Sabtu, 23 Februari 2013

Recovery, Rewind, Remind

Hari baru, aku tau hari ini aku terbangun di rumah sakit tanpa tau apa yang aku alami.Muncul seorang wanita yang sebenarnya nampak familiar tapi aku tak tau dia siapa. "Kamu siapa?" "Saya ibumu Chila" "Ibu? aku kenapa?" "Kamu kecelakaan sayang" "Kecelakaan apa?" "Mobil" "Ko bisa? aw!" "Kamu masih harus banyak istirahat, Chil" Aku sejenak tertidur.

Sampai pada akhirnya, setelah proses recovery yang cukup alot, aku pun mencoba untuk masuk sekolah. Sedikit membaca-baca buku catatan yang aku tulis sejak kemarin-kemarin. Ibu mengingatkanku bahwa aku terkena gegar otak ringan, artinya semuanya bisa pulih kembali. Aku cukup familiar dengan gegar otak ini. Maka aku pun segera mencari di internet apa sebenarnya gegar otak ringan itu. Akan lebih sulit untuk mengingat memori terdalam. Oke, berarti sebagian besar hal yang aku suka aku akan lupa,artinya, kalo aku ga diingetin apa apa, bisa jadi aku gaakan bahagia. Gimana ceritanya ._. Mamah segera masuk kamar dan memberitahu bahwa ada seorang teman yang datang. Namanya Vicka. Sedikit familiar.

"Aaah, Chilaa akhirnya kamu sembuh jugaa!" "Maaf kamu siapa?" "Aku sahabat kamu bangeet, kita cees bangeet Chil!!" "Hmm hai Vicka, mungkin kamu harus ngingetin aku tentang banyak hal yang pernah kita lakuin" "Oh, aku lupa. Iya Chil, pasti! Aku mau ngasih kamu catetan yang kamu tinggalin selama koma" "Ohiyaa, makasih Vicka, ayo masuk dulu!" "Chil, gimana kamu sekarang? udah enakan?" "Lumayan Vick, setidaknya ga sepusing kemarin-kemarin" "Udah ketemu sama Ka Damar?" "Haduuh siapa lagi ituu?" "Hah?" "Vicka, bisa kesini sebentar?" "Eh, iya Tante.... Ada apa?" "Jangan kasih tau apa apa tentang Damar dulu, Damar ngerasa bersalah sama Chila waktu itu jadi dia gamau Chila tau" "Oh, iya deh Tante" "Kenapa tadi Vick?" "Ngga, terus, ini kimianya, guru PLP nya ganteng banget loh Chil!" "Oya? Haha iyaa deh, kamu kan butuh move on Vick" "Nahloh, Chila udah inget deh" "Iyaa bener haha Alhamdulillah" 

Sudah 2 bulan masuk sekolah. Selalu saja rasanya ada yang kurang, ada yang ganjil. Kaya orang lupa sama makan. Bahkan, saat aku dateng, banyak orang yang nanyain kabar dan kadang aku ga kenal mereka siapa. Termasuk Pa Rus. Saat aku pulang sekolah, Vicka yang mengingatkanku harus ikut kelas olimpiade. Pas aku inget sama Pa Rus, bisa-bisanya amnesia ngalahin Pa Rus -___-
----------------------------------------------------------------------------------------

Kalo dipikir-pikir, terlupakan tuh sakit juga yaa. Chilaa, Chila. you're my drugs right now. Berbulan-bulan ga ada komunikasi, rasanya desperate banget! Yaa meskipun ngga ngurangin semangat aku untuk ngejalanin yang lain, tapi rasanya beda banget kalo gaada kamu Chil. Cerita ini beneran sangat drama meloooow, sinetron banget haha. Tapi namanya orang sayang banget dan sekarang berubah jadi kangen banget. Amnesia, seberapa berpengaruh sih satu hal itu buat seorang yang strong kaya Chila. Ga mungkin dia tiba-tiba lupa tentang sesuatu yang bahkan dia juga mungkin kangenin :) Gatau deh. Kaya dua tahun tanpa Chila meskipun cuma 2 bulan.. "Damar! Kenapa maneh ngelamun aja?!" "Nteu, ngan kitu we lah" "Kangen nyaa? Da nyaah ka Chila ge urang ge taueun atuh Mar" "Haha, kumaha nya, asa.." "Mun teu kiat mah ngomong we atuh" Sialan, orang mulai tau aku kaya gini. Nah, itu Chila. Samperin ngga ya, udah lah, biar dia inget sendiri daripada harus diingetin malah ngedrop lgi ntar tuh anak. Ohiya, waktu Chila diingetin tentang mamah dan Vicka, Chila tekanan darahnya rendah banget, makanya aku ga berani menawarkan diri untuk diingat ingat, meskipun pengen banget.

Sampe di mobil. Mobil, mobil pembawa sial itu loh, Corona yang annoying banget, tetep aku bawa karena pemberian dari Ayah. Meskipun Ayah menawarkan aku untuk membeli mobil baru dan menjual yang ini, aku tetap tidak mau. Ini pemberian Ayah, sudah cacat dan rusak karena aku, tak mungkin aku lepas tanggung jawab begitu saja, at least sampe aku bisa beli mobil sendiri baru aku mau menjual mobil ini. Anggaplah aku membalas hutang Ayah mengenai mobil. Tak lama, sampai di rumah, rasanya ingin sekali aku menangis, saat aku mengingat kejadian di rumah sakit waktu itu....

"Chila sudah siuman" "Alhamdulilllah, benar begitu Ayah?" "Iya, tadi Ayah sempat kesana untuk menjenguk, meskipun masih terlihat seperti orang bingung" "Iyalah pasti" "Kamu mau jenguk?" "Iya Yah, mau sekali" 

Aku merasa sangat semangat sekali. Saking semangatnya sampai aku lupa bahwa Chila amnesia. Saat melihatnya sadar, aku langsung berlari ke arahnya tanpa ingat kakiku, dan itu membuatku hampir terjatuh dan langsung bertumpu pada kasurnya Chila. Saat aku ada di sampingnya, ia hanya melihat dengan ekspresi wajah kebingungan dan sedikit kesal "Ngapain sih? Kamu siapa lagi?" "Eh maaf, salah yaa" Dan Ayahku segera membopohku kembali ke kursi roda dan kembali ke kamar. "Ayah, Damar ingin sendirian dulu, gapapa kan? Ayah makan aja dulu, dari tadi pagi kan Ayah belum makan" "Yasudah, Ayah cari makan dulu yaa, mau nitip apa?" "Ngga mau nitip apa-apa" Yang aku pikirkan hanyalah, itu satu hal yang paling aku takuti dan paling membuatku cemas, dan itu segera terjadi karena kebodohan dan kegegabahanku. Sungguh, rasanya bukan malu karena merasa salah kamar, tapi sakit sekali. Orang yang beberapa hari yang lalu masih berbicara, masih duduk disamping ku du dalam mobil itu, tiba-tiba terbaring disini dengan kondisi tak mengenali orang-orang terdekatnya. Itu sungguh menyakitkan saaat aku akhirnya tahu ini benar-benar akan terjadi. Melihat wajahnya yang begitu sayu dengan kondisi yang sama sekali tidak mengenaliku. Demi apapun rasanya kacau sekali. Kacau sekali. Sampai-sampai di sekolah, setiap aku melihat Chila di Masjid atau sekedar menemani Vicka ke kantin, pasti dia menatapku seolah-olah dia sedang memikirkan suatu hal yang, aku pikir dia tak suka padaku, tatapan dari atas kebawah, dengan sedikit dagu terangkat. Aku tak pernah melihat Chila yang seperti ini. Aku... rindu Chila yang dulu. Aku lihat hape, tak ada sms, biasanya ada 2 sampai 4 sms isinya dari Chila yang kadang curhat, atau protes karena smsnya tak segera aku balas karena aku ketiduran. hmm *Ketawa kecil* Indah sekali sepertinya masa lalu itu. *tikkkk terus saja aku menangis setiap mengingat semua yang sudah aku jalani.

----------------------------------------------------------------------------------------

Dan aku duduk disamping seorang cowo yang sepertinya terlihat pendiam. Tapi aku yakin dia bukan orang yang pendiam. Aku sedikit kesal dengannya karena menabrak kasurku di rumah sakit begitu keras dan membuat aku merasa sangat pusing sekali. Dan aku terheran-heran tenyata dia satu sekolah denganku. Ingin berkenalan, tapi rasanya canggung karena aku terlanjur kesal dan tidak suka dengannya. Tapi setiap aku melihat ataupun memikirkannya, aku bisa merasakan, my heart pumped faster. Aku ga ngerti kenapa, bahkan sekarang saja demikian. Apa mending aku tanya saja dia siapa, sambil mempertanyakan siapa yang sebenarnya dia ingin jenguk saat di rumah sakit itu?

"Kamu, eh, kaka yang kemarin nabrak kasur aku itu kan? Ko bisa ada di rumah sakit yang sama dan ko bisa sampe salah kamar?" "Eh, iya, iyaa maaf yaa, kemarin aku kangen banget sama orang itu, eh taunya salah kamar hehe" "Emang siapa?" "Haha, someone special sih" "Oalah, udah sembuh dia?" "Masih recovery sih, tapi dia kuat kom pasti cepet sembuhnya" "Oh, cepet sembuh yaa" "Iya makasih Chil" "Ko kaka tau nama aku?" "Kamu kan amnesia, kita pernah kenalan kali, berapa bulan kita duduk sebangku terus sampe kaka bosen duduk sama kamu, hahaha" "Ko, kaka nyebelin banget sih, haha" "Maaf tapi memang kita dulu pernah kenal, tapi ka..." "Bentar, nama kaka siapa?" "Kepo banget apa kepo aja nih?" "Serius ka" "Ehm, Damar, Damar Lingga Kusuma" "Oh, salam kenal lagi ka" 

Aku familiar sekali dengan nama ini. Rasanya aku sering sekali mendengar nama ini, Tapi, setelah mendengar namanya, otakku rasanya seperti layaknya knalpot damri yang ngebul, apalagi ditambahin dengan soal-soal olimpiade dari Pa Rus. Sampai pada akhirnya aku harus izin pulang karena kepalaku rasanya begitu sesak. Entah dengan apa.

Aku ambil handphoneku. Hendaknya menelfon Mamih yang pasti mendengar aku izin dan minta dijemput akan histeris dan cerewet ini. Hmmm, Mommy, call.... wait, telfon masuk. Ka Damar. Aku punya kontak dia? Gimana bisa?
"Halo? Ada apa ka?" "Kamu kenapa?" "Kepo banget apa kepo aja?" "Serius Chil" "Haha fotokopian banget sih, aku pusing aja ka, namanya lagi recivery haha" "Mau kaka anter pulang ngga?" "Ngga usah deh, aku baru aja mau nelfon mamah" "Yaudah, kalo ada apa apa telfon kaka aja ya" "Siap letnan!"

Kenapa orang ini perhatian banget. Hus, Mommy, CALL!
"Nomor yang Anda panggil tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi" Yaah malah dimatiin mamih nih gimanaa. Satunya deh "Semangat Pagi! Mommy Chila disini, cuap cuap setelah Beep nya ya! *BEEP" Mooommyyy, gabisa dihubungi banget yak. Eh iya, Mamih kan lagi rapat di Jakarta, mana bisa jemput aku -___-. Siapa yang bisa anter aku pulang.

Aku ke kantin untuk beli teh manis panas, supaya agak mendingan. Dari kejauhan meskipun goyang aku bisa liat ada orang yang berlari ke arah aku. Itu siapa ya? "Chila! Ko belum pulang? Gajadi dijemput?" "Mamih lagi rapat di Jakarta" "Yaudah kaka anter pulang yaa sekarang, kaka ambil tas dulu" "Eh ka, gausah, paling mamih bentar lagi juga pulang, biar bisa dijemput sama temen mamih yang ada di kantor Bandung aja" "Lama, kaka anter pulang yaa. Tunggu sebentar" "Ka, kan masih setengah jam lagi pelajaran" "Tunggu sini." "Ka, gausah" Keburu ngeluyur deh orang itu. Yasudah aku abisin aja dulu teh nya, paling juga ga dibolehin sama Pa Rus pulang, mau ngapain coba haha. "Ayo Chil, kaka anter" "Hah? Dibolehin emang sama Pa Rus?" "Sampe cicak yang ada di kelas juga ngebolehin masa Pa Rus kaya Bidadari ala laki-lakinya ga ngebolehin" "Ngomong apa sih ka ngga ngerti beneran deh hahahahahahahaaaa" "Malah ketawa, yuk pulang, dari pada harus ngegendong kamu keburu pungsan -_-" "Iya iya, naik mobil ka?" "Iya, mau pulang apa mau ke rumah sakit dulu?" "Bosen aku ke rumah sakit mulu, pulang aja ka" "Yaudah, dirumah kamu sendirian lebih resiko, kamu udah makan?" "Sekarang jam berapa sih emang?" "Jam 3" "Oh, aku belum makan sore" "MAKAN SORE?! 4 kali kamu makan sehari sekarang?" "Emang dulu aku makan berapa kali? Kata mamih sih 4 kali" "Sesat, yaudah kamu makan dulu aja, jangan-jangan karena kamu belum makan" "Iya kali ya. Ke rumah makan padang aja deh ka" "Yee, tensi kamu kan bisa tinggi tiba-tiba" "Ko kaka tau?" "Ehm, eh, eemm, iya yaa, kamu kan pendek" "Sialan -_- yaudah terserah kaka aja deh aku pusing banget ka" "Kamu kaya preman ya hahahahha" "Ko ketawa ._." "Ngga, udah tidur aja ntar bangun bangun makan"

Aku juga ga ngerti kenapa aku bisa ceplas ceplos aja sama orang ini. Kaya yang udah kenal deket banget. Dan kaka ini juga ga keberatan aku kaya preman dan ceplas ceplos dan ngejek ngejekin dia dan ngata ngatain dia dan dengan enaknya ditraktir tanpa ngerasa ga enak, dan, nyantai nebeng orang! "Ka, stop stop stop!" "Kenapa kamu?" "Kaka tuh sebenernya siapa sih?" "Emmm, tadi di kelas kita udah kenalan kan?" "Bukan nama, kaka yang siapa?" "Yaa orang yang sebangku sama kamu dan ngebantuin kamu makan sekarang ._." "Aku bingung. Hahhh, masih jauh ngga ka?" "Udah sampe, tuh disana rumah makannya" "Oalah, huuuufffff"

Saat makan disana, dengan reflek Ka Damar langsung pesenin aku Soto Sadang Daging Kuah Bening. Aku bingung sama orang ini, kayanya dia tau segala tentang aku deh, sampe tensi darah aku pun dia tau, apa dia punya sixth sense ya? Mungkin aja. Terlalu pusing aku untuk mikirin hal-hal yang terus muter di otak dan membuat hasil knalpot Damri kebul dan bau itu. Pesenan dateng, aku makan. Sampe abis. Mungkin aku memang kelaperan aja kali yaa, emang jam segini aturan aku udah beres makan.

"Pantes kamu gendutan Chil kalo kamu makan kaya gini terus caranya mah hahaha" "Kaya kaka tau aja dulu aku kaya gimana" "Hmm,  tau dong" "Tuh kan, kaka tuh siapa sih?" "Biarkan waktu yang menjawab, meskipun waktu gapunya mulut. Mbak, billnya" 

Aku ganyangka rasanya kaya mimpi. Banyak banget yaa yang dia tau kayanya dari aku. Dan di dalem mobil ini, seolah aku inget sesuatu, dan ini tuh nyesekkin banget, aku kewalahan untuk nafas. Hingga berkali-kali aku harus menarik nafas dalam dalam, serasa kekurangan oksigen, dingin sekali rasanya.

"Chil, kamu gapapa?" "Ngga ko" "Nih pake jaket kaka aja" "Gausah ka" "Pake aja, kamu sekarat kaya gitu masih mau bilang ngga papam dasar cewe -_-" "Yaudah, makasih ka" "Iya sama sama" "Kaka buka aja yaa kacanya" "Iya" 

Saat dia bilang kaca, dan hembusan angin mengelus wajahku, meskipun campur knalpot, tapi rasanya lebih segar dari tadi. Perjalanan yang cukup jauh karena tempat makan memang daerah Bandung atas, cukup macet lagi. Lelah rasanya di jalan. Kaca aku tutup karena mulai tidak mengenakan, di belakang Bus Damri -_-. AC pun dinyalakan. Ini lebih baik dari pada knalpot. Aku memastikan handphone dalam mode getar agar mamih bisa menghubungi aku dengan segera. Tapi tidak juga. Rasanya bosan sekali dengan macet jalan. Radio yang menyala pun memutar lagu yang memang sedikit menenangkan. Ka Damar mungkin sering mendengar saluran ini. Karena spertinya sejak berangkat hingga sekarang masih Prambors. Aku iseng membuka dasbor. Aku bisa melihat ada bungkus Toblerone White Chocolate. Aku lihat isinya kosong. Mana mungkin ada coklat di dasbor, melted dong-_-. Tapi entah kenapa tubuhku merinding, seperti mendengar symphoni yang indah secara tiba tiba. Lalu aku melihat sebuah truk yang sangat besar berwarna hijau di lajur kiri. Itu mengingatkan aku dengan sesuatu. Dadaku rasanya kembali sesak. Pusing sekali. Rasanya seperti darah tibatiba berhenti mengalir. Sakit sekali. Hingga aku meremat tangan Ka Damar yang memang sedang memegang perseneling gigi mobil. Sejenak mendengung. Hingga beberapa saat, Ka Damar mencoba untuk menyadarkan aku. Aku pun sadar meskipun tidak sepenuhnya. Ia memberiku sebotol air mineral. Aku minum dengan hati-hati dan perlahan. Tiap tetes air yang mengalir di tenggorokanku rasanya sakit sekali. Entah apa yang terjadi dengan tubuhku. Aneh. "Apa yang kamu rasain Chil?" "Pusing, sesek, susah nafas, kesemutan, sakit, sakit semua" "Kita ke rumah sakit aja yaa?" "Gausah, pulang aja ka. Aku ingin tidur" "Yaudah, aku anter pulang, udah deket ko, kamu sabar yaa" "Eh iya ka, telfon Vicka" "Iya, lgi di telfon ko"........................"Vicka, ke rumah Chila, SEKARANG! Udah Chil, kamu tidur aja, masih lumayan macetnya. Bentar lagi kita sampe ko, sabar yaa" "Iyaa ka pelan-pelan aja"

Hilang....... Tidur dengan nyenyaknya. Rasanya enak sekali. Rasanya baru sebentar. Aku bisa merasakan seseorang yang sedang menggendongku. Aku sedikit membuka mata. Kang Damar. Lemas sekali tubuhku. Aku masih memakai jaket Kang Damar yang sedikit kebesaran ku kenakan. Aku mendengar suara Vicka. Pasti dia sudah sampai di rumah lebih dulu. Aku mendengar pintu kamar yang tertutup. Dan suara Vicka yang mencari-cari minyak tawon. Untuk mengurut perlahan kaki, tangan dan memijat pelan kepalaku. Aku baru tahu kalau Vicka memang ahli pijat. Benar benar enak sekali rasanya. Hingga aku tersadar sepenuhnya.

"Chil. kamu kenapa sih?" "Gatau tiba-tiba aja aku begini Vick" "Ka Damar emang ngapain kamu?" "Ngga ngapa-ngapain, ko kamu kenal sama Ka Damar?" "Iya laah, dulu kan kamu sama dia deket banget masa kamu lupa" "Hah?" "Eh, iyaa gitu deh Chil. Yuk, Ka Damar nunggu diluar dari tadi, kasian cape" "Yaampun" -------------------- "Ka Damar masih disini aja? Makasih yaa" "Iyaa sama sama, udah enakan?" "Udah ko, tadi sotonya lumayan ka hehe" "Yaudah kalo gitu, kaka pulang duluan yaa, gaenak gaada mamah kamu" "Iya, makasih loh ka" "Iyaa sama-sama, cepet sembuh Chil"------------------"Chila, kamu beneran gapapa?" "Yaampun Vick, beneran deh beneraaan, Aku baik baik aja. Dirimu masih mau disini? bentar lagi mamih juga pulang nih kayanya" "Iya memang, sampe mamihmuu sampe rumah aja yaa aku pulang, aku mau ngerjain beberapa PR soalnya" "Iya deh, tunggu aja yaa" 

Aku heran, Ka Damar ko sampe segitunya sama aku? Apa dulu aku sama dia pernah ada sesuatu? Rasanya hari ini aku seneng banget bisa ngbrol sama dia, sampe sampe dianter pulang meskipun dengan keadaan demikian. EH sebentar. Jaketnya Ka Damar! Lupa kan jadinya. Aku simpan jaketnya di sampiran kursi belajar, supaya besok aku bisa mengembalikannya. Karena aku anaknya kepoan pasca amnesia, aku bukain sakunya satu persatu. Siapa tau bisa nemu KTPnya atau KP nya hahahaa. Aku bisa nemuin beberapa note yang ditulis pake pensil. Mungkin karena disela-sela pelajaran ada beberapa yang ditlis diatas sobekan buku tulis. Ada yang lecek karena mungkin hendak dibuang tapi lupa, ada juga yang terlipat rapi. Aku baca semuanya. Mulai dari rumus jitu fisika dan matematika. Ada juga yang tulisan. Aku baca tulisannya

How a second could changed my whole life? How could I miss a girl too much like this? This moment could kill me, MY ME

CAN I HAVE A TIME MACHINE? SO I CAN GO BACK TO THE PAST THEN FIX EVERYTHING, FIX MY CAR, or may be, fix her

Allah, please, I miss her so much. I can't stand, just sit down in a silence beside her, twice in a week, then I can't tell anything. Please, don't give me this misery, God

Chila, Chila Santrilia Lestari, tons of love, Swear God I Miss You So Much, it's not enough just see your face from a distance but you can;t recognize me. Wanna hug you tightly and say sorry for makin you like this

Apa maksudnya?

--------------------------------------------------------------------------------

Chila, aku seneng banget hari ini bisa ngobrol sama kamu. Kamu, ya CHILA yang dari dulu aku kenal. Senang sekali rasanya. Itu cukup mengobati rasa kangen aku sama kamu. Bisa menyentuh kamu bahkan ngobrol sama kamu aja udah cukup. Chila, sepertinya memang amnesia ga bisa bunuh kamu ya, kamu tetep kaya kamu yang dulu. Yang "benci" sama aku hahahahaha. Tapi apa jadinya kalo Chila tau tentang semuanya?

Bel pulang udah bunyi. Pasti Chila lagi jalan sama Vicka keluar. Aku kan bisa alibi ngambil jaket aku yang ketinggalan di rumah Chila. "Ka DAMAR!" Bener aja kan.

"Ada apa Chil?" 'Makasih jaketnya" "Sama-sama, biasanya sama Vicka?" "Aku mau ngomong sama kaka" "Ngomong aja, serius banget?" "Ngga disini tapi. Maaf lancang, kaka bawa mobil kan? kita ngomong di mobil kaka aja" "Sekalian kaka anter pulang aja atuh?" "Yaudah deh, Vicka ada remedial, pulangnya masih rada sorean" "Oke deh, yuk caw" ----------------------- "Aku nemu ini di jaket kaka. Aku tau sejak awal, dulu pernah ada sesuatu antara kita. Kenapa kaka ga pernah nongol? Kaka jadi gasuka sama aku yang jadi amnesia?" "Bukan gitu" "Aku tau kita pernah ada apa ka, aku inget semuanya. Tapi kenapa kaka ga ada saat aku emang butuh untuk mengingat semuanya lagi, kenapa kaka gaada?" Bukan kaka gaada Chila" "Apapun namanya kaka emang gaada disana. Setelah aku sadar, kenapa kaka ga ngingetin aku kaka siapa, kenapa ka? Atau kaka malu setelah aku amnesia, kaka malu punya pacar yang amnesia tiba tiba?" "Bukan gitu Chila" "TERUS APA KA?!" Chila nangis kejer "Kaka emang gaada kan?" "Dengerin kaka dulu Chil" "Aku benci sama kaka, aku benci kaka harus sembunyi dibalik amnesia aku ini, sakit ka!" "DENGER KAKA DULU CHIL! Siapa bilang kaka gaada. Kaka selalu tau perkembangan kamu gimana. GImana kamu inget lagi sama mamah kamu, sama Vicka, sama Pa Rus, sama semuanya. Kenapa aku ga pengen kamu inget kaka lagi, soalnya kamu, aku tau gimana kalo kamu tiba-tiba inget sesuatu. Kaya kemarin aja, bahkan kemarin recover kamu yang terparah. Aku tau, amnesia itu gaakan selamanya bikin kamu lupa ama aku. Amnesia itu gaakan ngebunuh Chila aku yang dulu. Tapi aku masih sayang banget sama kamu Chil. Setiap harinya kamu koma, aku jenguk kamu. Kamu denger ngga? Kamu denger ga setiap masuk kamar kamu dan ngebisikkin kalo aku ada disana untuk kamu, aku selalu nangis,karena aku ngerasa bersalah banget sama kamu, aku adalah orang yang paling bersalah dan pantes disalahkan diantara semua yang terlibat. Aku tau dan aku rela itu, aku bisa terima semuanya. Tapi aku paling ga bisa terima kalo kamu sampe kaya kemarin di kamar ICU, saat aku tau dan harus terima kenyataan kalau kamu harus lupa sama aku, itu berat banget buat aku Chil, seumur hidup aku, aku gapernah nangis karena cewe selain karena kamu dan ibu aku sendiri Chil. Kesiksa rasanya pas di kamar ICU, saat kamu sadar dan aku nabrak kasur kamu dan nanya aku siapa dengan kesalnya, itu hal yang paling sakit yang pernah aku lewatin. 1 hari itu, aku bener bener desprate. Kamu gatau gimana kejernya aku nangis karena aku inget kamu Chil, inget kamu yang ga kenal aku, kamu yang ga kaya dulu dihadapan aku. Itu kenyataan yang paling sakit. Tapi aku terima, dibanding kamu harus susah payah nginget aku dan ngerasain gimana rasanya koma, 2 bulan tanpa kamu itu hukuman yang paling cukup untuk aku yang lalai jagain kamu. 2 bulan itu aku disiksa Chil. Sakit banget rasanya liat orang yang paling aku sayang justru malah lupa sama aku. Aku pengen banget ngajak kamu ngomong, tapi aku tau resikonya dan aku lebih baik ngalah. Aku selalu ada sebenernya dibelakang kamu. Aku tau nilai ulangan kamu, aku yang nyuruh Vicka dateng ke rumah kamu untuk ngasih catetan yang kamu tinggal selama kamu koma. Tiap detiknya aku inget sama kamu dan berat banget, 2 bulan ini hampir aku pengen bunuh diri rasanya. Aku sayang sama kamu Chil. Aku rela kamu lupa sama aku meskipun aku gaakan pernah lupa. Yang penting aku masih bisa jagain kamu......*tik* Inget kan?" 

Kami terlarut dalam tangis kami masing-masing. Sampai akhirnya, Chila merengkuh di tangan Damar, tangan Damar dierat seerat-eratnya. Dan Damar yang mengelus rambut wanita yang paling disayanginya setelah Ibunya ini. Mereka pun terlarut dalam haru masing-masing dan masih tak percaya mereka bisa melepas rindunya masing masing. Masih tak percaya mereka bisa se lebay ini. Hingga akhirnya mereka menjalani hari seperti biasa. Tanpa ada beban seperti 2 bulan terkahir Damar dan Chila yang menyiksa batin itu~

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar