Selasa, 16 April 2013

Jealous, Cruelty, Madness

Hmm, berhubung hari Senin libur, otomatis dong libur jadi 4 hari, Jum'at, Sabtu, Minggu, Senin. Jum'at tuh, sebenernya udah ga penting, soalnya hanya belajar 2 jam pelajaran, buat apa~ Akhirnya yaa mendingan pulang, meskipun sampe rumah juga tetep bakal pergi lagi buat les, lalu yaa paling maka sama Ka Damar.. Setiap hari harus selalu ada Ka Damar. Memang dia adalah anak yang sangat perhatian. Bukan hari namanya kalau dia ngga ketemu dan ngobrol sama kamu, termasuk, ekhem, kalo dulu tukang ojek, sekarang supir taksi hohohooo. Ga bosen dan ga pernah abis bahan ejekan aku buat dia. Selain tukang dan supir diatas, kadang aku panggil dia tukang sate, kuli, tukang bangunan, tukang minyak, sampe mang bensin. Tukang sate, karena dia sering banget bawain sate ke rumah tiap jemput aku mau kemanapun. Kalo kuli, karena kadang dia suka diminta banyak guru buat bawain banyaaak banget buku dan barang-barang ibu guru bapak guru pas mau masuk kelas. Kalo tukang bangunan, karena dia pernah benerin genteng rumah yang bocor karena keseringan hujan. Tukang minyak, hehe, dia suka bawa minyak kayu putih, khawatir aku pingsan di mobilnya, mending cuma 1 botol, ini sampe ada 9 botol minyak kayu putih di mobil, tas, dan saku seragam maupun jaketnya -_-. Mang bensin, karena kadang dia kalo dateng ke SPBU lebih suka turun dari mobil, ngobrol sama masnya, sampe ketawa-ketawa, dan sampe dia ngisi bensin lagi dan ngobrol lagi, kalo kami ngisi bensin di pom yang lagi ga dia jaga, pasti dia lari dan minta tukeran sama temennya yang lagi jaga pom yang kami datengin. Ngobrol lagi. Kadang Ka Damar suka ngasih lebih, bukan suap, tapi bentuk bantuan karena orang itu termasuk orang yang ga mampu banget tapi mau berjuang.

Namanya Mas Firman. Dia jaga pom bensin sejak 5 tahun terakhir, lebih tepatnya sejak ayahnya meninggal. Ayahnya meninggal karena sakit yang sampai akhir hayatnya tidak diketahui karena ketiadaan dana berobat. Sulitnya hidup di Indonesia, orang miskin tidak boleh sakit. Mas Firman kini hanya tinggal dengan ibunya, adiknya yang mengidap autisme hilang entah kemana 2 tahun yang lalu, untungnya, Ibunya orang yang kuat. Mas Firman sebenarnya masih 19 tahun, masih muda, tapi terlihat dia orang yang ingin maju. Cara bicaranya pun seperti orang berpendidikan selayaknya. Setelah Ka Damar ngisi tangki 3 kali dan ketemu Mas Firman 3 kali, mendengar cerita itu, kadang Ka Damar nyisipin 20.000, katanya "Lumayan mas, buat ngemil, jajan, sekalian buat nabung siapa tau kuliahnya kesampean" Mas Firman ini sebenarnya lulusan SMA, saat SD ia mengambil kelas akselerasi, hingga SMAnya. Ia masih sering mengulang ilmunya ini. Kadang dia dipanggil sebagai guru privat di beberapa rumah sekitaran rumahnya. SD, SMP, SMA, dia kuasai semuanya. Sempat beberapa kali aku ikut berbincang dengan mereka. Bukan suap, hanya memberi sepercik harapan untuknya yang mau berusaha, rezeki diberi Allah lewat mana saja. Subhanallah.

Entah kenapa, mungkin karena hubungan kami dengan Mas Firman menjadi layaknya teman, kadang kami sering membawa Mas Firman jalan-jalan. Kalau Sabtu memang Mamih pasti sibuk dengan kantornya, aku tidak bisa di rumah sendirian. Kebetulan Mas Firman juga setiap Sabtu kosong, kadang memperdalam ilmunya. Tapi kali ini kami buat suatu hal yang baru. Tetap memperdalam ilmu, tapi kami tetap ingin refreshing. Dago Pakar. Dengan berbekal tikar dan beberapa makanan yang kami beli sepanjang perjalanan, tak lupa buku pelajaran masing-masing, kami berangkat. Sebelumnya, Ka Damar dan aku menjemput Mas Firman di rumahnya. Sambil berkenalan dengan Ibunya. Beliau sangat cantik, terlihat benar-benar seperti seorang wanita yang tegar. Kami berbincang hanya sebentar dan mencicipi teh manis buatan Ibunya. Lalu kami segera berpamitan. Berhubung masih pagi dan tidak terlalu macet, kami parkir di suatu tanah yang cukup landai dan beralaskan rumput yang tidak terlalu tinggi. Kami menggelar tikar disana, dan kami pun segera menurunkan segala bentuk perbekalan. Sebelum kami meletakkan tikar, kami berdo'a terlebih dahulu, sejarah Dago Pakar yang kadang tidak mengenakkan bila menggunakannya tanpa izin pun kami ingat selalu. Meskipun tujuannya bukan untuk hal yang tidak-tidak, hanya saja apa salahnya? Kami mulai membuka buku sambil mengobrol kecil tentang hal-hal yang aku dan Ka Damar tidak mengerti

"Mas, saya ngga ngerti kalo tentang Kimia, ajarin dong mas" "Masa anak olimpiade Matematika gabisa Kimia nih, gajauh beda ko, simpel aja, mana yang kamu ngga ngerti?" Yaa sekedar begitu. Sambil mendengarkan apa yang Mas Firman ajarkan, aku sedikit ngeh dan nyambung karena ada beberapa teori dan rumus yang digunakan dalam pelajaran yang tengah dan sudah aku pelajari. Setelah beberapa saat menerangkan ke Ka Damar yang lumayan cekatan, giliran aku "Mas, aku ngga ngerti, kenapa sih harus ada ips -_-" "Haha, ips tuh nyenengin kali" "Dulu mas SMA jurusan apa?" "IPS" "LAH KO BISA NGAJARIN KIMIANYA KA DAMAR? KAN KA DAMAR KELAS 12?" "Santai Chil, kaka emang jurusan IPS, tapi terpaksa, karena kursi IPA saat itu sudah diisi sama anak-anak berduit, yaa terpaksalah IPS, tapi mau gimanapun juga pelajaran itu sama aja ko" "Emang waktu itu kelas IPA ada berapa?" "Kan kaka akselerasi, kalo kelas IPA hanya ada 1 kelas, kalau IPS ada 2 kelas" "Yaa ampun, ko segitunya sih ka? Eh ko jadi manggil ka" "Ngga apaapa, dari pada mas, serasa masih kerja di pombensin bukan refreshing" "Haha iya bener" "Ka Fir..." "Damaaaar........" "Ampun KaFir ampuuun" 

Entah kenapa, Ka Damar dan Ka Fir  man pun lari-lari kaya anak SD lagi main ucing-ucingan, aku sih tinggal tertawa geli saja.

Setelah 3 jam dan mulai terasa terik matahari, kami segera menaikkan perbekalan dan mencari tempat lain. Kami menemukan satu spot yang lumayan bagus. Makam. Iya, Taman Makam Pahlawan. Kami sengaja memilih tempat tersebut agar bisa lebih tenang, lebih sopan, lebih tertib, dan setidaknya bisa mendoakan orang-orang yang sudah mendahului kami. Kami belajar disana sangat khusyuk. Sampai 2 jam kemudian, kami lupa belum shalat dzuhur. Kami sesegera mungkin memasukkan "amunisi" dan segera meluncur ke PUSDAI. Memang tempat  favorit kami untuk shalat. Lalu kami memulai untuk meneruskan perjalanan untuk mencari makan yang kira-kira enak

"KaFirMan, mau makan apa nih, Chila udah laper bangeet" "Sama nih Damar juga laper, mau makan dimana Ka?" "Ah terserah kalian, kaka kan cuma nebeng, ditraktir, dan ngeramein kalian doang" "Ayolaah kaa sekarang giliran kaka nih, kita udah abis ide" "Dari pada jauh-jauh, mobil tinggal disini aja, di depan kan ada Sate Pak Gino tuh" "Oh iya bener yaa ka! Asiiiik yuk Chila lagi pengen gulenya Pak Gino nih, pasti enak banget" "Kalo kaka sih lagi pengen sate kambing" "Kalian ko aneh sih, mending sate sapi kemanamana juga kaliii" "Yaudah, daripada debat mulu kita pesen semua!" "Idih, Chil, kamu makan apa ngerampok apa meres aku sih" "Hehe maaf Ka Damar, laperrrrr" "Sekarang sih bilang makanan yang banyak, sampe dalem juga gaakan abis sendiri yeeeee" "Iya nih Chila, bocah siih" "Apaan nih KaFir bilang gue bocah?" "Mulaai elu gue elu guee, Chilaa chila"

Kami segera berjalan dengan cepat karena sudah kelewat lapar. Sesampainya disana, lumayan sepi, hingga kami memilih tempat duduk yang sedikit ditengah, agar pelayan bisa melihat kami saat kami membutuhkan segala sesuatunya.

Sate sapi 1
Sate kambing 1
Gulai kambing 1
Nasi putih 5
Teh Tawar 3

Hahahaa, kami memang sekelompok orang yang sedang kelaparan. Kami butuh asupan makanan nan lezat seperti halnya disini. Setelah menu makanan hampir habis, aku mengacung, aku memesan sate sapi dan sate ayam masing-masing 1 porsi. Aku sudah memberi aba-aba ke Ka Damar kalau ini untuk Ka FirMan. Namun, Ka Firman hanya bertanya Kalian ngomongin kaka ya? Kalian kenapa sih? Kalian ngomongin apa ngga? Yaa jelas kami tidak ingin memberitahu, kalau diberitahu pasti ia akan mengelak.

"HEY DAMAR!" "Eh, Shinta yaa?" "Wah masih inget aja kamu sama aku, Mar, ngapain disini" "Makan lah mau ngapain lagi, oiya kenalin, ini Ka Firman, temen aku, ini Chila" "Oh hai!" "Kamu baru pulang dari Australi?" "Iya nih, hahaa lama ga ketemu sama kamu Mar, kangen!" "Masa sih, kesini sama siapa?" "Sama temen-temen yang dari Australi. Gila Mar, beda banget yaa kamu waktu SMP sama sekarang. Makin KECE!" "Alhamdulillah" "Boleh minta pin kami ngga?" "Oh silahkan, 29F9Fxxx" "Makasih yaa, sampe ketemu lagi, Mar!" "Iyaa" 

Ko agak nyebelin yaa perempuan itu. Aku sih udah ga perlu nanya wong udah jelas, itu pasti temen SMPnya yang abis tukar pelajar ke Australi dan dia pulang trus bawa "oleh-oleh" sambil genit sama KaDamar. Ka Firman melihat gelagat aku yang gelisah dan sedikit bete. Ka Damar, entah kenapa, senyum-senyum aja

"Udah yuk pulang, aku udah fillfull nih pulaang" "Iya yuk Mar, kaka juga udah cape banget" "Yaudah yuk, aku pamit sama temen aku dulu yaa, tunggu diluar aja" 

Aku gamau nunggu diluar karena ada perempuan itu didalem. Aku pun alibi ke kamar mandi. Saat keluar...

"Yeaah hahaha, do you remember about my story, my ex, there he is" "Oh my God! He is cool man, but why did you have to break? You're belonging to each other. I can see it" "Yeah" "Yeah" "Oh no, maybe I have to go, my girl is waiting outside" "Wait, the girl, she is yours?" "Yes, why?" "Nothing, are you sure?" "Why you don't like it? I really have to go"

DEG....

Aku sih lewat aja tanpa ada muka dosa. Tapi bener-bener kesel banget. Aku ga berani liat muka orang-orang bule itu. Sialaaaaan banget. Aku langsung masuk mobil aja

"Kamu dari mana?" "Dari dalem" "Ngapain?" "Nguping" "Yaampuuun ngambek nih jadinya?" "Udah pulang aja" "Yaaah, urusan rumah tangga, jangan bawa bawa kaka yaaa." "Siapa yang mau bawa kaka, berat lagi" "Wah, Ibu negara lagi sensi nih kayanya, KaFir takut" "Jangan digituin Ka, ntar makin ngambek deh" "Eh iya deh, maap yaa bu negaraa" "Iyaa, udah cepet pulang"

Entah kenapa, sejenak, mood ancuur seancur ancurnya. Kenapa sih, ada aja cewe yang gangguin hubungan orang? Dan aku merasa aku ga pernah bermaksud dan sengaja melakukan hal sekeji itu, tapi kenapa ke aku doang, karma dari apa?

Hari Senin besok, sekolah tumben banget libur hari Senin. Berhubung ada rapat mendadak dan menyangkut eksistensi sekolah. Meskipun lagi sensi sama Ka Damar, tetep aja. Mamih besok ada seminar di Jakarta dan harus stay disana 2 minggu. Mamih jadi narasumbernya. Sabar yaa buat peserta seminar, pasti panaskuping deh 2 minggu dengerin Mamih aku ngoceh. How dare you leave me alone, Mom? :''''' Tapi, Mamih dengan enaknya hanya jawab Don't worry, ada Damar! Sialan. Satu hal yang aku pelajari hari ini. Jangan pundung lama-lama sama orang. Satu saat kamu akan sangat butuh dia ._.

Berhubung aku ga berani nyetir dari Margahayu Raya sampe Bandara Husein, lebih baik telfon Pak Supir deh. "Assalamualaikum, Pak Supir, besok Mamih minta dianter ke Husein tuh, mau nemenin ngga?" "Walaikumsalam, widiih, jadi supir aku digaji berapa Non?" "Iih bawel. Ka Damar besok kemana?" "Ga kemana-mana kok. Flight jam berapa?" "Jam 5.30" "Oke aku jemput jam 4 yaa. Stand By!" "Siap Pak Supir" "Oke Non, Assalamu'alaikum" "Waalaikumsalam"

Oke, libur-libur tetep nyubuh.. Yasudah. Dasar Ibu-Ibu semua di dunia ini kayanya rempong yaa, mungkin nanti kalo aku jadi Ibu juga bakalan rempong. Tapi aku akan berusaha untuk tidak serempong Mamih gue yang satu ini! Ganbatte~ *Iklan#MinumDluTrusGebukGebukDrum!

"Assalamualaikum, pagi sayang, udah di depan nih" "Walaikumsalam, masuk aja" "Ngga deh, aku diluar, gaenak masih pagi buta" "Daripada di gerebek Mamih di mobil, yuk masuk dulu" "Yaudah aku masuk"

"Assalamualaikum" "Waalaikumsalaam, eeh ada Damar, udah dateng?" "Yaelah Mamih, kan tadi Mamih yang nyuruh Ka Damar masuk -_-" "Suut, ketauan deh kan, yuk belum sarapan kan? tuh ada roti bakar di meja makan, dibikinin Chila loo, susu coklatnya Chila juga enak banget tuh mumpung anget" "Oke Tante, gampang ko" "Sok Chila, temenin Ka Damar makan, kamu juga belum makan kan, tenang I can handle it ko" "Halah, tadi aja bilangnya Mamih gabisa sendiri, ada Ka Damar aja sosoan strong -_-" "Udah jangan bawel, cepet dimakan, keburu telat" "Iya deh, yuk masuk" "Dirumah ada siapa?" "Jangan pura-pura gatau deh, kita kan cuma berdua di rumah" "Iya deng, mana nih yang katanya enak, mayan, dingin banget nih" "Ini, susunya mau pake gula ngga?" "Ngga usah deh" "Oke deh" "Ntar subuh dimana ya?" "Di PUSDAI aja yuk, apa mau sekalian jalan-jalan nih?" "Boleh" "Okedeh, mau kemana?" "Ke, TSM aja yuk" "Dompet siap nih?" "Hmm, hehe" "Oke, BIP fix!" "Siap Non!"

Kita pun segera berangkat. Mamih ngaret 15 menit -__-. Untung Ka Damar udah kaya pembalap F1 aja, mumpung Bandung jalannya kosong jam segini. Lalu, kita sedikit ngobrol. Seperti biasa, dengerin Mamih ngoceh, trus ngalir gitu aja, ketawa bentar, ntar ambek-ambekan bentar, trus mamih cerewet lagi, trus ketawa lagi. Setelah sampe Bandara, aku hanya bisa turun di depan. Mamih meluk aku erat-erat, kaya balon tinggal 4 aja -_-. Mamih ngasih uang simpenan buat 2 minggu. Sebenernya pake transfer juga bisa. Mungkin karena Mamih disana bakal sibuk banget, beliau kasih aku uang cash. Mayan, 2 jut. Aku ganyangka Mamih bisa menyerahkan uang biru sebanyak ini buat aku yang jorok. Kita pisah, tapi dengan raut wajah yang berbeda. Kalo Mamih kaya di sinetron, atau di film-film Korea yang aneh itu. Kalo aku, masang muka (Mom, why you give me that face?) dan sambil sedih juga sih 2 minggu ga denger omelan Mamih -_-. Langsung masuk mobil karena dingin. Caw deh ke PUSDAI. Sampe sana, pas banget adzan subuh. Kita bisa ikut shalat berjamaah subuh disana. Lalu apakah kalian tau kita ngapain?

Kita kunjungi Ka Firman. Hendaknya ngajak jalan bareng. Lalu, Ka Firman dengan wajah berseri-seri menyambut kita yang jelas tau mau nraktir jalan-jalan. Kita pun ga keberatan. Ka Firman punya jam kosong sampe jam 10, setelah itu dia harus kerja. Kalau begitu kami culik dia dan tepat jam 10 nanti kita drop dia di SPBU tempat dia biasa "mangkal". Kami pergi ke beberapa tempat yang ga banyak orang tau. Sebenernya jam segitu gaada tempat yang buka. Tapi kita dateng ke tempat yang enaaaak banget. Pernah dong ke Dago Pakar? Tapi, pernah kalian masuk ke rumah yang belum jadi tapi sudah terbengkalai? Kita uji coba, emang bener yaa yang namanya perasaan horor. Ka Firman adalah orang yang dianugerahi kemampuan lebih dari orang normal seperti aku dan Ka Damar. Maka dari itu, kami ingin sekali tahu bagaimana mereka sebenarnya. Kita sempat ngobrol dengan "mereka". Ada yang sangat senang dengan maksud kedatangan kita, ada juga yang tidak ingin kita ada disana. Padahal maksud kita hanya ingin tahu dan sekedar menghibur, agar "mereka" tidak terlalu merasa kesepian. Disana, ada yang bilang mereka meninggal karena dikeroyok pacarnya, ada juga yang dibunuh karena selingkuhan pacarnya, ada juga yang meninggal karena kecelakaan, bukan tidak sengaja tapi disengaja. Rem mobilnya di blong in sama mantan pacarnya. Hampir semua karena cinta dan mereka jadi seperti itu, ada juga sih yang karena dia masih merasa tidak enak dengan orang tuanya yang belum mengikhlaskan mereka, dan rumah yang kita kunjungi adalah tempat dimana mereka bayangkan akan berada disana. Yaa di Dago Pakar ini. Terkenal dengan viewnya yang indah. Meskipun begitu, hal yang paling indah adalah surga nanti, bukan Dago Pakar, bukan meja penghulu, bukan beasiswa, bukan meja sekolah paling eksis di dunia, bukan juga lelaki tampan setampan Tom Cruise, perempuan seksi seperti Angelina Jolie.

Setelah beberapa saat, Ka Firman sepertinya lelah harus menggunakan kelebihannya itu, akhirnya kita ke Circle K untuk cari minuman yang menyegarkan. Maksud hati itu, yang dibeli sampe 2 keresek. Minuman iya, coklat iya, kripik iya, kue iya, eskrim iya, banyak deh. Tapi kita abisin itu hanya dalam sekejap. Setelah jam 10 teng, kita sudah standby di SPBU. Ka Firman tinggal turun aja dan  berterima kasih sudah dapat pengalaman baru dan melatih kemampuan lebihnya itu. Kami akhirya caw ke BIP.

Disana, belum banyak orang, tapi kami sempat memesan tiket nonton, karaoke, dan berkeliling di Gramed karena kita berdua sama-sama addict sama novel. Yang pastinya, novel yang tidak semua orang paham hanya dengan membaca buku ini sekali. Kebanyakan adalah cerita non fiksi. Kita bukan tipe orang yang kebanyakan dicekokan hal-hal fiksi karena kita bisa membuatnya dan bahkan lebih indah. *LhaTrusIniApa?

Setelah keliling Gramed, kami sempat ke DiscTara untuk membeli beberapa CD penyanyi favorit kita masing-masing. UnothodoxJukebox Bruno Mars buat aku, kalo Ka Damar memilih Looking for Myself nya Usher. Dan ini favorit kita berdua, Take Me Home nya One Direction dan Overexposed nya Maroon5 hehehehehe. Kita sering banget dengerin lagu-lagu ini. Sayang, kita ga bawa Ka Firman, pasti dia cerewet deh pengen album lagu lawas =)) Setelah itu, kita berniat nonton, puas banget deh di DiscTara, semua yang kita pengenin terwujud. Kita nonton G.I. Joe Retaliation. Udah lama kita menanti film ini. Saat duduk, kita ditawari popcorn yang harganya setengah harga di depan. Haha, ini udah triknya Ka Damar, jajan tuh di dalem jangan di luar :)). Akhirnya kita beli popcorn jumbo 1 dan 2 orang juice dan mengeluarkan hanya 15.000. Sungguh perhitungan banget Ka Damar tuh, sama kaya aku, meskipun aku ga se peka Ka Damar, tapi keren banget. Layar tancep, em, layar proyektor bioskop kali ini lagi iklan film yang "coming soon" sambil cekikikan kita bikin planning buat ntar jadwal nonton selanjutnya. Saat lampu mulai redup, mulai deh berdatangan orang-orang di samping kita. Memang, tadinya barisan kita hanya isi 2 orang, kita doang. Lama-lama penuuh. Aku bisa liat di samping Ka Damar ada seorang cewe, kaya kenal, tapi ga keliatan. Di samping kiri aku ada cowo, cukup macho sih badannya, setipe sama Ka Damar, tapi lebih bidang dadanya. Mungkin karena faktor umur juga kali yaa. Akhirnya, kita nonton dengan enaknya aja. Tapi, Ka Damar sepertinya diajak ngobrol sama cewe sebelahnya. Aku pengen tau tuh cewe siapa, tapi cowo di sebelah kiri aku noel, dan aku dengan sinis dan risih nanya
"Eh, kenapa ya mas?" "Maaf dek, tapi kayanya kita pernah ketemu, tapi dimana ya?" "Mas namanya siapa?" "Bima" "Bima? Saya baru denger nama mas?" "Masa sih? Maaf tapi yaa, nama adek siapa?" "Saya Chila mas" "Chila? Sebentar, saya kenal banyak Chila, lengkapnya?" "Chila Santrilia Lestari" "Santrilia Lestari, hmm oh mungkin karena kamu mirip teman saya aja kali, maaf yaa dek" "Iya mas" "Eh, ini cewe kamu?" "Kamu siapa?" "Saya temen SMP Damar, kenalin, Sisca" "Chila" "Lagi dating nih?" "Haha iya, kamu sendiri aja, Sis?" "Iya Mar, tadinya bareng temen aku, tapi dia gabisa dateng jadi yaa terpaksa sendiri" "Oh, yaudah" "Selamat nonton ya Mar" 

Ngapain nih cowo ada lagiiiiiiiiiiii -__- Sisca ini cewe yang ketemu di Sate Pak Gino waktu itu, inget? Yea, moodbreaker. Akhirnya pun kami selesai nonton. Seperti biasa, kita bercanda dulu, nunggu bioskop selesai. Untuk beberapa saat, aku lupa kalo ada Sisca disana. Saat film selesai kita ngasih komentar masing-masing. Tak lama Mamih nelfon, ngomel karena daritadi telfon ga diangkat. Takut kumat di rumah kali ya gue. Lumayan panas kuping, padahal cuma 5 menit, biasanya sih nelfon 1 menit tuh udah serasa lama, kecuali sama Ka Damar. Dan setelah nutup telfon, aku bisa liat Ka Damar lagi ngobrol sama Sisca yang belum juga keluar dari bioskop. Dan Sisca sama Ka Damar lagi ketawa-ketawa. Aku pun pura-pura balesin BBM aja daripada jadi kambing conge disamping mereka yang asik ketawa-ketiwi dan aku ngga ngerti mereka ngomongin apa. Yang aku tangkep sih, ereka ngomongin pas jaman mereka SMP dan mereka nonton di tempat yang sama kaya orang kampung. Aku dengernya, nyesek. Tau ga, mereka ngobrol berapa menit, ada kali 10 menit, sampe kursi hanya keisi beberapa aja, hanya sepasang muda-mudi yang lagi ngobrol. Aku serasa adik dari kakanya yang lagi pacaran. :'''(. Aku panggil Ka Damar, sampe ada kali 3 kali. Tapi Damar kayanya antara ga denger sama pura-pura ga denger. Aku tau dan bisa liat Sisca ngeliat aku manggil Ka Damar dengan wajah bete. Dan Sisca makin bikin obrolan asik aja supaya Ka Damar ga dengerin aku manggil. Akhirnya aku keluar dari sana, sendirian, jalan cepet banget. Aku gamau liat ke belakang. Aku segera ke toilet. Iya, karena itu adalah satu-satunya tempat Ka Damar ga bisa masuk dan manggil aku, mungkin nyeret aku pulang. Akhirnya, aku diem dalem WC untuk beberapa lama. Aku ga masuk ke toilet, jorok. Aku nunggu di luar toilet, meskipun banyak yang ngantri tapi aku milih wastafel. Aku cuci muka, beberapa kali wajah aku kena air, nutupin air mata sebenernya. Setelah itu aku tarik tisu dari tas, dan aku benerin rambut aku yang kaya orang baru bangun tidur karena lari-lari masuk toilet. Setelah nyisir, I don't know what I have to do next. Dan ga lama, seisi kamar mandi kaget dengan suara pintu yang didorong paksa terbuka. Ada beberapa yang menjerit sambil melihat dengan aneh. Dengan samar aku bisa lihat, Ka Damar ._. Tapi kaya bukan Ka Damar. Wajahnya merah padam, dengan tangan yang dikepal dan baju yang sedikit acak-acakan. Dia menghampiri aku yang ketakutan dengan sosoknya yang berubah, sangat-sangat berubah. Aku mengambil langkah mundur sampai mentok ke tembok, dan aku teriak Tolong! Tapi tanganku terlanjur disahut dengan paksa oleh Ka Damar. Aku ga pernah liat Ka Damar seperti ini. Aku tidak bisa menangis karena sakitnya tanganku dicengkramnya. Aku hanya teriak sambil kesakitan Lepasin Ka! LEPAS!

"KAMU GAUSAH TERIAK TERIAK CAPER! KITA PULANG SEKARANG!" "Kamu siapa sih? Aku ga kenal kamu! AAAAAW!" "DIAM! SEMAKIN KAMU NURUT SEMAKIN GA SAKIT DAN CEPAT KITA PULANG!" 

Sampai di mobil. Aku takut sekali. Sambil memegangi tanganku yang ia tarik, aku menangis. Aku berusaha menahan, sehingga tubuhku menjadi terlihat mengguncang. Ingin sekali rasanya sampai rumah dan cerita ini ke Mamih, tapi Mamih lagi di Jakarta. Kalau bukan Mamih yang nelfon, gaakan diangkat. Mamih sibuk banget kalo udah ke Jakarta. Perutku lapar sekali. Aku bingung harus bagaimana. Sampai depan rumahku, ia tidak membuka kuncinya.

"Udah sampe, buka kuncinya" "Ntar dulu" "Yaudah" 

Aku buka sendiri kuncinya. Tapi dikunci lagi oleh Ka Damar yang lagi kesetana ini. Lalu aku buka lagi kuncinya dan langsung aku keluar. Saat aku keluar, aku bisa mendengar pintu dikunci lagi. Tapi aku langsung tutup pintu yang dalam keadaan kekunci itu. Aku langsung membuka pagar dan lari terbirit-birit masuk rumah. Tapi aku lupa nyimpen kunci di dalem mobil Ka Damar.

"Nyariin ini ya? Disuruh tunggu dulu malah main keluar aja kamu" "Kamu mau apa?!" "Aku mau kamu dengerin aku!!! Kenapa tadi kamu lari dari aku?" "Aku kesel liat kamu ngobrol sama Sisca sampe aku ga diwaro" "Kalo kamu cewe setia, TUNGGUIN DONG! Jangan main keluar aja!" "Iyaa maaf, sekarang boleh aku masuk rumah?" "Sebentar, tau ga rasanya ditinggal gitu aja kaya gimana sakitnya, huh? KAYA GINI!" *BUGG Untuk pertama kalinya aku ditampar dan keras banget. Sampe telinga aku dengung dan aku ga bisa denger untuk beberapa saat. Aku hanya bisa liat Ka Damar, maksudnya, someone noone ini ngoceh depan aku. Dan sejenak aku pusing sekali. Dan aku langsung segera mengambil kunci yang ia jatuhkan dan segera masuk rumah. Aku bisa dengar pintu yang terus digedor gedor dan pagar yang di goyang-goyangin. Itu seram sekali. Aku gakenal dengan Ka Damar yang ini. Ka Damar kenapa? :(

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar