Jumat, 05 Juli 2013

Un-Freaktion

Hari sudah menjelang malam. Saatnya bergegas mencari tempat bersuci dan bersujud. Bukan saatnya lagi memikirkan perut yang lapar dan peluh yang mengalir.

Mungkin ini tempat yang pas untuk sejenak melepas lelah. Masjid ini cukup besar, indah, dan megah. Tapi kenapa sepi sekali, sama sekali tidak ada orang disini. Bahkan, butuh 2 kali mengitari masjid itu untuk menemukan tempat wudhu.

Adzan sudah berkumandang, tapi kenapa mu'adzin disini.. menyalakan pengeras suara saja tidak. Ada yang salah. Tapi ini sudah waktunya shalat, Maghrib hanya ada 1 jam.

Setelah selesai shalat + tadarus + isya, sama sekali tidak ada orang yang masuk ke dalam masjid ini, mu'adzin pun tidak ada. Aneh, padahal tempat ini cukup terjaga dengan baik. Karpet sajadahnya pun bersih dengan hijau menyala dan putih bersih. Segeralah aku keluar karena hari mulai gelap dan aku harus tetap berjalan. Entah kemana.

"Neng, ngapain neng di dalam? Gaboleh, Neng. Tempat ini keramat, masyarakat disini juga kerjabakti membersihkan masjid ini hanya 2 minggu sekali, setiap tanggal 6 itungan tanggal jawa"

"Oh, gitu Mas, tapi saya pikir saya bisa solat disini karena sudah waktunya Mas. Gapapa?" 

"Gatau sih Neng, tapi saya takutnya yang punya tempat ini bangun lagi" 

"Yang punya tempat ini?"

"Iya, Neng mau kemana?" 

"Saya juga ga tau Mas mau kemana"

"Ke rumah saya aja, ada di ujung gang ini"

--------------------------------

"Wah rumah Mas besar juga, emang banyak yang tinggal disini?"

"Yang disini cuma saya, kaka saya yang perempuan dan orang tua saya. Maaf, nama Neng siapa? Dari kota ya Neng?"

"Iya Mas, saya Hayu, Mas siapa?"

"Saya Bimo, masuk dulu Neng"

"Iya Mas Bimo makasih"

Gang itu hanya tertuju ke rumah Bimo, iya orang yang baru aku kenal ini. Aku ga ngerti mau maunya aku masuk ke rumah orang yang baru aku kenal, padahal kan belum jaminan halalan toyiba~

"Mah, ini ada Hayu, ketemu tadi di ujung gang"

"Halo Tante, aduh maaf lagi repot malah ngerepotin"

"Aahh ngga kok, Hayu, anak kami Citra hendak melaksanakan pernikahan, kami akan menikahkan di masjid besar sana"

"Loh, Tante, bukannya masjid itu dikeramatin ya?"

"Memang, tapi hanya di malam tanggal 6 tanggalan jawa saja bisa dipakai, saat itu lah Citra akan menikah dengan Fajar"

"Ooh begitu"

-----------------------------------------------------------

"Mas Bim, keluarga Mas Bim baik banget ya, sampe ngebolehin aku tinggal disini untuk sementara"

"Lagian kan kamu juga disini ngebantuin Mamah nyiapin semuanya, masakkan kamu enak lagi, gimana Mamah mau ngelepas kamu. Udah lama semenjak kita ngga tinggal di kota lagi, jadi gapernah ngerasain makanan seperti yang kamu bikin itu, Yu, kamu orang Jawa juga kan?"

"Iya Mas, ko bisa nebak?"

"Makanan kamu kebanyakan pake resep jawa, makanya rasanya juga cocok sama lidah mamah"

"Ooh begitu, Mas, mau nanya dong" 

"Nanya aja, kamu kan tukang nanya"

"Hehe, kenapa sih mesjid depan sana dikeramatin, kan itu mesjid, tempat orang ibadah, rumah Allah, masa dikeramatin kan gaboleh, musrik namanya"

"Bu ustadzah Hayu, mesjid itu ada sejarahnya yang akhirnya sampe sekarang orang-orang ga berani kesana"

"Kaya jaman Belanda aja pake sejarah sejarahan"

"Memang bener kok. Jadi, 7 tahun yang lalu, yang punya masjid ini pindah ke rumah ini, lalu dia memutuskan untuk membangun masjid besar di ujung gangnya, ya disini ini. Dia punya anak perempuan, anak tunggal. Umurmnya masih sekitar 10 tahunan. Dia cantik sekali. Rambutnya lebat lurus panjang mengilap, badannya tinggi atletis. Saya pernah ketemu dia kok."

"Terus? kok diem"

"Terus, setelah masjid ini jaya, anak perempuan itu ditemukan meninggal di dalem masjid ini" 

"Innalillahi, ko bisa?"

"Almarhumah dibunuh sama pemuda desa disini, ada sekitar 8 orang yang nyulik dia, diiming-imingi es krim dan minuman soda, dia suka sekali 2 minuman ini"

"Terus?"

"Dia dibawa pulang, tapi di rumah waktu itu tidak ada orang, padahal pembantunya ada di dalam masjid ini, lebih tepatnya, menunggu pemuda desa ini membawa Vina"

"Vina namanya?"

"Shhht, jangan keras-keras"

"Oh iyaiya, lanjutin"

"Akhirnya dia diajak sama 8 pemuda ini ke dalem mesjid untuk nungguin yang ada di rumah, katanya sih diajak main rumah-rumahan."

"Kok rumah-rumahan?"

"Iya, jadi dia anggep mesjid ini rumahnya, ntar mereka ngayal, misalnya dapur, mereka pura-pura masak, yaa gitu lah ngerti kan?"

"Wah kalo ada wcnya ngeri dong ._.`"

"Haha yaa ngga gitu. Terus, laki-laki ini pada ngajak Vina masuk kamar"

"Emang ada kamar?!!"

"Kan mereka ngayal Yu"

"Oh iya bener, terus?"

"Terus, mereka tuh, intinyaaa mereka merkosa Vina, bergiliran, termasuk pembantunya itu"

"Astaghfirullah, 9 orang?"

"Iya. Setelah Vina ilang, masyarakat pada penasaran, sampe akhirnya pada hari ke 4 almarhumah ilang, dia ditemuin di masjid pas orang-orang lagi pengajian supaya dia ketemu"

"Subhanallaah..."

"Dia ditemuin sama bapak-bapak karena bau busuknya, dia ditemuin di dalem ruangan gudang buat nyimpen karpet karpet ini"

"Nah trus, kenapa jadi keramat?"

"Tersangka dicari karena setelah di autopsi ada bekas kekerasan, yaa perkosaan itu tadi. Di ambil sample nya trus dicari, ketemu 9 orang ini. Pas reka ulang kejadian, 9 orang ini otomatis dibawa kan ke masjid ini, saat mereka masuk masjid ini mereka pingsan mendadak, 9 orang ini, semuanya. Pas diperiksa ternyata sudah meninggal"

"Innalillahi..."

"Terus, tetangga kita, yang di sebelah gang sini, bilang, dia ngeliat ada Vina di dalem masjid, keliatannya marah karena auranya warnanya gelap padam, pas tersangka-tersangka ini masuk Vina langsung berdiri di depan pintu, mereka meninggal satu per satu"

"MasyaAllah, terus, apa hubungannya sama masyarakat? Kan mereka ga bersalah?"

"Setelah kejadian 9 tersangka meninggal ini, keluarga Vina pindah rumah lagi, masjid ini diserahkan ke Pak Imam, dia salah satu ayah dari tersangka."

"Lah kok ayahnya mau?"

"Karena Pak Imam ini minta maaf sama ayahnya Vina, sampe nyerahin ginjalnya, entah untuk apa, akhirnya diserahkan masjid ini. Tapi, Pak Imam itu sendiri akhirnya meninggal"

"Karena Vina lagi?"

"Yap, makanya masjid ini dianggep keramat, bukan keramat sih, angker"

============================================

"Yu"

"Kenapa?"

"Kamu udah 2 bulan disini, ga kerasa, kaya baru kemarin"

"Pokonya sampe acara Mbak Citra selesai aku harus lanjut pergi lagi"

"Kemana sih?"

"Mmmm, ga tau aku juga, sampe aku merasa itu rumah buat aku"

"Emang kamu ngga ngerasa ini rumah?"

"Ada yang ga srek, entah kenapa"

"Kalo gitu, boleh aku ikut kamu?"

"Hus, bukan muhrim"

"Tapi dibanding kamu jalan sendirian. Kampung ini terkenal kriminalnya. Banyak dari mereka yang mengadu nasib di kota akhirnya jadi tahanan kota"
"Oya? Kalo Mas Bimo gimana?"

"Saya disini 3 bulan, buat liburan"

"Nah, trus mau balik ke Belanda kapan?"

"Ngga akan balik, kan udah lulus"

"Oiya bener"

"Saya disini mau cari kerja, tapi entah kenapa belum ada kerjaan yang srek. Sastra emang susah. Mungkin jalan sama kamu nanti malah bikin inspirasi buat aku"

"Mungkin"
"Maka dari itu, Mas boleh ngga jalan sama kamu nanti?"

"Oke, tapi satu syarat"

"Apa?"

"Makan bayar sendiri"

"Hahahahaa iya laah cantiiik"

============================================

"Semua udah siap, Yu?"

"Iya udah, Tante, makanan ini tapi gaterlalu enak"

"Udah, tiap kamu masak pasti bilang gitu padahal enak banget rasanya"

"Ah Tante bisa aja"

"Udah, siapin dulu semuanya, Tante mau dandan dulu"

----------------------------------------------------------

"Ada yang bisa dibantu?"

"Eh Mas Bimo, tolong dong ini dipindahin ke loyang ini, tapi yang rapih karena kita mau ngehidanginnya disini"

"Oke Cantik"

"Iya Beast"

"Jahat banget sih"

"Katanya mau bantuin, gausah bawel deh"

"Perempuan di kampung sini tuh kalo cuma aku senyumin aja sampe loncat loncat, kamu ngatain aku Beast"

"Laki-laki di sepanjang jalan aku kesini pada manggilin aku dan gaada tuh yang bilang aku cantik, Mas ngatain aku Cantik"

"Emang kenyataan kok"

"Yaa, emang kenyataan juga hahahahhahahaa"

"Abis ini aku bisa pergi deh sama kamu"

"Kenapa sih pengen banget ikut?"

"Karena aku mau ngejagain kamu, disini tuh rawan banget, apalagi kamu yang.... pokonya kamu tuh harus dijagain, kamu ga bisa sendiri"

"Jangan bicara kaya aku lemah deh"

"Aku tau kamu kuat, aku cuma khawatir sama kamu, makin kamu masuk ke dalem makin bahaya, Yu"

"Aku udah ngelewatin tempat  paling bahaya dan aku selamat aja kok"

"Gaada yang lebih bahaya dari tempat disana"

"Mungkin iya, tapi mungkin aja kan aku bisa jalan kesana sendiri?"

"Bukan itu, Mas khawatir sama kamu, Mas..."

"Tenang ajaaaa... Aku kan......"

"Mas sayang sama kamu"

======================================================

Malam pesta pernikahan, malam puncak kegembiraaanya keluarga Mas Bimo. Aku pun ikut terhanyut dalam pesta itu. Meskipun sederhana tapi sangat meriah. Tiba-tiba

"VINA!"

"Teh, kenapa?"

"Saya liat Vina lagi, di pintu, jangan ada yang keluar!"

"Kenapa?"

"Vina gasuka kita pesta disini"

"Ah, ini kan tanggal 6 Suro, mana mungkin dia muncul"

"Awas Dian!"

"Mas Bimo, gausah sok kuatir gitu deh, MasBimo tuh emang kakak aku yang paling perhatian, tapi masa Mas Bimo percaya begituan sih, udah ah, aku mau pulang"

"Jangan keluar Dian!"

"Tenang Mas Bimo, tuh kan gapapa"

"AWAS!"

Dian meninggal seketika. Gaada satupun orang yang berani keluar. Aku dan Mas Bimo segera mencari tempat yang memungkinkan untuk mencari bantuan. Tapi, ngga ada satu pun tempat untuk bisa lari dari sini

Aku sempat melihat sosok Vina di dalam gudang. Sangat cantik, tapi dengan wajahnya yang sedikit tertunduk dan matanya yang tajam menatap siapapun yang menatapnya

"Vina, kamu kenapa ada disini?"

"Hayu, kamu ngapain?!"

"Tenang Mas, aku mau ngobrol sama dia"

"Vina, kamu marah kenapa? GA suka ngadain pesta disini. Disini kan ada es krim, ada soda gembira, banyak yang kamu suka kan?"

*Vina menunjuk seorang laki-laki yang ada di belakangku*

"Ini supir Mas Bimo, Vina, namanya Pak Bambang"

*Vina mengangguk sekali tanpa mengubah posisi tangannya yang menunjuk Pak Bambang*

"Ampun Vina ampun, maafkan saya Vina ampuuuun"

"Pak Bambang emang pernah ngapain?"

"Saya pernah bawa dia kerumah, saya pernah hampir merkosa dia, hampir Mbak hampir"

"Vina, Pak Bambang sudah minta maaf sama kamu, jangan marah lagi tolong"

*Vina menunjuk seorang laki-laki yang tengah duduk memeluk paha di sudutan*

"Kenapa dia? Dia juga pernah menyakiti kamu?"

*Vina mengangguk sekali*

"Oke, siapa lagi Vin? Tunjuk semuanya"

*Vina menunjuk sekitar 9 orang mulai dari yang berumur 25an hingga bapak-bapak*

"Dia juga sama pernah mau merkosa kamu? Atau bunuh kamu?"

*Vina mengangguk lagi*

"Vina, saya Hayu, maaf saya waktu itu juga mengganggu kamu"

*Vina menggeleng, lalu mendekati aku*

"Kamu tidak punya niat merah, kamu tidak punya ikat merah, kamu tidak punya tali merah, kamu tidak punya ranting merah, pergi"

"Boleh aku ajak orang yang menurutku baik?"

*Vina menunjuk Mas Bimo, Mbak Citra, Mas Fajar, Tante dan Om*

"Mereka boleh keluar dengan saya?"

*Vina mengangguk*

"Vina, tempat kamu bukan disini. Mungkin kamu hendak membalas dendam, tapi saya janji akan membalaskannya"

"TIDAK! PERGI!"

Kami berlari keluar. 11 orang laki-laki itu tidak berani keluar selain para tamu yang lain. Aku dan Bimo segera pergi, pamitan dengan semuanya, segera pergi, menjauh dari sana, ke tempat yang lebih putih...


============================================================

Percaya ngga percaya, saya mimpiin cerita di atas semalam. Rasanya, seprti bukan mimpi buruk, tapi memang melelahkan. Aku bangun seperti orang yang hanya tidur 2 jam, padahal aku tidur 5 jam. Aneh, tapi, mimpi ini tidak seperti mimpi lain yang kebanyakan flashback, ini cerita baru, cerita film di Tran* TV mungkin ya, tapi kalau dialami sendiri sebenarnya, keren juga. Maaf banyak "scene" yang terpotong karena maklum, mimpi ngga bisa diigat 100%nya.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar