Senin, 27 Oktober 2014

Pinang Terbelah Dua

"Chil, apa kabar kamu?"
"Baik, aku masuk dulu yaa"

Hari itu sungguh tragis rasanya. Bisa-bisanya aku bertemu dengan seonggok masa lalu yang rasanya ingin ku bakar dan ku kubur abunya. Reflek cepat tanganku meraih BB ku di dalam jaket almamater ini, speed dial "P" dan tak sampai 2x nada sambung Mas Firman sudah menyapa di sebrang sana.

"Mas, Chila baru aja disapa Ka Damar!!"
"Waduh, kamu tenang dulu. Kamu dimana sekarang?"
"Di toilet kampus, Mas. Mas dimana?"
"Aku lagi di warteg bawah, lagi makan. Kamu tunggu disitu aku kesana sekarang. Itung 5 menit yaa. Tenang.."
"Sip, hatihati mas"

Hmm, pada akhirnya pun aku menjadi sangat dekat dengan Mas Firman. Meskipun status kita tidak seperti statusku dengan Ka Damar. Semua orang keheranan dengan perubahan Ka Damar tempo hari. Tak cukup sampai disana, setelah perubahannya dari seorang bidadara menjadi layaknya Godzila, sekarang mendadak ia berubah kembali menjadi bidadara. Justru hal itu yang membuatku semakin takut dan tidak yakin. Aku takut kalau dia ternyata belum berubah, alias, metodemya supaya ia bisa membalas dendamnya kepadaku. Kali ini wajahku sudah sangat pucat pasi, ditambah keringat dingin ku yang terus mengucur membasahi baju dan jaket ini. Jaket biru muda dan putih bertuliskan "FARMASI" dan nama kampusku di dada sebelah kanan, serta tahun angkatan di lengan kanan. Tak sadar, sudah 2 tahun semenjak aku lulus, dan secara otomatis tak mendengar kabar, dan secara tidak langsung hidup "tenang" dengan Ka Firman.

Sudah 5 menit, tapi belum juga aku dengar tanda-tanda kehadiran Mas Firman. Aku kembali telfon dia, kali ini nada sambungnya cukup lama. 

"Chil, aku ga liat siapa-siapa disini, kamu keluar aja, ada aku ko"

Aku segera keluar dengan wajah sedikit lega namun tetap was was, Wajahku masih sangat pucat hingga tidak bisa Ka Firman bedakan mana kulit wajah mana bibir. Ia tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang sudah sangat seperti patung itu. Gerakanku juga mulai kaku. Namun dengan cepat Ka Firman merangkulku, "Chilaaaa kamu kok kaya manekin di factory outlet siih jahahha" 
"Daripada kaka, larilari dari kantin bawah kesini, tuhkan jauh banget huu"
"yaudah, kamu mau apa, eskrim? eh jangan deng, kamu kan baru sembuh yaa. Yaudah kita ngeramen aja yuk! kan kasian kamu butuh yang pedes biar cenghar lagi"
"Mas, aku ada kelas setengah jam lagi"
"ayok bentaran aja, janji 15 menit"
"Sip, 20 menit!!"
Rasanya memang sangat nyaman jika sudah dengan Mas Firman sambil bercanda. Sampai aku memesan 2 porsi karena memang kejadian tadi membuat aku kehabisan persediaan tenaga. Aku harus beberapa kali menarik nafas karena kadang aku lupa nafas. Ramen ini memang enak dan kesukaanku, original level 4. Sudah cukup membuat air mata mengalir deras..

Sebentar.. Itu.... "Mas Firmaan!! Ada Ka Damar!!"
"Mana sih?"
"Itu makan sendirian di pojok!!"
"Ohiya bener"
"Mas, ini udah 15 menit plis banget ayo balik!"
"5 menit lagi perjanjiannya"
"Yahhh maaas perjanjian awal 15 menit kan ayolaah"
"Ngga! tunggu dulu bentar maniis"
"Maaas mau nunggu apa lagi siih"
"Nunggu dia nyapa kita"
"Ih,, cari mati. Emang kaka kucing nyawanya ada 7!"

"Hey Chila.."
"Eh. Ka Damar, ketemu lagi"
"Mas Firman, apa kabar? Sekarang disini?"

"Iya, Mar, kedokteran, dibiayain sama ibunya Chila"
"Wah, keren banget, kapan yaa kita terakhir ngumpul bertiga kaya gini?"
"Udah lama yaa. Eh iya udah 20 menit Mas Firman janji.."

"Oke, Mar, aku anter Chila ke kelas dulu ya"
"Oh, iya, aku tunggu disiini, Mas"

Haduh, campur aduk, Mata kuliah Farmasetika yang cuma 4 SKS ini aku jalani dengan pikiran bercabang, kaya rambut.. bener bener gahabis pikir bisa-bisanya ketemu Damar lagi, dia mau ngapain sih disini? Masa iya dia balik dari Australia buat liburan? Mana ada bulan bulan gini kampus liburan? Atau jangan jangan dia kesini mau ngabarin tentang si Shinta itu -__- Kita lihat nanti deh.. Aku tanya aja ke Mas Firman ngomong apa aja. Jangan-jangan lagi pada adu jotos. Langsung aku curi-curi kesempatan. SMS Mas Firman..

"Mas, aku beres jam 2, plis bgt jemput aku di depan kelas!"

drett "Siap Nonaaa"

Huh, semoga aja gaada apa apa..

"mas, tadi ngomongin apa ajaa?"
"Ah, ngga ada apa apa, nanya kabar aja, kabar aku, kabar kamu.. Dia curiga kuliah disana cuma 3 taun, IPK dia yang sblmnya tinggi, IP dia skrg juga tinggi, artinya, 6 bulan lagi dia udah bisa balik Indonesia buat penelitian."
"Jurusan kalian kan sama, kenapa ga sharing aja sih?"
"Kan emang tadi kita sharing, daasar lemot"
"Ohh, sorii, trus dia cerita tntg Shinta ngga?"
"Dikit, dia blg Shinta tuh ternyata makhluk gapunya otak"
"Bener kan kata aku juga di guna-guna"
"Menurut kaka sih bukan diguna-guna, didoktrin"
"Ko tau?"
"Lah kan kemarin si Vicka yang bilang hasil dia nyari tau tentang Shinta lewat komputer, Shinta kan pinter cuci otak, secara, psikologi, tapi ambil sampingan ilmu hitam kan?"
"Vicka ga cerita ada ilmu hitamnya ah"
"Mas tau, masa lupa mas bisa liat"
"Oh iya bener, kenapa ga cerita aja dari dulu?"
"Mas kan takut pengelihatan Mas gamasuk akal kamu"

"Oh gitu.. Yaudah Chila ngantuk Mas, pulang yuk"
"Pantes dari tadi ganyambung. Yuk, pake jaketnya!"


Cuma itu aja toh..

Sampe rumah, bukannya dibukain Mbak Darmi, malah disambut sama Damar. Moodnya langsung ancur banget. Bikin trauma liat muka dia doang.

"Eh Chil pas banget baru sampe, Kaka mau minta bantuan"
"Aduh bantuan apa,Ka? Chila ngantuk banget smalem ga tidur"
"Oh yaudah deh lain kali aja"
"Ada Mas Firman tuh, Mas aku duluan yaa makasiih"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar