fish, and many other creatures. It is a home for about 25% of all marine life. We can say if it is a “rainforest of the ocean”. However, lots of small fishes that live behind the coral reefs die because of plastic wastes which damaged the coral reefs, it can block plants from getting light and interupt the growth of it. Based on the data, only 5.2% of coral reefs in Indonesia are in a good condition. In other words, coral reefs are a very fragile ecosystem that really sensitive with marine pollution. Besides that, the damages of coral reefs are also influenced by the water sea pollution since water are the best media which send the litters enter into the ocean. Water quality gets worse as litter releases poisons and chemical substances. Actually, plastics are made by some non bio-degradable substances and contain chemical polymer that cannot be broken by microorganisms in a biodegradation process so that plastics are persistent objects. They need hundred years to be decomposed after being separated into tiny pieces, and spread across the ocean but they are not brokendown. Marine ecosystem can get sick from living with the dirty water. In the end, sea water becomes the major of  habitat damaging.
      Not only up there, the old plastic wastes which are not destroyed yet will decompose into tiny pieces. It may possible for getting eaten by fish which eat plankton or another microorganisms because of the similar form. If they accidentally eat those, it will stay inside forever since fish’s digestive system are unable to permeate the plastics and damage its digestive until the fish dies, getting putrefied, and the tiny parts of plastics get back to the sea and spread away. Furthermore, plastics are unsafe since they are made by Benzene and Zinc which cannot be digested by the fish. Moreover, they are also made by Bisphenol A (BPA) and Phthalates (DOP) where if both matters enter into the body of organism, they will ruin the endocrine system and being a pollutan inside while it causes the damaging of endocrine functions such as hormone metabolism disorders, hormone transport disorders, etc. According to research in Minamata and Nigata, Japan, it has known that there was mercury pollution in 1953 through 1968 came from industrial plastic wastes which were using mercury chloride catalyst. It influenced the levels of mercury in fish’s bodies. In the same case, National Marine Institute (LIPI) has found that the level of mercury in Teluk Jakarta reached 0.027ppm, it is four times from the level of mercury in Japan’s cases. Thereby, those substances cannot be released with the fish’s urine. In the end, those plastics will wait for the death of that fish before it returns to sea.
      Unfortunately, the amount of plastic wastes are bigger than the total population of marine organisms. Greenpeace, a global environmental organisation in Amsterdam, has reported about at least 267 species of marine animals have suffered consuming marine plastic wastes. It was predicted if 100.000 marine mammals are threatened by the plastic wastes every year because of 90% of all marine wastes are plastics. On the other hand, every year, people using 700.000 plastics and 80% of those are sent to the ocean without recycled. These conditions get worse because some countries have no concern about the danger of using plastics for oceans except the developed countries, where developing countries have a big percentage of population growth. It may lead to the increasing of stores or industries that using plastics for their costumers to bring their buys. In fact, it has predicted that the total amount of plastic wastes in the ocean are about one hundred million metric tons. Those will lead the fish living to be in danger with extinction. 
Conclusion
            In summary, the problem of plastic wastes in the ocean are already widespread. Every country should know about all aspects of marine are important for the existence of fish. The most important thing we need to concerned about is controlling the use of plastics. It is not too late to deal with our plastics. Try to reduce and recycle what we have used. We must change your mindset about “using plastics is the only way out”. We can work with our imagination, creation, and a little science to invent something that can replace plastics, or we can change plastic wastes into some valuable things as has been taught in some schools. It might be better if we can invent a new material mixture of substances that can change the non-biodegradable substances in plastics so it can be decomposed easily. At least, we can stop using plastic, be more respect with environment, and have a new lifestyle. Remember, big thing starts from a small thing. When these actions are done by people in all over the world, can you imagine how many fish that you have saved from extinction?










REFERENCES



Rabu, 09 Desember 2015

Jatuh Cinta

Bener-bener gabisa dipercaya, saya kali ini jatuh cinta dengan musik, layaknya cinta pertama pada pandangan pertama.

Banyak gairah dan soul yang mengalir dipermainan musik mereka, mulai dari permainan tempo yang unik, can't deny untuk bilang drummer yang sangat menggairahkan, lirik yang unik tapi classy, dalam, ngga norak kayak tentang cinta-cintaan alay ala ftv, ini bener-bener lirik yang membuat kamu terbawa ke tingkat sastra yang paling tinggi, sungguh ajaib kata-kata itu bisa jadi lagu, bahasa Indonesia sangat indah saat dilagukan. Tiga vokalist yang balance banget suaranya, ditambah gitaris yang "gila" dan bassis yang stay cool banget, dan drummer yang bikin lagu-lagu band ini berjiwa lah yang membuat aku menaruh hati pada musik jenis alternative rock untuk pertama kalinya.

Selain itu, permainan band ini dengan band satunya yang ngga kalah berkelas dan legend.

Saya sih yakin, mereka bisa jadi trigger untuk musik Indonesia naik kelas. Band indie yang sekarang sebenernya lebih "musik" daripada band papan atas yang lagi gaada ide dan keliatan banget lagi buntu, malah nyambungin lagu mereka ke budaya kebaratan. Band indie sekarang justru banyak yang menjaga identitas negara kita dan kualitas musiknya lebih upgrade dan lebih enak didengar, lebih kongkrit dan jujur, ngga kebanyakan drama yang bikin bodoh, bikin eargasm banget!

Ini lirik yang paling saya suka

"Lidah kian berlari tanpa henti, tanpa disadari tak ada arti, bahasamu bahas bahasanya, lihat kau bicara dengan siapa" -Bahas Bahasa, Barasuara-

"Memori yang dulu kau hapuskan akan berlari, saranku kau berhenti menyiksa diri, waktu yang akan mengobatimu, yang kau perlu kau mendewasakan itu" -Api dan Lentera, Barasuara-

"Diabetes adalah sebuah proses yang alami" -Sebelah Mata, Efek Rumah Kaca-

Jumat, 04 Desember 2015

Apa

Entah apa yang terlintas, membuatku sangat sulit mempercayai bahwa kali ini aku bagai berdiri di atas seutas tali yang terbentang diantara dua tebing tinggi dengan jurang tepat dibawahku. Tanggung jawab dan kontribusi sangat dibutuhkan dalam lingkunganku yang baru ini. Kedua hal ini harus didukung dengan kehati-hatian, kesabaran, ketelitian, dan kejelian dalam melihat kesempatan atau keburukan dalam suatu tindakan yang nantinya akan aku ambil. 

Saat aku salah, sedikit saja, tali ini akan bergoyang, menghilangkan keseimbangan. Bayangkan jika aku melakukan tindakan yang amat sangat fatal, mungkin aku telah hilang ditelan jurang diantara dua tebing dimana tali yang aku pijak mengandalakan kekuatannya. 

Apa yang kau bayangkan jika aku sudah tertelan jurang, mungkinkah aku meraih ranting pohon untuk bertahan, atau aku harus menerima dengan pasrah jika tanganku hanya tersangkut pada udara yang terus mendorongku kebawah dan menghantam bebatuan di jurang itu?

Jika aku sudah meraih ranting pohon itu, apakah aku akan kembali berharap memiliki kekuatan untuk mencari batu pijakan, ataukah aku akan melepaskan tanganku dari ranting pohon penyelamat itu, atau aku hanya akan menjadi seonggok daging dengan darah dengan nama tanpa nyawa?

Saat aku mampu mendapat batu pijakan, apakah aku akan diam dan mati kelaparan dan kehausan karena aku terlalu takut untuk menyusuri ruang besar pada tebing besar itu, atau aku akan mati karena diserang binatang buas, atau aku akan berburu, atau bahkan meminum urinku sendiri? Saat aku melepaskan tanganku, apakah aku akan menemukan pohon penyelamatku yang lain, atau aku akan mendapat ranting pohon yang lebih baik, atau aku akan menghantam bebatuan di jurang itu?

Selasa, 07 Juli 2015

Tips Menghadapi SBMPTN, dari Pengalaman

Bismillahirahmanirrahim..

For the firt time I write a useful blog haha

Iseng aja.. Mau kasih tau buat adik-adik yang bakal ikut SBMPTN taun taun berikutnya bagaimana atmosfernya..

Saya yakin, banyak dari kalian yang akan, atau malah sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi soal "calon mahasiswa". Mahasiswa.. Kenapa disebut mahasiswa, kenapa ngga siswa aja? Kalian udah pinter, pikir sendiri. Artinya the stake is much higher.

Kalau saya sudah mulai mempersiapkan sejak kelas 2. Persiapannya apa aja?

Hal pertama yang saya persiapkan adalah MENTAL.

Saya harus mengerti betapa pentingnya SBMPTN yang akan menentukan masa depan saya untuk 4 tahun, 5, 6, even for the rest of my life based on this momment. Camkan itu baik-baik! Kalau kalian masih menganggap waktu kalian masih panjang, jadi masih bisa nanti nanti nyiapinnya. TETOT! Salah besar.

Kalian juga harus mengerti bahwa soal-soal yang akan disajikan beda jauh banget sama soal ujian sekolah kalian. Mau se expert apapun kalian mampu menjawab soal ujian di sekolah kalian, gaada yang bisa nandingin hebatnya soal SBMPTN! Percaya deh, kalian baru liat soalnya aja kepala udah minta dijedotin ke tembok. Saya ga bercanda.

Disinilah fungsi kenapa mental adalah hal pertama yang harus disiapkan. Mulai sugestiin ke diri kamu bahwa kamu pasti bisa mengerjakan soal soal itu. Kalau kata guru saya, "Apapun energi yang kamu berikan terhadap alam. alam akan juga merefleksikan energi tersebut ke kamu. Kalau kamu sudah mulai pesimis, bilang gaakan bisa ngerjain soal SBMPTN, jangan heran waktu kamu SBMPTN kamu juga ga bisa ngerjainnya." Naudzubillahimindalik.

Hal kedua yang kalian harus siapkan adalah KEMAMPUAN. Ini adalah modal besar yang gakalah penting. Kalau kalian hanya yakin, kalian gaakan bisa ngerjainnya kalau gapunya kemampuan. Ada tawakal ada ikhtiar. Kalau bisa, satu hari kalian harus sanggupi mengerjakan soal minimal 40. Bayangkan akan ada berapa banyak jenis soal yang sudah kalian coba dalam 1 bulan. 40x30 yaa sekitar 1200. Tapi, percaya deh, itu gacukup!

Soal SBMPTN itu yang buat dosen. Bukan guru sekolah yang soalnya standar. Jujur, setelah saya ikut SBMPTN, trus saya liat lagi soal ujian sekolah, saya ketawa. Kenapa saya dulu protes soal ini susah padahal saya bisa ngerjain da sumpah dasar prinsip soal itu simpel banget.

Saya kasih contoh soal SBMPTN yang sudah saya translate supaya kalian bisa makin ngerti maksud prinsip soal yang simpel itu gimana, Saya suka Kimia, jadi saya kasih salah satu soal Kimia.

Kalau kalian udah belajar tentang Stoikhiometri. Ini yang paling saya suka!
Kalian udah bisa nentuin mol, molaritas atau konsentrasi, molalitas, nyetarain reaksi, nentuin berapa banyak mol pada mula-mula, mol pada reaksi, mol di akhir, atau bahkan udah diketahui berapa gram senyawanya, diketahui Mr senyawanya, Soal SBMPTN tuh gacuma itu. Biasanya stoikhiometri itu selalu pasti dan mutlak dalam soal digabungin sama teori lain. Contohnya kaya detlaH, titik didih atau lelehnya. Banyak sangat banyak kemungkinan satu prinsip soal digabung sama prinsip soal lain. Sabar, Percaya kalian bisa. Jangan gegabah. Teliti baca soal. Teliti ngitung!

Hal ketiga yang harus kalian siapin, SIKAP. Kalian harus percaya, kalian bisa berhasil bukan karena diri kalian sendiri, bukan karena usaha kalian sendiri, bukan karena doa kalian sendiri. Tapi... bisa jadi karena doa orangtua kalian, usaha orang tua. Atau bahkan sama orang yang kalian ga kenal. Contoh, kalau kalian ke sekolah naik angkot. Kalian selalu angkuh, ada ibu ibu tua yang masuk angkot terus kalian duduk diem manis di tempat nyaman sedangkan ibu tua itu duduk di deket pintu. Kalian harus mulai melatih kebesaran hati kalian. Dengan kalian pindah, saya yakin ibu tua itu gaakan lupa sama kalian dan pasti dalam hatinya akan mendoakan hal hal baik sama kamu. Kalau kalian angkuh, saya yakin kalian ngga akan dapet doa. Contoh lain kalau kalian bayar jajanan gorengan atau apalah, kasih lebih sedikit, itung itung sedekah. Saya yakin emangnya pasti punya kesan sama kamu, dan bakal doain kamu. Karena doa yang dijabbah Allah tuh doa orang tua, doa kamu yang sholeh sholehah, dan doa orang yang kamu gakenal.

Terakhir, doa. Kalian punya cara sendiri untuk doa. Saya hanya bisa ngingetin, doa kalian yang sering, yang dipanjaatkan di jam jam jabbah, dan doa orang orang yang sudah kalian bantu saat mereka kesusahan.

Saya punya satu cerita. Kaka kelas saya, yang notabene sekolah saya tuh ga favorit. Dia juga ranking 3 di sekolah, maksudnya rank 3 dari bawah. Karena nasikuning yang dia beli tiap pagi kalau dia mau berangkat ke sekolah atau jalan jalan, lalu dia kasih ke pemulung, atau siapapun yang menurut dia pantes dia kasih itu. Tau dimana dia sekarang? UI! Administrasi negara. Semuanya bisa, semuanya mungkin, tapi kalian gaboleh sombong, bukan kalian yang bikin kalian sukses, tapi lingkungan.

Makanya, energi apa yang kamu kasih ke lingkungan, lingkungan akan merefleksikannya padamu. Jangan pernah lupa sama Allah, satusatunya yang bisa bikin kalian bisa masuk PTN yang kalian suka, atau bahkan satusatunya yang bisa arahin kalian ke masa depan yang terbaik untuk diri kalian.

Salam dan sukses! Tebar kebaikan agar kebaikan itu datang sendiri padamu..

Senin, 27 Oktober 2014

Pinang Terbelah Dua

"Chil, apa kabar kamu?"
"Baik, aku masuk dulu yaa"

Hari itu sungguh tragis rasanya. Bisa-bisanya aku bertemu dengan seonggok masa lalu yang rasanya ingin ku bakar dan ku kubur abunya. Reflek cepat tanganku meraih BB ku di dalam jaket almamater ini, speed dial "P" dan tak sampai 2x nada sambung Mas Firman sudah menyapa di sebrang sana.

"Mas, Chila baru aja disapa Ka Damar!!"
"Waduh, kamu tenang dulu. Kamu dimana sekarang?"
"Di toilet kampus, Mas. Mas dimana?"
"Aku lagi di warteg bawah, lagi makan. Kamu tunggu disitu aku kesana sekarang. Itung 5 menit yaa. Tenang.."
"Sip, hatihati mas"

Hmm, pada akhirnya pun aku menjadi sangat dekat dengan Mas Firman. Meskipun status kita tidak seperti statusku dengan Ka Damar. Semua orang keheranan dengan perubahan Ka Damar tempo hari. Tak cukup sampai disana, setelah perubahannya dari seorang bidadara menjadi layaknya Godzila, sekarang mendadak ia berubah kembali menjadi bidadara. Justru hal itu yang membuatku semakin takut dan tidak yakin. Aku takut kalau dia ternyata belum berubah, alias, metodemya supaya ia bisa membalas dendamnya kepadaku. Kali ini wajahku sudah sangat pucat pasi, ditambah keringat dingin ku yang terus mengucur membasahi baju dan jaket ini. Jaket biru muda dan putih bertuliskan "FARMASI" dan nama kampusku di dada sebelah kanan, serta tahun angkatan di lengan kanan. Tak sadar, sudah 2 tahun semenjak aku lulus, dan secara otomatis tak mendengar kabar, dan secara tidak langsung hidup "tenang" dengan Ka Firman.

Sudah 5 menit, tapi belum juga aku dengar tanda-tanda kehadiran Mas Firman. Aku kembali telfon dia, kali ini nada sambungnya cukup lama. 

"Chil, aku ga liat siapa-siapa disini, kamu keluar aja, ada aku ko"

Aku segera keluar dengan wajah sedikit lega namun tetap was was, Wajahku masih sangat pucat hingga tidak bisa Ka Firman bedakan mana kulit wajah mana bibir. Ia tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang sudah sangat seperti patung itu. Gerakanku juga mulai kaku. Namun dengan cepat Ka Firman merangkulku, "Chilaaaa kamu kok kaya manekin di factory outlet siih jahahha" 
"Daripada kaka, larilari dari kantin bawah kesini, tuhkan jauh banget huu"
"yaudah, kamu mau apa, eskrim? eh jangan deng, kamu kan baru sembuh yaa. Yaudah kita ngeramen aja yuk! kan kasian kamu butuh yang pedes biar cenghar lagi"
"Mas, aku ada kelas setengah jam lagi"
"ayok bentaran aja, janji 15 menit"
"Sip, 20 menit!!"
Rasanya memang sangat nyaman jika sudah dengan Mas Firman sambil bercanda. Sampai aku memesan 2 porsi karena memang kejadian tadi membuat aku kehabisan persediaan tenaga. Aku harus beberapa kali menarik nafas karena kadang aku lupa nafas. Ramen ini memang enak dan kesukaanku, original level 4. Sudah cukup membuat air mata mengalir deras..

Sebentar.. Itu.... "Mas Firmaan!! Ada Ka Damar!!"
"Mana sih?"
"Itu makan sendirian di pojok!!"
"Ohiya bener"
"Mas, ini udah 15 menit plis banget ayo balik!"
"5 menit lagi perjanjiannya"
"Yahhh maaas perjanjian awal 15 menit kan ayolaah"
"Ngga! tunggu dulu bentar maniis"
"Maaas mau nunggu apa lagi siih"
"Nunggu dia nyapa kita"
"Ih,, cari mati. Emang kaka kucing nyawanya ada 7!"

"Hey Chila.."
"Eh. Ka Damar, ketemu lagi"
"Mas Firman, apa kabar? Sekarang disini?"

"Iya, Mar, kedokteran, dibiayain sama ibunya Chila"
"Wah, keren banget, kapan yaa kita terakhir ngumpul bertiga kaya gini?"
"Udah lama yaa. Eh iya udah 20 menit Mas Firman janji.."

"Oke, Mar, aku anter Chila ke kelas dulu ya"
"Oh, iya, aku tunggu disiini, Mas"

Haduh, campur aduk, Mata kuliah Farmasetika yang cuma 4 SKS ini aku jalani dengan pikiran bercabang, kaya rambut.. bener bener gahabis pikir bisa-bisanya ketemu Damar lagi, dia mau ngapain sih disini? Masa iya dia balik dari Australia buat liburan? Mana ada bulan bulan gini kampus liburan? Atau jangan jangan dia kesini mau ngabarin tentang si Shinta itu -__- Kita lihat nanti deh.. Aku tanya aja ke Mas Firman ngomong apa aja. Jangan-jangan lagi pada adu jotos. Langsung aku curi-curi kesempatan. SMS Mas Firman..

"Mas, aku beres jam 2, plis bgt jemput aku di depan kelas!"

drett "Siap Nonaaa"

Huh, semoga aja gaada apa apa..

"mas, tadi ngomongin apa ajaa?"
"Ah, ngga ada apa apa, nanya kabar aja, kabar aku, kabar kamu.. Dia curiga kuliah disana cuma 3 taun, IPK dia yang sblmnya tinggi, IP dia skrg juga tinggi, artinya, 6 bulan lagi dia udah bisa balik Indonesia buat penelitian."
"Jurusan kalian kan sama, kenapa ga sharing aja sih?"
"Kan emang tadi kita sharing, daasar lemot"
"Ohh, sorii, trus dia cerita tntg Shinta ngga?"
"Dikit, dia blg Shinta tuh ternyata makhluk gapunya otak"
"Bener kan kata aku juga di guna-guna"
"Menurut kaka sih bukan diguna-guna, didoktrin"
"Ko tau?"
"Lah kan kemarin si Vicka yang bilang hasil dia nyari tau tentang Shinta lewat komputer, Shinta kan pinter cuci otak, secara, psikologi, tapi ambil sampingan ilmu hitam kan?"
"Vicka ga cerita ada ilmu hitamnya ah"
"Mas tau, masa lupa mas bisa liat"
"Oh iya bener, kenapa ga cerita aja dari dulu?"
"Mas kan takut pengelihatan Mas gamasuk akal kamu"

"Oh gitu.. Yaudah Chila ngantuk Mas, pulang yuk"
"Pantes dari tadi ganyambung. Yuk, pake jaketnya!"


Cuma itu aja toh..

Sampe rumah, bukannya dibukain Mbak Darmi, malah disambut sama Damar. Moodnya langsung ancur banget. Bikin trauma liat muka dia doang.

"Eh Chil pas banget baru sampe, Kaka mau minta bantuan"
"Aduh bantuan apa,Ka? Chila ngantuk banget smalem ga tidur"
"Oh yaudah deh lain kali aja"
"Ada Mas Firman tuh, Mas aku duluan yaa makasiih"

Senin, 01 September 2014

Life and Its Purpose

Innalilahiwainnailaihirajiun..

Salah satu teman sekolahku kemarin malam meninggal dunia..

Entah apa yang diinginkan kehidupan ini bila hanya diakhiri dengan kepergian tanpa berpamitan

Mungkin memang aku bukan teman yang kenal dekat dengannya. Tapi rasanya melihat sahabatku menangis begitu kehilangan membuat aku ikut terbawa suasana. Padahal rasanya aku bukan orang yang mudah menangis dengan hal-hal seperti ini. Yang aku tau bahwa kita hidup untuk mati. Kita mati karena kita hidup.

Pagi itu terlalu siang untukku menyimpan tas di bangku. Rasanya hari ini ada sesuatu yang aneh. Langit mendung dan bahkan sangat dingin menurutku. Datangnya sahabat ku yang lainnya, sebut saja namanya Acong (sebenarnya namanya memang Acong). Dia tertawa, setelah dia berada lebih dekat denganku, dia tengah menangis. Jarang sekali dia menangis seperti itu. Kemudian aku tanyakan ke sahabatku yang lain, sebut saja namanya Nisnud (lagi-lagi memang nama sebenarnya Nisnud) yang sedang mendampingi Acong. Aku bertanya "Kenapa?" .. "Khotib" "Hah??" "Khotib meninggal"

Pikiranku sejenak kosong. Rasanya baru kemarin anggota OSIS datang ke kelas kami untuk meminta sumbangan operasi Almarhum tapi kenapa dia malah pergi?

Aku langsung mengedarkan pandangku mencari tas sahabatku yang lain, sebut saja Cipa (namanya memang Cipa). Dia belum datang. Saat aku memastikan Acong sudah baikan aku mengajak sahabatku yang lainnya, Aley. Aku ajak Aley pergi ke luar kelas. Entah kemana. Berkali-kali Aley bertanya "Kita mau kemana? Kita mau ngapain?" Tapi aku hanya menjawab "Aku bingung. Aku bete." "Bete kenapa? Acong?" "Bukan" "Terus?" "Yaa bingung aja.."

Akhirnya aku memutuskan untuk membenahi kerudungku di kamar mandi tamu. Letaknya tidak jauh dari gerbang, sehingga aku bisa langsung menyambut Cipa saat dia datang. Rupanya, setelah aku keluar kamar mandi memang Cipa belum datang. Aku mengajak Aley kembali ke kelas. Letak kelasku "tusuk sate" dengan koridor Kantin, kalau ingin ke kelas pasti lewat Kantin dengan berbagai aroma yang menyenangkan perut karena masih pagi. Aku melihat di Kantin, Syahla, gadis manis cantik bertumbuh pendek dengan mata dan hidungnya yang sembab dan merah. Kami bertemu mata, kemudian aku segera menghampiri dia. Dia menghambur dan kembali menangis dengan begitu dalamnya. Aku memeluknya dan tak kuasa menahan air mata lagi. Rupanya batasku bisa menahan hanya sampai sini.

Aku tidak pernah kenal dia, tidak pernah berbicara dengannya, tapi kenapa aku merasa begitu sedih?

Aku memeluknya sambil berbisik sabar. Mengelus punggungnya yang mungil dan segera aku lepaskan pelukanku. Aku menyeka air mataku sebelum aku menjadi pusat perhatian siswa-siswa yang baru datang. Inez menghampiri dan berkata "Kaget yaa, cepet banget.."

Orang -orang baik biasanya akan dipanggil Allah secepatnya, atau dengan keadaan umur panjang.

Setelahnya aku sampai di kelas, lalu aku seperti orang linglung. Aku bingung aku harus melakukan apa. Kemudian aku keluar kelas dan menangkap sosok Cipa yang sedang menenteng helm dan jaketnya, menutupi wajahnya yang sudah merah jambu. Aku segera melihat mata sipitnya yang sembab. Dia menyambutku dengan sekilas senyum yang begitu menyayat. Air mataku tidak bisa terbendung.. Cipa adalah mantan Khotib. dan dia mengaku bahwa Khotib adalah mantan yang paling indah karena sholehnya. Cipa memang sudah punya pacar. Tapi sempat beberapa kali dia bercerita bahwa dia menyesal melepas Khotib, karena Khotib adalah sosok lelaki yang jumlahnya bisa dihitung jari di dunia ini. Baik, sholeh, berbakti pada orang tua, dan hal-hal lain yang membuat orang tuanya begitu bangga padanya.

Aku menangis karena Cipa menceritakan isi hatinya "Aku masih sayang sama Khotib.. Aku nyesel aku mau jenguk dia di rumah sakit tapi selalu ga sempet.. Dia bilang dia udah gabisa jadi pemain bola lagi.. Padahal itu hal yang paling dia mau.. Orang tuanya masih suka hubungin aku dan minta aku balikan sama Khotib.. Aku masih sayang sama dia.. Dia sempet bilang "aku ga kemana-mana, masih disini ko.."

Kata-kata itu mengalir begitu saja dengan suara yang tercekat dan membuat siapa saja yang mendengarnya merasa perih. Aku saja yang tidak kenal Khotib rasanya tidak ingin dia dipanggil begitu saja..

Lalu seketika aku ingat..

Malam saat Khotib meninggal. Aku sedang belajar matematika karena esok harinya aku harus ulangan. Saat itu masih jam 23.30. Semua orang di rumah sudah tidur, hanya aku yang masih terjaga karena sudah menabung tidur sebelum belajar. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dengan sendirinya, diiringi dengan angin yang begitu dingin menusuk. Aku segera keluar kamar dan mencari sumber angin mana yang kiranya bisa membuka pintu kamarku.. Aku cek semua orang, sudah tidur dengan suara dengkuran khas masing-masing. Aku cek semua pintu dan jendela, sudah aku pastikan tidak ada yang terbuka. Ditambah dengan pendengaranku yang tidak terdengar sama sekali ada angin besar. Lalu aku menunggu fenomena apa yang bisa membuat aku menerima ini dengan akal sehat, aku tunggu di depan kamar, aku tunggu angin yang sama yang kiranya bisa membuka pintu ini. Tapi tetap saja tidak ada, malah suasana di luar kamarku lebih hangat, tidak mungkin jika angin sedingin itu melewati kamarku.

Mungkin.. Itu yang namanya firasat..

Setelahnya, aku merasa menyesal dengan kejadian ini. Kenapa harus terjadi dan membuat Cipa begitu sakitnya.. Kenapa harus ada yang tersakiti saat yang lain pergi.. Kenapa kita harus tabah dan tegar saat air mata sangat sulit untuk dikendalikan.. Kenapa semua yang baik begitu cepat berlalu..

Buku Rantau 1 Muara memang masih menjadi favoritku. Aku ingat ada bagian yang menceritakan seseorang yang sangat berarti untuk pemeran utama, meninggal dunia sebagai korban dari runtuhnya Menara WTC 11 September silam. Dari sana, aku belajar bagaimana menghadapi suatu kepergian yang tidak pasti. Suatu kenyataan yang buram.

Allahumaghfirlahu warhamhu waafihii wa'fuanhu. Amin..

Jumat, 29 Agustus 2014

Man Saara Ala Darbi Washala (Rantau 1 Muara A.Fuadi)

Sejak detik aku melanjutkan membaca Rantau 1 Muara ciptaan seorang darah Minang yang luar biasa bernama Ahmad Fuadi yang merupakan lulusan Gontor, S1 UNPAD HI dan S2 Beasiswa Fulbright di George Washington University di Amerika. Ceritanya begitu menggebu, membuat aku ikut terbakar dalam semangat perjuangannya meraih cita-cita.

Mulai sejak Juli kemarin, semua ilmu yang ada di otakku akan aku gunakan untuk meraih satu cita-cita yang menjadi pilihan kepala-kepala pandai seluruh dunia. Kursi Perguruan Tinggi. Rasanya 8 bulan adalah waktu yang terlalu singkat. Jikalau aku bertemu jin teko Alladin, aku hanya akan meminta 1 permintaan, membuat 8 bulan terasa sangat lama bagiku.

Permintaan itu tidaklah mungkin. Allah rupanya lebih mendengarkanku dibandingkan jin teko Alladin. 8 bulan ini akan terasa sangat lama. Ini baru 3 minggu, dan rasanya sudah ingin menyerah saja.

Menyerah adalah extra option bagiku. Jika memang tidak bisa dipertahankan, menyiksa diri, untuk apalah. Tapi semua yang aku terapkan dalam hidup rupanya salah besar.

Jika pernah mendengar trilogi "Negeri 5 Menara', "Ranah 3 Warna, dan "Rantau 1 Muara", ini adalah bacaan favoritku. Belum ada buku lain yang membuat aku begitu mencintai dan mensyukuri semua nikmat Allah. Dalam Q.S Ar-Rahman sendiri jelas-jelas tertulis "Fa bi ayyi aa laa irabbikumaa tukadz dzibaan" diulang 31 kali dengan arti "Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?" . Untuk apa lagi aku mengeluh atas hal yang sebenarnya sudah sangat cukup untukku? Untuk apa lagi aku mencari hal yang sebenarnya sudah aku miliki? Kenapa harus aku keluhkan segala nikmat terselubung ini?

Awalnya, aku merasa bahwa sekolah sangat menyiksa. Rasanya di luar negeri tidak ada yang belajar se-ekstrim di Indonesia. Anak seumuran kami, 15-17 tahun sudah dituntut untuk mempelajari berbagai pelajaran eksak yang terlalu rinci. Untuk apa sekolah menghabiskan waktu hingga 8 jam, hingga tugas yang bahkan terasa mencekik. Banyaknya materi pembelajaran bahkan pelajaran itu sendiri mencapai angka 16 pelajaran dan tidak menutup kemungkinan untuk menjadi bertambah banyak.

Semua aku keluhkan. Tapi Dia, menertawakanku..

Hingga Allah memberikan aku jawabannya, lewat sebuah kupon Gramedia sebesar 25.000 yang berakhir masa berlakunya pada tanggal 31 Juli kemarin. Aku mengajak kakakku yang paling tampan itu ke Gramedia yang kemudian menraktirku hari itu. Dia membelikan aku novel yang sudah aku tunggu, lebih tepatnya menunggu kesanggupan rezekiku untuk membelinya. Setiap menyentuh bahkan melihat covernya saja, rasanya semua bulu di tubuh ini berdiri. Sebegitu dahsyatnya buku ini, begitu kokoh dan mendalam, berisi kejujuran yang selama ini aku hauskan. 

Beberapa kalimat menjadi penyemangat hidupku yang baru. Entah mengapa, hanya dalam 5 hari aku tamatkan novel itu, hidupku serasa menjadi selangkah lebih maju. Aku mulai merasa lebih dewasa secara batiniah. Semua yang menjadi pertanyaanku selama ini terjawab sudah. Di dalam buku itu, halaman 159, terkandung jawaban yang bahkan membacanya saja membuat aku menangis. Ini kutipannya : 

' "Ini adalah esensi dari filosofi Minang, bahwa alam terkembang adalah guru. Ini juga esensi dari syair tentang perantau dari Imam Syafii." Aku kemudian membacakan ke Dinara potongan syair yang menggetarkan itu, "... Merantaulah, kau akan mendapat pengganti kerabat dan teman... Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang..." '

Aku membaca kutipan di atas tepat saat jam menjelang istirahat sekolah, mataku berkaca-kaca sebelum aku dipanggil seorang temanku yang menanyakan apa yang sedang aku baca. 

Setelah aku membaca goresan tinta paling indah yang pernah aku lihat itu, hidupku berubah 180 derajat. Aku menjadi begitu rela berlelah-lelah menjalani rutinitasku. Tugaskah, belajarkah, tambahankah, bahkan ekstra waktu untuk solat pun menjadi aku lakukan dengan begitu ikhlasnya. Betapa kuatnya kutipan syair Imam Syafii itu untukku. Bahkan sekarang, aku mencari kesibukan sendiri, yang inti purpose nya adalah supaya aku lelah. Hanya itu tujuanku.

Aku ingat, malam itu aku baru saja pulang dari Inten. Semenjak kelas 12, kewajibanku bertambah, sekolah dari jam 6.30 - 14.45, dilanjutkan INTEN 15.30 - 18.35 dan aku melakukan itu tanpa diselingi pulang ke rumah. Barulah aku melepas rindu dengan kamarku jam 19.30 karena perjalanan berjuang bersama banyaknya orang kantoran yang baru pulang. Aku kehujanan. Di perempatan lampu merah SAMSAT dan Carefour, aku berhenti. Aku melihat motorku sendiri, aku melihat jam tanganku, aku melihat baju seragamku, aku melihat kaus kakiku yang sudah kotor kuyup karena air yang terciprat dari aspal Jalan Soekarno-Hatta, lalu aku tersenyum sampai gigiku dapat merasakan dinginnya Bandung. Inikah perjuangan orang sukses itu?

Aku memakai baju seragam itu selama 13 jam. Aku memaknainya "Ini adalah kali terakhir kamu menikmati putih abumu". Setiap harinya aku mengerjakan soal demi soal yang sulit dengan sabar seraya berkata "Ini tantangan terakhirmu di bangku kursi coklat kayu ini". Setiap saat aku memikirkan tentang gadget apa yang bisa menggantikan BB ku yang sebenarnya masih indah berumur 1,5 tahun ini. tapi hati selalu menyanggah "iPhone, lenovo, samsung, semua tinggal pilih. Saat kamu sudah duduk di kursi PTN yang menjadi pilihan penentu masa depanmu itu". Sedikit berlebihan tapi ini mampu membuatku tidak terbawa arus permainan "Let's Get Rich" yang kemudian aku beri nama "Let's Get Poisoned". Ini juga mampu membuat aku bertahan menghadapi soal Fisika, Kimia dan Matematika yang selalu aku panggil "Si Laknat" ini. Aku baru ingat, yang bisa melaknat ilmu ini adalah penemunya, bahkan dia pun belum tentu bisa melaknat karena yang sering melaknat dan selalu pamungkas hanyalah Allah.

Pada akhirnya aku sadar..

Semua yang aku lakukan, menjadi rutinitasku, adalah pilihanku sendiri. Mulai dari sekolah, kegiatan luar sekolah, bahkan sampai nonton film marathon pun itu adalah pilihanku. Bukankah tugasku disini hanya sebagai khalifah, menjadi hamba Allah dan belajar menuntut ilmu demi kenaikan derajatku?

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Tadi aku baru saja membuka pintu pagar dan garasi, Ibuku baru saja pulang membawa makanan-makanan kesukaanku: siomay, tumis daun pepaya dan jengkol. Saat aku tengah mengaduk jengkol yang sedang aku panaskan karena takut basi untuk esok hari, Ayahku melihat ekor tikus di rak penyimpanan Tuppe*ware. Ini jagonya Ayah, gebukkin tikus sampai mampus. SUKSES! Setelah aku membantu memberikan space untuk Ayahku memukuli mangsanya alias kabur, aku melihat tikus itu jumpalitan dipukuli Ayah dengan sapu ijuk dan akhirnya, mati. Aku tertawa-tawa melihat Ayahku seperti baru saja kedatangan perampok yang kemudian berhasil ia habisi. Ia memukulinya dengan segenap jiwa raga, sampai aku bisa mendengar gemertuk gigi Ayah karena begitu "gemas"nya dengan tikus yang tidak terlalu besar itu.

Lalu, aku lanjutkan mengaduk. Tapi aku tiba-tiba berpikiran tentang tikus tadi. Jika aku berada di tempat yang tidak tepat dan melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan, aku layaknya tikus tadi. Dianggap perampok dan dihabisi oleh pemilik tempatnya. Kalaulah aku masuk ke sebuah PTN favorit dengan minat tertinggi dan masa depan sangat jelas, tapi tidaklah sesuai dengan kondisi "siapa aku" alias tidak cocok dengan kepribadian dan kemampuanku, kemudian aku tidak bisa bertahan disana, rasanya bukanlah cita-cita semua orang. Beginilah cara Allah memberikan petunjuknya. Manusia yang perlu berlatih peka terhadap tanda-tandaNya yang begitu jelas.

Siapa yang berjalan di jalannya, akan sampai di tujuan.. Man Saara Ala Darbi Washala..

Rupanya, novel Rantau 1 Muara karya Bang Fuadi ini mampu membuatku lebih peka dan pandai menganalogikan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarku. Tak hanya itu, novel ini berkisah tentang bertemunya Bang Fuadi yang ditokohkan sebagai Alif, bertemu dengan belahan jiwanya. Itu yang membuatku merasa geli dan gemas setiap membacanya. Membuatku penasaran apakah calon mertuanya itu akan menyetujui pinangannya itu? Sayangnya ini lanjutan yang terakhir. Sebenarnya aku menanti buku lanjutannya, tapi yasudahlah, itu fungsinya syair Imam Syafii : "Merantaulah, kau akan mendapat pengganti kerabat dan kawan"

Negeri 5 Menara : Man Jadda Wajada... Siapa bersungguh-sungguh akan berhasil..
Ranah 3 Warna : Man Shabara Zhafira... Siapa yang bersabar akan beruntung..
Rantau 1 Muara : Man Saara Ala Darbi Washala... Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai tujuan