Sabtu, 04 Mei 2013

Have A Nice Dream

"Chila? Ada telfon dari mamih nih" "Iyaa, halo mamih? Kapan balik? Kangen nih miih masa harus diperpanjang lagiii" "Iyaa Chila, maafin mamih, 1 minggu aja kok yaa, kan udah ada Ka Firman sama mamahnya di rumah. Tenang aja yaa, mamih harus berangkat nih tamu dari Venice udah dateng, take care dear!" "Iya deh mah, love u mom, assalamu'alaikum" "Walaikumsalam" 

Hari pertama aku stay di rumah, sakit, tapi ga sendirian. Aku seneng Ka Firman ada disini. Oh iyaa, belum tau kan? Mamih setuju aku di rumah sama Ka Firman dan Ibunya. Mamih diem-diem e-mail aku. Mamih bilang bakal biayain kuliahnya Ka Firman kalo usaha dan seminarnya mamih di Jakarta kali ini sukses. Aku seneng denger antusias mamih sampe segininya, dan aku setuju. Kalo aku terus-terusan sendirian di rumah bisa-bisa aku jadi korban... Ah sudahlah, ngeri ngebayanginnya, jaman sekarang emang udah banyak kasus seperti itu. Emang, kiamat sepertinya sudah dekat.

Masakan Ibunya Ka Firman enak banget. Sup ayam pake tempe goreng. Udah paling top aja deh. Kali ini aku manggilnya Ibu. Gaenak kalo terus-terusan manggil tante tapi serumah. Masakan Ibu tuh enak semuanya.

Pertama kali Ibu dan Ka Firman masuk rumah ini, mereka sedikit kebingungan. Karena suasana yang ga biasa dan bener-bener sepi banget. Dengan kondisi aku yang kesakitan mungkin sangat tidak membantu. Ka Firman kebingungan mencari dimana stock obat-obatan, hingga akhirnya ia membelinya di apotek dekat rumah yang 24 jam. Perban, antiseptik, plester, minyak kayu putih, balsem, kapas, alkohol 60%, kaya mau pindahan apotek aja semua diborong. Dia terus-terusan nanyain aku yang sakit yang mana. Tapi aku bener-bener linglung ga bisa ngomong apa-apa. Ka Firman terus bilang sama aku untuk istighfar dan tetep sadar. Memang itu salah satu hal yang harus banget dilakuin. Sekalinya pingsan, bisa kemana deh tuh. Akhirnya Ka Firman berhasil, setidaknya membopong aku ke kamar, dan Ibunya yang menggantikan aku baju dan membalur beberapa bagian yang memar dan luka. Sakit rasanya, tapi tubuhku tak bereaksi apa-apa, hanya sakit. Setelah Ibunya membuka pintu kamar, Ka Firman masuk dan menanyakan apapun yang aku butuhkan. Tapi aku benar-benar butuh tidur saat itu. Setelah aku beritahu KaFirman ada obat yang mungkin perlu aku minum untuk mengurangi rasa sakit, dan antibiotik agar tak ada infeksi. Setelah aku minum aku langsung terlelap. Ibu yang sedari tadi membelai rambutku membuat alam bawah sadar semakin dekat denganku. Memang ini cara paling ampuh untuk membuat aku tidur.

Sudah makan sarapan pertama dengan perut, tangan, serta pipi bagian bawah yang memar, saatnya baca novel. Mungkin ini bisa mengobati. Bareng sama Ka Firman tentunya yang juga lagi baca novel. Aku ga ngerti itu novel apa, kayanya emang berat banget. Ibu sedari tadi mindah-mindah channel TV kabel, mungkin karena ga ngerti kali apa yang dia tonton. Tapi sekali-sekali dia berhenti menekan tombol remote karena acaranya masih bisa cukup dimengerti.

"Aku laper nih" "Ampun Chil, baru juga makan" "Pengen yang seger-seger deh" "Ibu bikinin es bulbul mau?" "Wah boleh banget, Bu. Emang Ibu bisa bikinnya?" "Bisa ko, di kulkas kamu masih ada tuh pepaya, melon, sama mangga. Sayang kalo dibuang, sebentar yaa" "Asiiiiiik, aw aw aw" "Makanyaa jangan semangat bangeet udah tau lagi sakit masih aja kamu banyak polah, Chil hahahaha" "IIh, Ka Firman jahat banget sih" "Firman tuh lagi godain kamu Chil, bukan jahat hahaha" "Ibu jugaa niih, aw tapi beneran ini sakit banget" "Apanya Chil? Perutnya?" "Iyaa, pengen muntah" "Yaudah yuk ke toilet dulu" "Kok ambigu yaa, mmwwrrgghh" "Udah bawel, yuk!"

Aku curiga ini kena uluh hati. Ini sedikit aneh, tapi wajar setelah kejadian semalem. Ka Firman selanjutnya membawa aku ke rumah sakit. Pesan taksi, semua beres. Kemudian, kami daftar ke dokter internist. Kenalannya mamih nih. Aku telfon mamih dan segera minta ke dokternya kalo aku ini urgent. Sepanjang perjalanan aku ga berenti mual. Ibu sengaja di rumah. Siapa tau ada orang yang ke rumah. Lagipula di rumah akan jauh lebih aman karena Satpam juga sudah menunggu di depan gerbang. Satu-satunya gerbang masuk komplek maksudnyaa. Ka Firman dengan panik membopongku menuju kursi roda yang segera diberikan oleh satpam rumah sakit. Selanjutnya langsung masuk ke ruang internist. Dokter Danu namanya. Aku sudah cukup kenal dengan beliau. Makanya aku tak sungkan untuk langsung menceritakan apa yang aku alami. Tanpa aku ceritakan dengan lengkap, Dokter Danu sudah bisa menulis resep. Karena Dokter sudah tau yang terjadi denganku. Kemudian tubuhku di cek oleh susternya. Suster langsung menyebut beberapa istilah yang aku tak mengerti dan Dokter Danu segera mencatatnya. Dan kami segera mendapat obat, obat oles dan obat dalam. Penasaran, Ka Firman tak ragu bertanya.

"Jadi, Dok, Chila ini kenapa?" "Mungkin karena benturannya kena uluh hatinya, jadi belakangan ini akan sering mual, tapi kalau ada obat ini tak akan selama jika dibiarkan. Memarnya juga mungkin hanya beberapa hari akan hilang." "Tapi gaada luka serius kan, Dok?" "Iya memang tidak ada yang terlalu mengena ke dalam selain itu tadi. Tapi kalau mualnya sudah lebih dari 5 hari kembali lagi yaa" "Iya, Dok. Makasih yaa." "Sama-sama Chil, salam ke Ibuumu yaa" "Siap, Dokter!"

"Hadeh, Chil. Deg degan aku kalo liat kamu sakit." "Ko deg degan. biasa aja kalii, gue kan strong!" "Strong dari mana tadi aja muntah-muntah kaya kemasukkan apa aja serem" "Kemasukkan apa emang kaa? =))" "Ngga apa, udah lupain. Mau kemana kita sekarang?" "Hmm, aku pengen tidur ka, ngantuk banget" "Yaudah" "Tapi jalannya masih jauh" "Yaa tidur aja disini susah banget" "Susah emang, kan sakit" "Tuh katanya strong" "Iya deng, yaudah aku tidur dulu yaa" 

Tanpa basa-basi aku pun langsung terlelap. Enak sekali. Sampai akhirnya aku terbangun di atas kasur. Aku bisa melihat jam. Waw, jam 11. Lalu aku keluar kamar sambil jalan terpincang karena perut yang sakit. Aku melihat Ka Firman yang segera menyambutku. Reflek Ka Firman tuh selallu gitu deh. Langsung ngebantu aku duduk di depan TV dengan es bulbul dan roti bakar.

"Ibu pergi dulu tadi, ada panggilan nyetrika baju tetangga, jadi tadi kaka anterin kesana. Baru aja pulang" "Oh gitu? Aku.... gananya loh!" "Pengumuman doang kok yee" "Kaka ga minat masuk TNI yaa?" "Minat sih, tapi mau kuliah dulu, kalo udah kuliah mau jadi apa juga gampang. Udah megang ijazah sama bekel ilmu kan lebih luas link kerjanya nanti" "Iya sih, bener juga ka. Kuliah jurusan apa ka pengennya?" "Pengennya TI, atau mungkin HI, atau mungkin juga Tekhnik Sipil" "Tehniknya 2, kenapa UNPAD ga ITB" "Kalo UNPAD kaka pengennya HI, kalo tehniknya yaa ITB lah jelas. Tapi kaka lebih tertarik masuk HI" "Kalo menurut aku, biar link kerja kaka makin luas justru TI ka, bisa diterima dimana aja, bidang apa aja, dan tempat duduknya pun buat orang yang ga sembarangan" "Setuju sih, yah, dana aja belum ada. Ntar dipikirin lagi." "Oke deh, kaka kapan berangkat hari ini?" "Aturan jam 10 kaka masuk, sampe jam 5 sore. Jangan kangen yaa" "Idih pede bener jadi orang" "Liat aja ntar juga kangeen hahahhaa, udah tuh dimakan, cuma kamu yang belum makan" "Iya, ko es bulbulnya ada 2?" "Yang satu punya kaka, yang dingin. Yang punya kamu yang anget! =)))" "Iiiih ko anget?" "Kan kamu lagi sakit Chil" "Kan aku strong kaa" "Bodo amat, mau strong mau ngga yang penting sakit!" "Iiih nyebelin. Mana orang ga anget juga, dinginnya biasa aja" "Emang ahahaha" "Kaka gila ya?" "Iyaa tergila-gila sama kamu hahahaha" "Hus, ntar jadi beneran lagi" "Jadi gamau kaka yang gila sama kamu?" "Ngga, serem" "Yaudah deh. Fine" "Ngambek, jangan nangis. Nih minum bulbulnya. Aw!!" "Jangan sosoan ngambilin deeh bisa ngambil sendiri ko, atau mual lagi" "Ngga mual. Cuma sakit aja. TAPI STRONG!!!" "Iya deh, cepet makan. Bawel"

Pagi ini, pertama kalinya aku bangun tidur dan langsung ketawa ketawa ditemenin orang sekece, sepinter, sekocak Ka Firman. Rasanya, beda banget. Dan hal ini bikin aku lupa tentang, Ka Damar.

"Ka, menurutmu, Ka Damar apa kabarnya yaa sekarang?" "Mungkin dia udah jadi monster kali" "Mungkin aja, tapi aku masih kasian sama dia." "Kasian kenapa?" "Dia kaya gitu kan belum tentu dia yang pengen. Belum tentu juga dia sadar ngelakuin itu?" "Masih mungkin sih, tapi apa iya Damar diguna-guna?" "Mungkin aja sih, tapi aku ngga pernah tau tuh cewe latar belakangnya apa. Siapa tau turunan mbah dukun yang ilmunya ga abis abis 7 turunan" "Mungkin juga dia turunan ke 8 jadi ilmunya ngaco" "Ngomong apa sih ka, ngga nyambung" "Biarin yang penting kaka bersuara, kalo diem aja ntar kamu ngambek" "Haha iya bener. Aku telfon dia aja gitu ya ka?" "Boleh aja. Mumpung situasinya masih aman" "Occeee." "Loud Speaker yaa" 

"Halo" "Assalamualaikum" "Ini siapa?" "Ini Chila" "Oh, ada apa nelfon?" "Apa kabar ka?" "Baik" "Ooh. Hmm, gimana sama Ka Sisca?" "Baik" "Ooh, besok sekolah ka?" "Iya" "Boleh minta tolong ngga sampein ke piket aku sakit. Surat nyusul" "Aku bilangnya kamu sakit apa?" "Demam ka" "Oke" "Makasih ka, assalamualaikum" *tep

Aku tau, Ka Firman bisa ngeliat wajah sedih dan hopeless aku. Tapi mungkin, Ka Firman juga sakit ngeliat aku yang masih ngeharepin Ka Damar. Mungkin juga Ka Firman ikut kesel sama Damar yang kaya gitu.

"Besok, aku anter kamu sekolah, aku jemput kamu sekolah. Oke?" "Oke deh" "Udah gausah sedih" "Aku ga sedih" "Bohong banget" "Emang ngga" "Iya tapi kangen kan?" "Hmmm" "Udah ga usah nangis jugaa" "Nyesek kaa" "Iya emang nyesek. Sama nyeseknya waktu kaka liat kamu dipukulin kaya gitu" "Iya mungkin ka. Ah yaudah, lupain aja" "Tapi kita musti tetep bikin Damar balik" "Caranya? Kalo Damar balik trus tau tentang kita?" "Emang kita kenapa, Chil?" "Gapapa sih. Menurut kaka?" "Mungkin harus dipikirin lagi. Kalo gitu kaka tanya sekarang sama kamu. Kita ini apa sih? Maksudnya, hubungan kita ini apa?" "Aku juga ga ngerti ka. Kalo  dibilang sama kaya aku sama Damar dulu. Mungkin mendekati." "Kamu lebih nyaman sama aku atau sama dia?" "Nanyanya  jangan kaya di FTV gitu dong ka" "Iyaa tapi kamu harus jawab ini" "Mungkin aku harus pertimbangin juga ka" "Kalo emang kamu serius sama dia mending jangan sama kaka. Sebelum kaka terlanjur terlalu jauh sama kamu. Kalo memang kamu lebih nyaman ama kaka kita seriusin. Kita hadepin Damar bareng-bareng" "Tapi kalo aku milih dia, kita gimana? Trus kalo kita seriusin, ngadepin Damar gimana?" "Kita baik-baik aja. Yaa terserah kamu mau kaya gimana. Kaka sih bukan tipe orang yang berubah karena patah hati juga. Ngadepin Damar, yaa kita usahain supaya kita tetep bareng bertiga, kaya waktu itu" "Aku bingung ka. Aku takut didepan kaka dan di depan Damar bilang hal yang sama karena kebawa suasana" "Yaa makanya kamu pikirin baik-baik. Gausah sekarang jawabnya. Siapa tau kamu dapet hidayah" "Hidayah, serem banget" "Iya, ntar kamu disinari sinar ilhami dan otak kamu cerah trus kamu dapet jawabannya" "NGARANG! HAHAHA"

Semoga aja Senin besok luka ini udah ilang. Setidaknya memarnya udah ga keliatan lagi. Trus masalah kelas Olim, aku masih bisa mikir kalo hal itu aman soalnya itu kan di kelas, mana mungkin Damar mau macem-macem. Besok dianter Ka Firman. Apa ngga aneh nantinya? Mungkin juga ngga, kan Damar sama Sisca. Tapi aku kangen banget sama Damar yang asli. Aku tau ini bukan Damar banget. Ini udah maghrib ko Ka Firman belum pulang yaa? Ah mungkin ngajar ke rumah muridnya kali.

Ini udah jam 9 masih aja Ka Firman belum balik. Aku makin curiga. Apa aku telfon aja yaa?

Jam 10. Ka Firman belum juga bisa ditelfon dan ga pulang-pulang. Aku bingun dia kenapa sebenernya. Perasaan aku aneh banget.

TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOK TOKKKK!!!

"Siapa disana?" "Chila cepet buka! Ini Firman!" "Iyaa." klek klek

"Aw, kaka kenapaa?" "Masuk dulu Chil, kunci pintunya!" "Kaka kenapa? Motornya mana?" "Motor kaka tinggal di depan gerbang." "Kaka dipukulin siapa?" "DAMAR! DIA DI POS SATPAM!" "Hah? Satpam kemana?" "Gatau kaka juga. Telfon Pak RT!"............"Assalamualaikum Pak, Satpam kemana pak?" "Mungkin karena sedang ada hajat di komplek belakang jadi jaga komplek belakang" "Loh Pak, terus yang jaga di depan siapa?" "Oke, saya kontak Satpam pos depan sebentar" "SEGERA YA PAK!" "Telfon mamih juga yaa ka. Ibuuu! Ka Firman tolong sebentar aku mau telfon mamih dulu Bu" "Iyaa Chil. Yaampun Firmaan kamu kenapa nak?" "Damar, Bu, ada di depan tadi" "Kaka dari mana aja sih di telfon ga diangkat?" "Aku tadi ngajar di deket rumah sana. Terus hape aku low jadi kalo angkat telfon langsung mati pasti. Terus pas tadi di depan kaka liat mobil dari belakang nabrak kaka. Terus kaka jatoh, kaka berdiriin motor kaka pas banget di samping Pos Satpam. Kaka juga bingung ko gaada Satpam di depan. Yang naik mobil turun, taunya si Damar. Dia langsung dorong aku terus dia mukulin aku. Aku masih sempet bales terus langsung lari kesini. Makanya aku gedor gedor." "Terus sekarang apa yang sakit, Nak?" "Perut tadi sempet dia tendang, Bu. Terus pipi nih ke tonjok, tapi langsung Firman bales lagi" "Yaampun, pake obat yang kemarin aja ya?" "Gausah, Bu, itu obat buat Chila. Udah gapapa, ini ga seberapa dibanding Chila yang kemarin" "Yaampun ka, itu obat kaka juga yang beliin, udah pake aja, aku juga udah mendingan ko" "Udah gapapa Chil. Mamih gimana?" "Ngga ngangkat juga telfonnya. Sekarang memang jam nya mamah meeting sama investor luar" "Yaudah, lagian mamih juga ga perlu tau" "Terus motornya?" "Biar di Pos Satpam dulu. Dikunci kok. Coba telfon Pak RT lagi" "Iya bener... Assalamu'alaikum Pak, gimana?" "Iya Satpam depan sudah di pos depan. Ada motornya Mas Firman yaa mbak?" "Iya Pak memang. Apa ada orang disana?" "Satpam juga nanya ini motor siapa soalnya gaada orang disana." Yasudah, makasih pak" "Sama sama. Atau perlu motornya dibawain ke rumah?" "Oh boleh, Pak. Kuncinya ambil saja di rumah" "Iya nanti satpam ke rumah. Assalamualaikum" "Waalaikum salam, makasih Pak" 

Aku bingung. Mau sampai kapan dia nyiksa orang. Tapi aku juga belum tau Sisca itu siapa. Atau aku minta tolong sama Vicka cari tau Sisca itu siapa?! Iya banget! Vicka tuh kan pinter IT, kenapa aku bego banget!

"Halo Vick, boleh minta tolong?" "Apa Chil?" "Cari tau tentang seseorang. Temennya Damar" "Oh Sisca itu?" "Iya Vick. Cepet ya!" "Emang kenapa Chil?" "Urgent Vick. Kita semua ngerasa kaya diteror. Plis cepet Vick plis" "Oke oke. Aku cari lewat Damar, pasti ada Sisca terus.." "It's all about you, Vick.Aku gamau tau prosesnya gimana plis cepet!" "Oke Chil. Telfon aku 3 jam lagi oke?" "Oke!"

Sambil nunggu kabar dari Vicka, aku ngobatin Ka Firman. Ibu bukain bajunya. Aku ambil beberapa obat yang mungkin perlu Ka Firman pake. Pas aku balik badan dan ngeliat Ka Firman yang telanjang dada aku speechless. Aku diem. Badannya tuh, emang harusnya dia jadi tentara kayanya. Keren banget. Keker, emang kaya keliatannya tiap hari. Ga nyangka orang kaya gini jadi petugas di POM bensin.

"Chil?" "Eh iya, Bu. Aduh maaf. Ini obatnya" "Ibu ambilin minum dulu saja, kamu olesin ini ke Firman" "Iya, Bu" "Makasih yaa Chil" "Iyaa ga papa, sakit ga ka?" "Sakit sih, tapi sama kamu diobatinnya, semoga makin cepet sembuh deh yaa" "Haha apaan sih. Mana lagi yang kena?" "Sini Chil, pipi kanan" "Aw, keras banget yaa ka?" "Ga sekeras kaya ke kamu waktu itu, masih bisa ketahan. Kamu kemarin kaka liat banget dia mukulnya kaya orang kesetanan" "Haha udah gausah diinget-inget" "Iyaa Chil, aw pelan pelan" "Ini udah pelan-pelan baweeeel!!! Udah nih beres" "Bener nih mbak suster?" "Iya beneer" "Oke deh, makasih yaa" "Iyaa sama sama. Ngapain ngeliatin aku kaya gitu? Biasa aja kalii" "Haha ga papa. Biasanya aku diginiin sama ibu, baru sekarang diperhatiin sama cewe kaya kamu" "Hus ngelantur aja. Tuh ibu udah bawain minum" "Ini Man., diminum dulu. Udah ga papa kan?" "Udah lumayan, Bu" "Terus sekarang mau apa? Tidur?" "Iya. Tapi kaka tidur disini aja yaa" "Ko disini?" "Iya siapa tau kenapa kenapa. Tadi aja satpam ga di depan" "Iya sih. Tapi apa ngga di kamar aja?" "Ah, sama aja kalo tidur juga sama sama merem. Udah ga papa" "Iya kan lu strong yaa haha, aku ngantuk ka" "Yaudaj tidur aja, Ibu juga tidur aja, jangan nonton telenovela" "Hah? Telenovela apa ka?" "Iyaa nontonin kita Chil" "Haha bisa aja kamu. Udah Nak Chila tidur aja. Ibu juga mau tidur ini. Tapi nunggu motornya dulu" "Yaudah, tidur duluan yaa" 

"KAMU TAU APA?! AKU TUH SAYANG SAMA KAMU TAPI KAMU BEGO!" "BEGO APA, MAR?" "BEGO KAMU MALAH SAMA TUKANG BENSIN KAYA DIA" "BIAR, TUKANG BENSIN JUGA MASIH PUNYA PERASAAN GA KAYA KAMU!!!" 

Brug!! Jatoh. sakit bangeeeet!! Cuma mimpi. Udah lagi jatuh dari kasur -_-

Aku langsung balik tidur lagi. Tapi aku malah gabisa tidur. Aku langsung keluar kamar. Hujan deres banget ternyata. Aku ambil minum sebentar. Ngelewatin sofa yang dipake Ka Firman tidur. Setelah minum aku balik ke kamar. Tapi, mana mungkin aku bisa tidur sendiri dengan kondisi ujan deres kaya gini. Aku langsung ke ruang tengah. Aku nontonn TV di samping sofa yang dipake Ka Firman tidur. Aku bisa denger eluhan Ka Firman. Aku pikir dia emang lagi mimpi. Tapi lama-lama ko ga berenti berenti yaa?

"Ka Firman? Ka?" "AH!.....Eh Chila" "Kaka badannya panas. Tidur di kamar aja Ka" "Ngga disini aja. Kamu kenapa belum tidur, udah jam 1" "Aku mimpi jelek, jadi aku minum terus nonton tv sambil nunggu ujan reda" "Ooh, eerrgghhmmm aw" "Masih sakit ka?" "Iya masih" "Aku ambiliin air anget ya" "Boleh deh, makasih Chil" "Nih, sama sama" "Film apa ini Chil?" "Hunger Game" "Keren kayanya" "Emang. Tentang cewe sama cowo, dijadiin kaya gladiator gitu di hutan bikinan ilmuwan dan stasiun TV terus dijadiin tontonan. Sedih banget" "Sadis?" "Bisa dibilang. Antara saling ngebunuh sama dibunuh oleh alam, tapi alamnya aja dibikinin sama orang" "Parah banget." 

"Yaah udah abis, ngegantung bangeet!" "Iya Chil, ada lanjutannya?" "Ada, Mocking Bird gitu kalo gasalah" "Oh, kalo ntar ada itu kita nonton yuk" "Haha ada novelnya kali Kaa" "Wah iya? Mau beli ah nanti" "Kaka badannya masih panas?" "Udah ngga ko" "Mana sini? Masih panas tauuuu" "KAta siapa?" "Kata aku, kalo aku mau goreng telor tingga simpen wajan di atas jidat kaka ceplokin telor mateng nih" "Haha masa sih?" "Udah Ka tidur, udah jam 3" "Iyaa, kamujuga" "Tapi aku susah tidur kalo ujan gini ka" "Yaudah temenin kaka aja disini" "Haha siapa takut" "Chil?" "Kenapa ka?" "Aku sayang banget sama kamu" "Aku tau ka, kaka gausah bilang sama aku juga aku tau" "Kamu gimana?" "Gimana apa ka?" "Ah, ngga deh, lupakan, malem Chil" "Malem kaa" "Cewe kaka dulu suka kaya gitu" "Maksudnya? Kaka mau share?" "Iya. Cewe kaka dulu namanya Triska. Dia cantik, tapi mungkin kaka hanya jatuh cinta sama cantiknya, bukan sama hatinya. Kita cuma langgeng 5 bulan. Bulan pertama sih seneng banget. Mulai masuk bulan kedua kaka mulai curiga sama dia. Emang bener ternyata, dia jadian sama orang lain. Mungkin tau kaka ngga tajir. Ga kaya cowonya yang sampe sekarang masih bareng sama dia. Ternyata dia cuma jatuh cinta sama otak kaka, bukan sama kaka" "Yah, jaman sekarang gitu ka. Cinta bisa jadi temen, bisa juga jadi musuh" "Semoga kamu gaakan jadi musuh kaka ya" "Kenapa ka?" "Kaka tau, mungkin kamu fisik sama kaka, tapi hati kamu masih ada Damar. Kaka gabisa masuk kesana karena masih ada dia. Tapi Chil, kalo kamu tau. Baru kali ini aku diperhatiin sama cewe sampe segininya. Mungkin kalo nanti kamu bakal milih Damar, kaka bakal susah banget buat ngelupain kamu, Chil" "Kenapa kaa?" "Because, I only knew about the meaning of happy word, but I didn't. Since I met you, I'm starting to realize what happiness mean, what happinnes feels like, and I knew that when I saw your eyes, I can feel warmth, peace, every nice things, also love. You're the real cutest girl ever. And I fall in love wit everything inside you, Chila. I won't disturb what you will decide later, but I really need you. Not because of these stuffs, but it's like, I need my suplements, and I don't know what I will be if you're not here" "I see. But, it's time for you to sleep, you need it. I'll stay here for you till morning if you need me" "Thanks, Chil"

Udah jam 4, aku belum juga ngantuk. Ka Firman sih udah tidur. Tapi badannya masih panas terus dan dia ga berenti ngelindur. Kayanya emang sakit banget deh. Tangan aku yang sedari tadi ga berenti dia genggam karena dia mulai menggigil. Akhirnya sambil aku usap rambutnya aku tarik selimutnya agar sampai ke bawah dagunya. Lindurannya pun berhenti. Ditambah aku yang jadi ngantuk karena terus terusan ngusap rambut Ka Firman. Beautiful night. I also need you, Ka. Actually, I don't know what I will be if you're not here. Aku cium keningnya yang hangat demam, dan aku menyandarkan kepalaku di keningnya yang hangat, dengan tangan kiriku yang masih ia genggam dengan erat. Have a nice dream...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar