Rabu, 12 Juni 2013

Chance To Change

Apa yang kamu sudah lakukan, sebelum nantinya waktumu dihentikan oleh-Nya?

Ini pertanyaan yang sampai saat ini belum juga bisa aku jawab. Aku pikir, hal yang selama ini aku lakukan tidak jauh dari kata munafik, maksiat, tercela, entah kata apa yang bisa menjelaskannya dengan tepat. Hal ini juga yang membuat aku berpikir, bukankah lelahku ini, sakitku ini, adalah tamparan dariNya agar menjadi hambaNya yang lebih baik? Iya, Dia masih sayang aku


Apa lagi yang bisa aku perbuat
Jika nantinya Izrail sudah ada di hadapanku
Dan sudah membungkam mulutku
Membekukan tubuhku
Apalagi?
Takut, ya, takut akan kematian

Tapi, aku juga bukan seorang gadis yang juga kuat dengan siksaan dunia..
Dengan langit
Bintang, bulan, matahari, Mars-Mu
Yang tak jua aku sanggup melihatnya
Malu akan beratnya dosa di tengkuk ciptaan-Mu ini

Entah apa rasanya nyawa ini Kau ambil
Semua kuku terlepas
Dikulitinya kulit
Dicabutnya gigi
Ditariknya rambut
Semuanya terjadi dalam momen yang sama

Tiap sujud adalah jarak terdekat hamba dan Tuhannya
Saat itulah, aku mengucap doa

Ya Allah, Ya Muntaqim, Ya Rauuf
Cabut nyawaku sekarang
Agar aku "pergi" saat aku dekat denganMu
Khusnil khatimah

Kau sudah membuat aku sekuat yang Kau mau
Tapi sungguh, bukan aku orangnya
HambaMu yang sanggup menahan rasa sakitnya dunia

Jika ada bintang jatuh
Aku kan berharap untuk bertemu diriMu, Ya Qudus
Aku ingin menjadi malaikatMu, bukan hambaMu di dunia ini
MalaikatMu yang takkan pernah bisa berdosa
Yang takkan pernah mengkhianatiMu
Bukan seperti manusia, seperti aku, Ya Rabb

Ya Allah, Ya Aziiz, Ya Khaliq
Jika memang Kau masih ingin aku hidup di sini
Berikan aku kekuatan, kesabaran, dan yang terbaik untukku
Kekuatan untuk melawan setanMu yang terkututk
Kesabaran untuk merasakan sakitnya duniaMu
Jika memang sakitnya membalas sakit siksa kuburMu
Aku rela

Ya Allah, Ya Ghafuur, Ya Syakur
Jika memang Kau ingin memanggilku
Panggilah aku
Tapi, aku bukan gadis yang sanggup bertahandengan siksa kubur
Jangan jadikan aku ahli neraka
Yang akan bertemu iblis-iblis yang bahkan bertasbih untukMu
Sedangkan aku? Hanya sekedar mengingatMu

Ya Allah, Ya Kariim, Yaa Khofidh
Air mata ini, untuk apa kau ciptakan?
Aku yakin, ini bukan untuk orang yang bukan muhrimku
Aku tahu jawabannya
Hanya untuk hati yang seutuhnya milikMu
Untuk jiwa yang seutuhnya milikMu
Untuk status yang sepenuhnya milik orangtuaku
Untuk kekhilafan yang nantinya Kau ampuni

Ya Allah
Jadikan dunia ini dunia yang baik bagiMu
Jadikan manusiaMu manusia yang sebaik-baiknya bagiMu
Yang senantiasa mengingatMu
Yang senantiasa beriman kepadaMu
Yang senantiasa bersujud hanya kepadaMu Ya Rabb

Sepenggal puisi di atas adalah salah satu bentuk betapa aku takutnya akan kematian saat ini. Bukan hanya karena dosa, tapi sakitnya sakaratul maut-Nya.

Tapi, kalau meninggal itu, kita bisa tahu, siapa orang yang akan merasa kehilangan kita, yang datang melayat kita, yang meng-sholatkan kita, yang membaca yasin untuk mengiringi kepergian kita, yang akan menyaksikan bagaimana kita akan menyatu dengan tanah, yang akan mendoakan kita ditiap akhir doanya, yang akan menangisi kita, yang akan merindukan kita.

Apa yaa rasanya mati yaa?

Hai Juni, seberapa dekat kamu dengan Ramadhan?

Masih ingat caranya puasa kan? Harusnya iya.

Kalian tau ngga, tidak hanya puasa bentuk ibadah, melihat langit juga
Ngeliat langit ada doanya, memakai baju baru ada doanya
Intinya, Islam itu, berdoa
Berdoa dengan caranya masing-masing
Dengan maknanya masing-masing
Dengan balasannya yang indah
Yang datang dengan masing-masing jalannya sendiri

Keep pray to Allah, He never sleep, He always love you
If He is The One Who never Leave You, don't ever forget Him

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar