Sabtu, 16 Februari 2013

Corona 1990, X, dan Ice Cream

Sudah bertahun-tahun, rasanya hanya beberapa hari lamanya. Sekarang status pelajarku sedikit bertambah derajat, Siswa kelas XI. Artinya, Mas Damar udah sibuk jadi anak kelas 3, ketos, dan atlit aktif yang harus tanding sana-sini. Aku sih tinggal mainin peran dibalik hape aja buat nyemangatin dia. Alhamdulillah beberapa pertandingan dia menang, meskipun akhirnya juga kalah, dia sempet drop, berkali-kali aku memastikan ke dia kalo semuanya pasti baik-baik aja dan itulah yang terbaik. Emang bener, peran KETOSnya membuat dia sibuk banget buat nge-MOSS anak-anak baru, dan dia kelas 3, beberapa tugas juga aku bantuin, sekedar nge-print atau ngejilid, malah sempet aku bikinin dia makalah yang konsepnya dia kasih, karena Mas Damar bukan tipe orang yang pandai merangkai kata untuk ditulis. Makanya dia ga pernah ngasih aku surat cinta, dia hanya pintar bertutur kata, dengan segala tata krama dan kesopanannya. Yuhuw!

Mas Damar kali ini bener-bener stuck pada satu hal yang bahkan aku ga ngerti kenapa dia harus mikirin terus tentang hal ini. Semenjak peristiwa penganiayaan, perkosaan, dan percobaan pembunuhan yang semuanya direncanakan, meskipun Ka Fajar udah di DO dan di penjara, Mas Damar masih takut banget. Apalagi sekarang dia udah sibuk, aku jadi orang paling gaenak, soalnya aku pernah denger dari seorang guru yang cukup judes "Da si Damar mah sekarang kerjaannya mikiran Chila we terus" aku inget banget kata-kata itu, mulai guru bahasa Indonesia aku yang bilang itu, aku mulai bingung karena makin ngerasa dijagain banget. Apalagi, sekarang kita cuma bener-bener bisa ngobrol dan pulang bareng hari Senin, Rabu dan Jum'at, sisanya dia harus les dan kadang-kadang ada latihan badminton atau voli. Aku sedikit cemas sama kesibukannya sekarang.

Tibalah hari Jum'at, mulai kelas XII sih Mas Damar sekarang naik mobil karena kebanyakan buku dan peralatan olahraga dia ada di mobil, jadi yaa ga ada motor lagi. "Ka, aku pengen ngomong dong" "Ngomong aja Chil, serius amat pake awalan kaya gitu" "Aku ngerasa kamu overprotective banget, tunggu dulu, jangan dipotong, tapi aku ngerti kenapa, aku pengen terimakasih banget sama Ka Damar, tapi it's too much karena sekarang aku mulai cemas sama hal-hal yang Ka Damar sekarang hadepin, ga cuma program MOSS, tanding voli sama badminton, tapi kuliah kamu, Ka. Aku ga pengen nambah-nambahin beban kamu. Aku ngerti ko ini kewajiban, tapi tolong, kali ini kewajban ini hars di nomor sekiankan. Bukan artinya aku gasuka diginiin, aku suka banget, tapi aku pikir, masa depan kaka lebih berharga dibanding aku. Kalo aku bisa jaga diri, sekarang aku juga ada Vicka, menurut aku dia cukup nemenin aku belakangan ini, setelah kejadian itu, kamu lagi gabisa nganter aku pulang, yaa aku nebeng Vicka. I'm OK Ka Damar, jangan tambah beban kamu lagi ya, plis" "Chil, liat mata aku, sebenernya aku kaya gini bukan karena kejadian itu, tapi karena aku takut hal itu terulang lagi, hal itu harus kamu rasain lagi, aku juga takut rasa bersalah aku, semua perasaan aku saat itu akan terulang lagi, jujur aku gabisa ngejalanin semua itu, Chil. Sekarang bukan saatnya kamu mengalah karena segala hal yang aku hadepin sekarang, semua keputusan yang aku ambil, seharusnya aku bisa mempertanggung jawabkan semuanya. Toh, aku merhatiin kamu, keputusan aku yang lain ga berubah, aku tetep ngejalanin semua kewajiban aku, tapi untuk memindahkan kamu dari nomer 3 di skala prioritas aku, satu keputusan yang bisa-bisa mengubah semua nomer-nomer yang lain, It could ruin the whole scale, Chil. Tolong, jangan anggep kamu tuh beban buat aku, kamu justru vitamin buat aku, kalo bukan aku yang ngelakuin semua itu, siapa lagi Chil? Plis" Speechless.. Karena aku bisa liat matanya yang berkaca-kaca "Chil, kalau memang ada hal selain itu, jangan pernah berpikir bahwa mencintai kamu adalah hal paling salah dihidup aku. Yang bisa memutuskan sesuatu yang aku anggap benar ya cuma aku, kamu udah ngasih aku yang menurut aku udah segalanya, biarkan aku membalas semuanya" "Ka Damar, bukannya aku menyalahkan, bukannya aku pamrih, tapi jujur, pertama kali aku ketemu kaka, ekspektasi aku hanya kaka kenal sama aku. Semua yang kita lakuin bareng selama ini, adalah mimpi aku yang udah kamu bikin seperti kenyataan. Anggaplah semua ini pun lebih dari yang aku pengen. Terimakasih ka, semua yang kaka kasih itu lebih dari yang ada di setiap ucap doa 5 waktuku. Tanpa aku minta, kaka kasih semuanya, semua yang suliiit banget bisa kita lewatin, aku ga raguin itu lagi, you've spent your times to taking care of me, but now it's my time to do "thanks" things, buat aku ngebales semua yang kaka kasih" "Aku tau, tapi aku pikir lebih baik kamu pikirin lagi maksud yang pengen kamu omongin, tapi kalo memang ini jawabannya, kamu gapernah ganggu aku, mau orang ngomong apapun aku bakal ngebuktiin sama kamu kalo mencintai kamu dan kamu memberikan perasaan yang sama, adalah suplemen buat aku... Chila" "Iya, Damar, aku juga sayang sama kamu. Tapi kaka ta..." "Iya Chila, aku tau, aku ngerti, kita hanya teman, yang memiliki perasaan yang sama, iya Chila"

Obrolan di mobil itu, benar-benar obrolan yang paling menenangkan hati. Semenjak saat itu, aku bisa ngerasa Ka Damar sedikit mengurangi protectnya, dan aku, semakin semangat buat ngebantu dia. Meskipun hanya bawain alat badmintonnya maupun alat volinya, ataupun sekedar ngelap keringet dia doang, meskipun aku nontonin dia latihan sambil bawa-bawa laptop karena bikinin makalah buat Ka Damar, dan tugas-tugas aku sendiri. Sama sekali ngga ngerasa cape, karena semuanya aku lakuin bersama sesuatu yang aku senangi.

"Chil, udah sore nih, belum ashar, mampir PUSDAI dulu gapapa ya? Atau mau shalat di rumah kamu aja?" "Emm, di PUSDAI aja deh, takut ga keburu" "Oke" Kami sempatkan shalat di PUSDAI. Hal pertama dan pikiran paling jauh saat pertama kalinya kaki aku memijak masjid itu. Mungkinkah aku akan menikah disini? Dengan orang pilihanku, dengan jodohku? Atau justru benar-benar hanya impian semata? Semua pertanyaan itu, aku tanyakan kepada waktu, pasti nantinya waktu yang akan menjawab. Atau malah, umurku tidak menyempatkan aku untuk menikah? Entahlah. Wallahualam.

Setelah itu, aku sempat merasa tak enak saat membuka pintu mobil. Satu hal yang, aneh sekali, rasanya tiap laju mobil ini aku merasa semakin takut. "Chil, kamu ga papa?" "Emm, jalannya pelan-pelan aja yaa ka" "Iyaa tenang ajaa" Dan aku langsung terlelap, entah air wudhu itu selalu membawaku ke titik paling nyaman, apalagi kalau di mobil, pasti ngantuk banget. Setiap mobil berhenti aku pasti terbangun. Ka Damar stay cool aja karena dia tau banget pasti aku bakal ngelakuin hal itu, dan setelah tau berenti yaa tidur lagi hoho. Sampailah di jalan terbesar se Bandung raya. Aku bangun disini. Ada satu hal yang aku rasa salah dan mengganjal. "Ka Damar, plis pelan-pelas" "Ini kan lajur kanan, harus lebih cepet dong Chilaa gimana nih" "Emm yaudah hati-hati yaa" Saat setelah itu aku bisa melihat ada sebuah truk berhenti. Aku bisa lihat jelas itu berhenti, tapi di lajur kanan. Mungkin bannya kempes atau memang mogok. Tapi aku bisa ngerasain mobil sama sekali tidak mengurangi kecepatan. "Ka Damar, depan ada truk berhenti lo" "Iyaa kaka tau" "YAA REM DONG" "Ini lagi nge rem Chil" "Ka Damar, liat, badan aku ga maju, kaka jangan becanda disini ga lucu" "Kaka Ga Becanda Chila!" "Ambil lajur kiri kaaa" "Chila AWAS!" BRUG BRUG BRUG BRUG

------------------------------------------------------------------------------------------------

Lagi. Yang harus jadi korban tuh selalu Chila. Aku yang jadi cowo bego apa emang ini murni kecelakaan. Sadar-sadar udah ada di UGD rumah sakit. Aku yang ga bisa banget gerakin tangan kiri, dan kepala bagian kanan aku yang biru karena terbentur stir, dan beberapa luka lecet karena kena serpihan kaca mobil. Tapi, mana Chila? "Sus, cewe yang sama saya, Chila" "Sedang ditangani dokter, Mas jangan khawatir" "Tapi dia baik-baik aja kan?" "Sedang diperiksa, Mas" Sialan, aku ditabrak apa!

Beberapa jam kemudian, Ayah, Bunda, dan Femi, adik perempuan aku dateng, tapi ga hanya bertiga, dua orang berseragam coklat ada di belakang mereka, ga mungkin nih anak-anak Pramuka sekolah gue pada dateng kan becanda, mereka polisi "Ananda Damar?" "Iya Pak" "Kami butuh keterangan Anda untuk mencari sumber kecelakaan ini" "Sebentar pak, ada korban?" "Hanya perempuan yang ada di mobil Anda" "Maaf pak, saya benar-benar ga tau saya ditabrak apa" "Tapi kami butuh keterangan Anda guna pemeriksaan, bisa menjelaskan kronologi yang Anda ketahui?" "Seinget saya, rem saya blong, sedangkan di depan ada truk yang sedang mogok. Saat saya mau ngerem, rem ga berfungsi, lalu Chila ngasih tau saya untuk ambil kiri, karena kepepet deket sama truknya saya langsung ambil kiri, tapi saya gatau kalau dibelakang ada mobil juga" "Sebenarnya bukan mobil mas, mas ditabrak truk. 2 truk itu kami tilang karena melaju diatas jam 6 pagi." "Astaghfirullah, kalo gitu truk itu termasuk truk besar dong Pak?" "Iya mas, maka dari itu kami sedang menyelidiki apakah ada unsur kesengajaan, kelalaian, atau murni kecelakaan" "Bapa bisa periksa mobil saya, rem saya benar-benar blong" "Kami sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut, 2 truk itu ikut kami sita. Hasilnya bisa dilihat 1 minggu terhitung hari ini." "Baik, terima kasih pak" Aku masih ga habis pikir, bagaimana ceritanya aku bisa selamat setelah kepepet 2 truk besar dengan mobil sedan Corona '90. Deg, bagaimana kabar Chila?

"Yah, Bun, Chila gimana?" "Sudah, urusin luka kamu dulu, tangan kiri kamu patah masih mau mikirin Chila" "Serius, Bun, aku yang nyetir, aku yang salah, aku udah janji tapi malah aku langgar sendiri" "Ini hanya kecelakaan, Damar." "Bunda, tolong, aku ingin jenguk Chila, sebentar saja" "Baiklah. Ayah antar. Shh, gapapa Bun" Ga sabar liat Chila, tapi masih gatau apa yang bakal aku omongin ke Chila. "Yah ko kesini?" "Memang Chila disini" "Tapi kan UGD disana Yah?" "Chila udah ga di UGD lagi" Astaghfirullah, dia dimana? Pikiranku sudah tak karuan. Masa iya aku ngebunuh dia? Ya Allaah beri hamba kekuatan "Yah, Chila kenapa?" "Dia, kamu juga nanti tau sendiri ko" Sampailah di sebuah gang yang bisa aku lihat, suasananya sepi, dan Ruang ICU "Yah, Chila masuk ICU?" "Ibu, permisi, Damar ngotot mau jenguk Chila" "Damar, kamu sudah gapapa?" "Tante, m..m..maafkan Damar, gabisa ngejaga Chila." "Ngga papa, Nak Damar, tante tau ini cuma kecelakaan, itu kejadiannya sore kan? Chila sempet shalat ashar kan?" "Kebetulan tante, kami baru pulang dari PUSDAI untuk shalat." "Alhamdulillah kalo gitu tante sedikit tenang" "Damar masuk dulu tante" "Silahkan" Harus pake baju steril segala. YaAllah, Chila...

Di dalem ruangannya sejuk, ngga dingin, ngga panas juga. Yang aku liat cuma beberapa alat yang aku ga ngerti itu apa. Sudah disiapin alat pacu jantung juga. Ada beberapa selang infus. Mulai langkah kaki pertama, aku udah ga sanggup liatnya. Chila, yang periang itu, sekarang hanya tergolek lemah dengan banyak sekali lecet bekas serpihan kaca di wajahnya. Kaki dan tangannya dibaut gips, selang yang masuk ke hidung dan mulutnya. Bisa aku lihat, sepertinya lukanya yang paling parah adalah kepalanya. YaAllah, beri hamba kekuatan, beri  Chila yang terbaik. Untuk pertama kalinya, aku bisa sentuh jemarinya, sama sekali tak ada respon. Aku ingin sekali memeluk dia, tapi aku tau aku bisa saja dikutuk sama Chila yang cerewet ini. Sentuh jari aja baru sekarang ini. Aku menyentuh hanya untuk memastikan bahwa dia tau kalau aku menjenguknya, entah dia tau atau tidak. Ngiik, "Damar, maaf tante masuk, Chila koma".............................................................................................................
Hanya dengan mendengar itu, cukup membuatku merasa desperate. Rasanya tak ada lagi semangat hidup. Chila, maaf, baru aku ucap janji aku tak bisa menjalankannya. Chila, maaf, harusnya aku dengerin kamu. Chila, maaf, saat itu aku harus membentak kamu. Chila, maaf, aku sudah membuat kamu, menjadi seperti ini lagi.

"Tante, kenapa?" "Benturan keras di kepala, salah satu yang bikin dia koma. Kemungkinan besar dia gegar otak. Meskipun bukan gegar otak yang membuat dia lupa semuanya. Tapi tante yakin, Chila bisa saja lupa sama kita. Tapi dia tidak akan kehilangan otak kecerdasannya. Tante ga begitu ngerti tapi yang jelas, dia sejenak akan lupa kita semua dan terapinya bisa sampai 1 bulan untuk Chila sanggup masuk sekolah" "1 bulan tante?" "Iya, itupun terhitung saat Chila siuman nanti" "Tante, maafkan Damar" "Sudahlah, mungkin ada hikmahnya, Dam" "Bagaimana dengan biayanya?" "Gausah dipikir, masih ada asuransi. Dan ayahnya Chila besok akan pulang." "Kalau boleh, saya ingin bertemu Om, saya ingin minta maaf" "Boleh, tapi Om juga bilang ngga papa kok" "Maaf sekali tante" "Iya Damar, tante bisa ngerti dan tante bisa tau kejadiannya. Memang 2 truk itu yang aneh" "Jadi nanti Chila bisa-bisa ga kenal Damar tante?" "Bisa saja, Mar. Tapi suatu saat nanti, dia pasti mencari kamu. Yang sabar Mar"

Aku paling ga bisa nerima hal kaya gini. Ah bego banget aku. "Damar, Ayah mau tanya sama kamu, mobil kamu masih mau urus?" "Mungkin masih, Yah, itu juga kan Ayah yang beli, aku jadi gaenak" "Yaudah, masih ada asuransi juga jadi kitapaling nambah satu juta buat administrasi" "Itu urusan gampang Yah, sekarang Chila gimana? Kalo Damar sendirian sih Damar pasti langsung urus mobil" "Yang sabar Damar, Ayah ngerti, nanti Ayah urus asuransi aja kamu tinggal urus mobilnya masuk ke asuransi yaa" "Assalamu'alaikum" "Walaikumsalam, eh Pak Sobari, apa kabar Pak? Wah lagi ngumpul nih dateng semua pasukannya?" "Haha iya Pak, mumpung hari Sabtu Pak, gimana?" Aku pura-pura tidur saja. Tapi karena aku tidak pinter akting, jadi aku bangun. Tapi aku kaget karena ada anaknya Pak Sobari yang sedang berdiri tepat disebelahku sambil memperhatikanku. Aku bisa tau dia pasti seumuran denganku. "Hai, namanya siapa?" "Saya Raka mas" Lalu aku kaget karena dia berbisik "Saya tau semua jawaban yang ada di kepala kamu" Saya merasa ini sedikit horor, tapi saya hanya balas senyum, begitu juga dia. Lalu, sebelum Pak Sobari pamit, Raka memberikan aku PINnya. Aku pikir anak ini homo. Tapi yasudah lah, aku terima dan langsung aku invite. Namanya bagus sekali. Raka Putra Sat Indera Pamungkas. Aku berpikir, Sat dan Indera, 6 dan inera, sekejap aku tahu bahwa dia punya indera ke 6. Makanya omongan dia agak horor. Setelah mereka semua pulang, aku langsung tidur. Dan setelah aku tidur, aku bermimpi Chila dan aku bisa lihat ada Raka disana. Aku langsung terbangun, seolah itu adalah mimpi buruk, padahal bukan sama sekali. Langsung saja "Raka, kamu masih bangun" Aku kaget karena hanya dia membalas dengan menit yang sama alias hanya beberapa detik setelah chat aku deliv "Masih, have a bad but great dream?" "Iya, ko tau" "Saya tau semuanya, perlu saya bicarakan ke kamu?" "Perlu banget" "Tapi lebih enak kalo ngomong langsung, kalo disini saya takut kamu gabisa tidur" "Oke deh, besok ada acara?" "Kebetulan sekolah saya libur, sedang ada rapat gurunya, besok pagi gimana?" "Oke makasih banget Ka" "Sama sama bro, tidur nyenyak siap-siap buat besok"

Ini esok harinya. Sebenarnya setelah aku matiin hape, aku langsung tidur, nyenyak sekali. Lalu dipagi hari, saya diminta untuk mandi dan segera sarapan. Kalau saja kamu tanya ke semua suster, saya adalah orang yang paling kepo sedunia Sus, Chila udah makan? Sus, kira-kira Chila ada perkembangan ngga? Sus, Chila udah di mandiin? Sus, Chila udah diganti cairan infusnya? Sus, ada yang jenguk Chila ngga? Pokonya sampe aku bisa liat wajah kesal dari para suster nan katanya sih sabar itu. Lalu sekitar jam 9, Raka datang, seiring dengan Bunda yang hendak berangkat ke kantornya. Jadi aku ditemani Raka dan hanya berdua. Sedikit merasa canggung dan tidak normal, tapi saya masih sadar saya bukan homo kok. Tak lama dia segera membuka pembicaraan tentang inti ceritanya. "Mar, lu udah siap?" "Bismillah, Ka. Yang penting gua ga sendiri sekarang" "Oke. Omongan gue ini bisa lu buktiin, Mar." "Gue siap sama segala konsekuensinya kalo itu maksud lo" "Oke. Chila itu sebenernya cewe yang taught banget, karena ada yang memberinya energi tersendiri. Chila sejak di kandungan ibunya sudah diserang dengan ilmu hitam dari mantan pacar Ayahnya, dia iri karena Ayah Ibunya Chila bahagia banget, tapi nyatanya, Chila lahir normal, selamat, dan sehat. Ibunya juga selamat. Itu semua karena Penjaga Chila ini, sebut sama X, X ini sifatnya menolak bala, jadi, sejak di kandungan, X ini sudah menjaga Chila. Sebenarnya, X ini dulunya menjaga Ibunya, menjaga Neneknya Chila. Jadi nanti, kalau Chila hamil, X ini akan berpindah menjaga anaknya Chila, kalau perempuan, makanya Neneknya anak tunggal, Ibunya Chila anak tunggal, Chila juga anak tunggal, karena X ini hanya bisa jaga 1 perempuan. Kecuali anak keduanya laki-laki, gaakan ada penjaganya karena laki-laki dianggap sudah menjadi penjaga. Seiring Chila besar, Chila makin ngerti tentang laki-laki, hingga membuat X makin menjauh sama Chila, karena dianggap Chila sudah ada penjaga baru, yaitu kamu Mar. Tapi, X ini tetap membantu Chila dikala kritis. Saya tau ceritanya Chila yang di Lembang itu, Dia diselametin sama X ini, kalo ngga saya jamin dia ga bisa tidur di ICU sekarang." "Kamu jangan bercanda Ka" "Saya serius, saya bisa lihat sejarah dan masa depan orang lain. Dan Mar, lo jangan desperate dari sekarang, karena gua jamin sama lo 100% semuanya bakal baik-baik aja, tapi tergantung keteguhan hati kamu, kamu yakin tentang Chila, yaa Chila dapet tenaga tersendiri. Biasanya memori seseorang yang terdalam itu akan membuat energi tersendiri untuk orang itu. Memori terdalam Chila itu hanya Allah, Ibunya, Ayahnya, dan kamu Damar. Kamu akan menjadi kekuatan tersendiri buat Chila, inget, lo optimis, Chila juga bakal optimis" "Iya, gue ngerti Ka, makasih banget." "Lo masih perlu bukti?" "Hmm boleh, gue bisa komunikasi juga ga sama dia?" "Bisa, malah gue berharap itu terjadi" "Oke, gue siap" Aku bisa merasa bahwa ada sesuatu yang membuat mataku terasa berbeda, dan dadaku sedikit sesak. Itu terjadi hanya sekejap, kemudian aku merasa normal kembali. Lalu dia mengajakku ke ruang Chila dirawat. Aku bisa liat ada Ibunya yang sedang sarapan di ruang tunggu. Aku izin dengan Ibunya, dan bismillah, "Mar, ini yang terberat, kamu harus kuat" "Iya amin Ka" "Tapi ini ga akan parah-parah banget, hanya kamu akan sedikit kaget" "Iyaa gue siap Ka" Saat lewat ruangan Chila, aku bisa lihat seseorang berdiri tepat disamping Chila. Dia nampak seperti, seseorang yang sangat tegap. Dia bercahaya, dan saat aku melihatnya dia senyum, lalu aku balas senyum dan mulailah komunikasi "Hai, kamu siapa?" "Sepertinya semua sudah dijelaskan oleh Nak Raka, Damar" "Oh, baiklah, apakah saya mengganggu" "Tidak, kamu sudah membantu saya menjaga Chila, tapi saya datang saat semuanya diluar kuasa kamu" "Terimakasih" "Saya senang membantu dan dibantu Nak Damar" Itu adalah pertama kalinya aku berkoneksi dengan sesuatu yang tidak satu dimensi denganku. Aku senang sekali rasanya, sekaligus reda. Karena aku bisa tidak terlalu mencemaskan mengenai Chila. Pikiranku sejenak ringan. Dan itu cukup untuk terapi dan memikirkan mengenai urusan polisi dan mobil. Tapi saya tetap kepo ke suster-suster yang merawat saya, mau susterawan susterwati, abis kalo cowo, masa dipanggil sus?

Tiba-tiba, saya terpikirkan tentang es krim. Iya, Chila suka sekali es krim. Kalo aku bawain itu ke kamarnya pasti dia seneng banget. Tanpa harus aku suapin juga kayanya dia bakal seneng banget. Yaa setidaknya diwakilin, aku cukup menceritakan rasanya aja buat Chila. Halo Chila sayang, lagi mimpi apa yaa? Pasti mimpiin aku yaa haha. Aku lagi bawa eskrim nih, aku yakin kamu pasti udah cerewet pengen minta. Aku wakilin aja yaa. Hmmm enak banget, rasa coklat vanila, ada chocochipsnyaa Chil, ini siih kesukaan kamu bangeet, hmm ada lelehan coklatnya juga loh Chil, enaaaak banget, aku abisin gapapa yaa. Nanti kalo udah sadar aku janji bakal beliin kamu eskrim ini. Yang sama merk, yang lebih banyak, kalo perlu 1 liter buat kamu sendiri deh. Tik, nangis lagi, ini nyentuh emosi aku banget Chila, entah apa nanti yang akan kamu katakan saat kamu  sadar nanti. Tapi aku sungguh gabisa ngeliat kamu yang ga kenal sama aku. Aku gakuat kalau nantinya saat kamu ngeliat aku kamu nanya siapa aku. Aku gabisa kalau setiap hari aku jalanin sendirian, tanpa kamu yang nyemangatin aku, atapun yang bawain barang-barang olahraga aku, bantuin bikin makalah. Aku kangen banget sama kamu. Aku kangen cerianya kamu, cerewetnya kamu, bawelnya kamu, lucunya kamu, konyolnya kamu, dan aku pasti kangen banget main kartu dan popmie sambil nunggu hujan. Dan pasti nantinya motor dan mobil aku sepi gaada kamu, mungkin motor sama mobil aku juga kangen sama kamu. Chil, aku gatau nantinya apa yang akan aku omongin ke kamu saat kamu sudah sadar nanti. Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu Chil. Kangeen banget. Tapi aku tetep sayang sama kamu, aku bakalan tetep jagain kamu meskipun kamu ga kenal aku, aku bakal tetep semangat, sama seperti saat kamu nyemangatin aku. Aku bakal rewind semua kata-kata support kamu buat aku, aku gayakin bisa kuat tanpa kamu, tapi aku harus kuat supaya kamu kuat, sama kaya yang Raka omongin. Aku udah ketemu sama X, dia baik banget ternyata, mungkin kamu juga baru tau, tapi aku udah gabisa lagi liat dia karena semua hilang saat aku tertidur. Chila, banyak hal yang ingin aku ceritain ke kamu, tapi....... Ingin rasanya aku cium kening kamu, tapi gabisa. Aku bakal tetep sabar jagain kamu seutuhnya milik aku. Aku yakin kamu orangnya Chil, aku yakin kamu masa depan aku. Aku yakin, kamu adalah perempuan yang aku tunggu-tunggu. Sampai ketemu nanti sayang, sampai memori kamu pulih lagi." Aku keluar ruang ICU dan sangat bergegas karena aku malu orang-orang ngelait aku, cowo, nangis sesenggukan. Sampe ruangan, ternyata ada Vicka dan Banu, wakil ketos aku. Aku kaget dan mereka langsung nyamperin aku yang diatas kursi roda dan meringis karena gakuat nahan nangis. Banu langsung nyamperin dan langsung meluk, pecah semuanya, bisa-bisa aku dalam kondisi kaya gitu sekitar 20 menit sampe akhirnya aku ceritain semuanya ke mereka berdua. Aku bisa liat wajah sendu dan mata berkaca mereka. Sumpah, hari ini sulit banget.

Malemnya, aku dapet kabar, alhamdulillah Chila ada perkembangan, dia mulai ngegerakin tangan tapi belum sadar penuh.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar